Cerpen

Cerpen: Memoar Rindu Santri. Bag dua. Selesai

Tanpa terasa, sudah satu jam lebih Raihan mengajak sahabatnya itu mengelilingi beberapa tempat baru di kota kecil Taliwang. Athar nampak masih terpukau dengan kemajuan tanah kelahirannya itu. Sesekali ia menayakan nama-nama bangunan baru yang menjulang kokoh di sudut jalan.

“Kenapa banyak sekali bangunan-bangunan baru, menjulang megah Han? Siapa pemilik gedung-gedung itu?” Athar nampak penasaran ingin mendengar jawaban teman akrabnya.

“Aku juga tidak tahu Tar, kenapa gedung megah itu ada di sini. Aku ini tukang ojek jalanan, kerjaanku ya antar penumpang sampai ke rumahnya. Setelah itu, aku balik lagi ke terminal, itu pun kalau aku dapat penumpang, tapi kalau tidak bagaimana aku akan bayar kredit motor ini Tar?”

Raihan berbicara panjang lebar. Tanpa ia sadari ucapannya adalah curhatan hati sulitnya menjadi seorang tukang ojek. Sebuah profesi konservatif yang tidak memberikan jaminan kekayaan.

“Maaf Han, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya penasaran, kenapa gedung megah itu dibangun d isini? Padahal gedung-gedung itu bukan jaminan rakyat sejahtera. Bagiku gedung-gedung itu adalah lambang ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat kecil. Adanya gedung itu, cikal-bakal munculnya para koruptor berdasi. Gedung megah itu lahan empuk mereka. Dan bangunan itulah yang telah merenggut kebersamaan kita dulu Han!”

Athar bercakap tiba-tiba penuh emosi, ia tidak tahan melihat bangunan besar dan tembok-tembok kokoh menggusur tanaman-tanaman hijau sepanjang jalan menuju desanya.

“Kamu adalah harapan masyarakat kita Tar!” Raihan menyela sesaat.

“Maksudmu apa Han?” Timpal Athar

“Sebagai seorang sahabat, aku bangga punya teman sepertimu. Kamu bisa sekolah ke tanah Jawa. Aku yakin, suatu saat setelah kamu tamat sekolah dan kuliah di tanah Jawa, kamu pasti akan menjadi orang besar. Dan, ketika nanti kamu telah menjadi orang besar, kamulah yang punya tanggung jawab menyelesaikan masalah ini.

Jika kelak kamu menjadi seorang pejabat, berpangkat berkedudukan, ingat selalu amanah itu Tar, kau pegang dan jalankan dengan sebaik-baiknya. Gunakan kekuasaan dan wewenangmu untuk membela rakyat kecil. Bukan sebaliknya, kamu tindas dan peras masyarakat. Jangan lupa itu pesanku Tar. Sekali lagi. jangan kau lupakan sahabatmu ini, Raihan. Agus Raihan”

Raihan nampak lebih semangat dan berkaca-kaca saat mengutarakan harapan dan unek-uneknya selama ini kepada Athar sahabatnya. Athar tidak mau menyela, dibiarkan sahabatnya itu terus bergumal. Sesekali Athar mencerna kata-kata Raihan. Begitulah realitas yang terjadi. Para pejabat pemegang kekuasaan hanya bisa memperkaya diri. Rakyat melarat, namun pejabat hidup terhormat.

Tanpa terasa percakapan mereka hampir usai. Beberapa menit kemudian Athar telah sampai di depan rumahnya.

“Terimakasih Han, kau telah mengatar aku sampai ke rumah. Jika kau libur mengojek, mampirlah ke rumahku. Aku ingin kau ajak aku mendaki Mantar, desa yang terkenal dengan keturunan Albino itu”.

“Kalau Ustad Athar yang minta aku tidak bisa menolak!” Sahut Raihan sambil memeluk erat sahabatnya itu.

Assalamualaikum Ustad, aku pamit dulu”

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarkatuh”

Sesaat kemudian mereka saling mendekap erat dan berpisah.

Related posts

Embun Pagi di Tanah Rabbani (Bag. Tiga)

Sofian Hadi

Embun Pagi di Tanah Rabbani (Bag. Delapan)

Sofian Hadi

Penyakit Anak Zaman Now

Sofian Hadi

Cerpen: Memoar Rindu Santri. Bag satu

Sofian Hadi

Embun Pagi di Tanah Rabbani (Bag. Tujuh)

Sofian Hadi

Embun Pagi di Tanah Rabbani (Bag. Sembilan)

Sofian Hadi

Leave a Comment

<p>You cannot copy content of this page</p>