Idul Fitri Batuter
Hikmah

Idul Fitri: Tentang Memaafkan, Melupakan, dan Menjaga Hati

Di malam penuh takbir menggema, langit berseru dalam bisikan lembut. Namun tak semua hati turut bahagia, sebab ada luka yang diam-diam menyelimuti hidup.

Pernah memberi tanpa pamrih, menjadi pelita dalam malam yang sunyi. Tangan terbuka, langkah mengiring, namun lenyap jejak kala terang menyinari bumi.

Tak pernah berharap imbalan dunia, hanya ingin dihargai sekadarnya saja. Namun ketika ajakan bicara dijawab sunyi, ketulusan pun larut dalam sepi yang menyayat hati.

Wahai jiwa yang merasa tersisih, Bukan keliru bila engkau tetap baik, tak salah bila engkau setia. Namun dunia kadang menilai dengan kaca retak.

إِنَّ اللهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)

Kebaikan bukan untuk panggung dunia, melainkan penyejuk hati yang setia. Tak semua balasan turun di sini, karena Allah menyimpannya di tempat yang abadi.

Pernah terlintas harapan untuk berbicara, dari hati ke hati, tanpa topeng dunia. Namun tak semua niat mendapat sambutan, ketulusan pun kadang terdiam dalam kehampaan.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa berbuat kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)

Maka jangan tangisi jalan kebaikan. Tiada satu pun yang sia-sia. Allah mencatat tiap langkah dan getaran perasaan, dan kelak menggantinya dengan cahaya.

إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-A’raf: 128)

Idul Fitri bukan sekadar pakaian baru, tapi hati yang telah belajar memaafkan. Bukan sekadar senyum di bibir yang palsu, tapi menerima luka sebagai tanda kekuatan.

Yang sungguh menang, bukan yang berpesta. Tapi yang tetap mendoakan meski tersakiti. Yang tetap tenang meski dilupakan, yang tetap sabar meski tak dihargai.

Kita belajar dari luka yang berbicara, bahwa kebaikan pun perlu batas dan arah. Bahwa lemah-lembut tak berarti lemah, dan menjaga hati juga termasuk ibadah.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Kami pasti memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl: 96)

Silaturahmi tetaplah utama, namun menjaga diri pun tak kalah mulia. Karena mencintai diri dengan bijaksana, adalah bentuk taqwa yang tersembunyi nilainya.

“Tidak halal bagi seorang Muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari…”
(HR. Abu Dawud)

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمْ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113)

Jika hatimu kini sepi dan sendiri, yakinlah Allah tak pernah abai. Dia Maha Mendengar bisik nurani, dan kelak mengganti sunyi dengan damai.

Taqabbalallahu minna wa minkum, wahai jiwa-jiwa yang tulus. Semoga lebaran ini melahirkan jiwa yang baru: bukan hanya pemaaf yang lembut, tapi penjaga hati, yang kini tahu arah yang lurus.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Minal ‘Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Related posts

Keyakinan sosok Abu Darda Uwaimir al-Anshari

Sofian Hadi

Muhasabah; Level Taqwa kita di Mana?

Sofian Hadi

Taliwang Kembali Diterjang Banjir: Sabar atau Pasrah?

Sofian Hadi

Nilai Peradaban Islam yang di Rampas

Sofian Hadi

MENYOAL ‘MAKNA’ IDUL FITRI: Renungan Ringan Saat Mudik Lebaran

Sofian Hadi

Selalu Bersyukur

Sofian Hadi

1 comment

Batuter March 30, 2025 at 1:17 am

Seberapa sering kita merasa tersakiti namun tetap memilih untuk memaafkan? Mari berbagi pengalaman tentang bagaimana luka-luka itu justru mengantarkan kita pada kedamaian hati yang lebih dalam.

Reply

Leave a Comment

<p>You cannot copy content of this page</p>