Bulan Ramadhan tahun ini telah memasuki 10 (sepuluh) hari terakhir. Sudah 20 (dua puluh) hari puasa telah kita tunaikan. Kita berharap semoga 20 (dua puluh) hari yang telah berlalu, amal ibadah puasa kita diterima Allah Swt. Serta, kita senantiasa berdo’a kepada Allah, agar ibadah di 10 (sepuluh) malam terakhir bulan suci Ramadhan ini, dapat kita tuntaskan dengan maksimal.
Berikut keutamaan 10 (sepuluh) malam terakhir di bulan suci Ramadhan. Khususnya, ada 1 (satu) malam yakni malam Lailatul Qadar. Berikut ulasannya.
Pentingnya 10 Malam Terakhir di Bulan Ramadan
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih (HR. Bukhari No. 2024/Muslim No. 1174).
Hadits ini menerangkan bahwa pada 10 malam terakhir Ramadhan Rasulullah Saw benar-benar, bersunguh-sungguh, fokus melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Sosok baginda Rasulullah Saw menjadikan 10 malam terakhir di bulan Ramadhan menjadi malam penting dari malam-malam lainnya.
Teladan yang diberikan Rasulullah Saw dalam menghadapi 10 malam terakhir di bulan Ramadhan adalah contoh terbaik yang diberikan manusia terbaik. Rasulullah Saw mengencangkan sarung dan ikat pinggang beliau artinya ajakan agar jangan sampai lengah, jangan sampai lalai di 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
Seolah-olah beliau mengingatkan kepada kita “Wahai kaum Mukminin tingkatkan kualitas iman, amal, taat, ibadah, taqarrub, i’tikaf, dan ajaklah anggota keluarga kalian untuk ibadah kepada Allah. Jangan sampai merungi (muflis) Ramadhan datang pada kalian, namun ibadah, amal, ampunan tidak kalian dapatkan”.
Demikian penting pesan yang hendak di sampaikan Rasulullah Saw kepada kita Umatnya. Mengingat 10 malam terakhir bulan Ramadhan juga terdapat malam yang “diberkahi” yakni malam Lailatul Qadar.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi…” (QS. Ad-Dukhaan: 3)
Dalam keterangan Imam Ibnu Katsir (774 H) berkata, “(Malam yang diberkahi) itulah Lailatul Qadr, (yang terjadi) pada bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan merupakan waktu yang istimewa bagi umat Islam khususnya bagi orang-orang yang beriman. Dikenal sebagai bulan suci, Ramadhan adalah saat di mana umat Muslim menjalankan ibadah puasa, memperbanyak amal, dan meningkatkan kualitas kekhusu’an dalam beribadah. Dalam konteks ini, 10 malam terakhir bulan Ramadan dianggap sangat penting, mengingat banyaknya keutamaan yang ditawarkan, termasuk pencarian Lailatul Qadar, malam yang agung dan penuh dengan berkah.
Malam Lailatul Qadar, menurut ajaran Islam, diyakini sebagai malam di mana al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Malam ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai lebih baik dari seribu bulan, yang menunjukkan betapa istimewanya momen tersebut. Oleh karenanya, di sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam didorong untuk lebih giat dalam beribadah dan beramal, agar bisa meraih keberkahan dari malam Lailatul Qadar.
Sebagian besar hadits mengisyaratkan pentingnya mencari Lailatul Qadar pada malam-malam tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada malam yang lebih baik daripada malam ini dalam hal pengampunan dosa dan peningkatan pahala. Para shoimin dan shoimat dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, seperti shalat malam, iktikaf, dan membaca al-Qur’an, serta melakukan do’a dan istighfar dalam 10 malam penting ini.
Selama sepuluh hari terakhir, umat Islam juga disunnahkan berusaha untuk melakukan iktikaf, yaitu mengasingkan diri di masjid, dengan harapan bisa lebih fokus dalam beribadah dan merenungkan makna Ramadhan. Keberkahan dan ampunan yang bisa diperoleh dalam sepuluh malam terakhir sangat diharapkan. Sebab pada malam ini, menjadi puncak pencarian malam yang agung yang ditunggu-tunggu setiap insan Muslim pada setiap bulan Ramadhan.
Keutamaan Lailatul Qadar
Apabila ingin mengetahui apa itu Lailatul Qadar? Serta keutamaanya, dengan jelas Allah Swt mejelaskan dalam al-Qur’an surat al-Qadr yang artinya (Kemuliaan). Surat yang ke 97 ini, terdiri dari 5 ayat.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan“. (QS. Al-Qadr: 3).
Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka, menerangkan bahwa Lailatu Qadar diartikan sebagai malam kemuliaan. Karena setengah dari arti qadr adalah kemuliaan. Serta boleh juga Lailatul Qadar itu diartikan sebagai malam penentuan. Disebutkan malam penentuan karena malam itu mulai ditentukan khittah atau langkah yang akan ditempuh Rasul-Nya, dalam memberi petunjuk kepada umat manusia.
Buya Hamka melanjutkan, bahwa malam lailatul Qadar atau malam kemuliaan sama dengan 1000 bulan lebih daripada 80 tahun, seperti usia manusia. Nilai malam itu menjadi lebih tinggi sekali. Setinggi usia biasa yang dapat dicapai oleh manusia. Intinya, amat sangat mulia malam itu. taka da yang dapat menandingi kemuliaanya. (Baca: Tafsir al-Azhar. Hamka, Jilid 10. Hal. 8067-8069).
Lailatul Qadar adalah malam yang memiliki keutamaan yang sangat tinggi dalam Islam. Di mana Allah Swt menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam al-Qur’an, malam ini digambarkan lebih baik dari seribu bulan. Keberkahan malam ini tidak hanya menjadi tema dalam naskah suci, tetapi juga ditunjang oleh berbagai hadits yang menjelaskan betapa pentingnya beribadah di malam tersebut.
Salah satu hadits yang terkenal menyatakan bahwa barangsiapa yang melaksanakan ibadah di Lailatul Qadar dengan penuh iman dan harapan, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Ini menunjukkan betapa besar peluang bagi umat Islam untuk mendapatkan pengampunan dan rahmat Allah. Dengan meraih Lailatul Qadar, seseorang dapat menemukan jalan menuju kehidupan yang penuh berkah, baik di dunia maupun di akhirat.
Lebih lanjut, malam ini juga merupakan waktu terbaik untuk bertafakur dan memohon kepada Allah. Umat Islam diyakini diberikan akses langsung untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui do’a dan permohonan yang tulus. Ramadhan yang penuh berkah ini mengajarkan umat untuk lebih rileks dan berorientasi pada kebaikan, dan Lailatul Qadar merupakan puncak dari semua ini.
Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk memanfaatkan 10 malam terakhir bulan Ramadhan dengan beribadah, mengingat tanggal pastinya tidak diketahui secara pasti. Dengan meningkatkan intensitas ibadah, diharapkan setiap individu dapat meraih keberkahan, kedamaian, dan pengampunan yang dibawa oleh malam yang agung ini.
Cara Mencari dan Meraih Lailatul Qadar
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Upayakan malam Lailatul Qadr pada hari ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 2017).
Dalam riwayat lain dijelaskan,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
“Nantikanlah Lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir, jika lemah dan tidak sanggup, jangan terluput 7 hari yang tersisa.” (HR .Muslim No.2822)
Mencari dan meraih Lailatul Qadar merupakan salah satu tujuan utama bagi umat Islam selama sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Keutamaan malam ini sangatlah besar, dan banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapainya.
Pertama, meningkatkan ibadah sangatlah penting. Menunaikan shalat malam atau tahajud secara rutin dapat menjadi salah satu cara yang efektif. Ibadah ini membantu meningkatkan kedekatan kepada Allah Swt dan memberi kesempatan untuk berdo’a lebih khusyuk, tulus dan ikhlas.
Kedua, membaca al-Qur’an juga merupakan amalan yang disunnahkan dalam mencari Lailatul Qadar. Karena, al-Qur’an merupakan petunjuk hidupbagi umat Islam. Khususnya, dalam malam-malam terakhir ini, diutamakan untuk tidak hanya membaca, tetapi juga merenungi makna dari setiap ayat yang dibaca. Kontribusi membaca, merenungi, mentadabburi al-Qur’an secara konsisten, akan sangat berdampak dalam mendapat keberkahan malam yang mulia ini.
Ketiga, berdzikir dan berdo’a juga merupakan amalan yang tidak boleh dilewatkan. Meluangkan waktu untuk berdzikir memuji nama Allah dapat memberi ketenangan jiwa dan mengingatkan diri akan sifat-sifat-Nya yang mulia. Kegiatan ini diimbangi dengan do’a-do’a serta pertaubatan, merendahkan hati dan memohon agar Allah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya. Fokuskan niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta mengharapkan keampunan dan berkah yang dibawa oleh Lailatul Qadar.
Selanjutnya, sebagai tambahan, pastikan untuk memperbaiki niat dan meningkatkan konsentrasi beribadah. Ketulusan niat dalam setiap langkah ibadah akan mendatangkan keberkahan yang lebih besar. Jangan ragu untuk berdo’a dengan sungguh-sungguh, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dengan cara-cara ini, pribadi Muslim akan lebih mudah menemukan dan meraih Lailatul Qadar, serta menjalani malam-malam terakhir bulan suci Ramadhan dengan keberkahan yang optimal.
Refleksi dan Persiapan Menyambut Malam-Malam Terakhir
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya, “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemberi ampunan. Dan Engkau mencintai orang memohon ampun. Oleh karena itu, ampunilah aku (maafkanlah kami).”
Inilah do’a yang harus kita perbanyak untuk dibaca, tidak hanya di malam Lailtul Qadar, melainkan pada setiap malam di bulan suci Ramadhan. Pentingnya membaca do’a ini akan meningkatkan amal baik tidak yang dapat dipandang sebelah mata, terutama selama malam yang diyakini penuh keutamaan seperti Lailatul Qadar. Pada malam yang istimewa ini, do’a dan munajat yang dipanjatkan diyakini akan lebih mudah diterima.
Selama bulan Ramadan, kesempatan untuk melakukan refleksi diri menjadi sangat penting, terutama menjelang malam-malam terakhir. Dalam konteks ini, seseorang diharapkan dapat merenungkan segala amal yang telah dilakukan serta memeriksa diri atas dosa-dosa yang mungkin telah diperbuat. Proses introspeksi ini bukan hanya memberikan kesadaran diri, tetapi juga memungkinkan individu untuk memperbaiki sikap dan perilaku sebelum genapnya bulan yang penuh berkah ini.
Oleh karena itu, persiapan Iman, Ilmu dan Amal perlu dilakukan dengan matang. Ini mencakup peningkatan kualitas ibadah, baik itu shalat, membaca al-Qur’an, zikir, atau kegiatan muamalah untuk membantu sesama. Allah Swt memberikan banyak kesempatan selama bulan Ramadhan, dan masa-masa terakhir ini, seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Berkah malam Lailatul Qadar bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain, baik melalui ilmu, inspirasi, atau tindakan nyata. Dengan berbagi kebaikan, kita menjadi medium untuk mengalirkan rahmat dan kasih sayang Allah Swt, memungkinkan lebih banyak orang merasakan manfaat dari malam-malam terakhir Ramadhan.
Mari, kita berikan persiapan terbaik serta dengan tujuan yang jelas, dalam menyambut malam kemuliaan ini. Kita berharap, semoga kita dapat meraih keutamaan malam-malam terakhir ini, terutama malam Lailatul Qadar, yang menawarkan segudang berkah dan ampunan bagi mereka para (mukminin) yang mencarinya dengan kesungguhan hati.
Wallahu’alam bish shawâb
Sumber photo: Google.com
1 comment
Malam Lailatul Qadar memang penuh keutamaan, namun bagaimana cara Anda mempersiapkan diri untuk meraihnya? Apakah ada pengalaman pribadi atau amalan khusus yang Anda lakukan selama 10 malam terakhir Ramadhan yang ingin dibagikan?