Khutbah Idul Fitri
Nasional

Khutbah Idul Fitri: Madarasah Ramadhan Mewariskan Rasa Malu, Takut, Dan Membangun Silaturrahim

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Hadirin-hadirat jama’ah shalat idil Fitri yang dimuliakan Allah Swt.

Hari ini kita ikut bergembira dalam hati dan bercampur dengan kesedihan. Mengapa kita bergembira?  Karena pada hari ini, kita kembali kepada Fitrah. Fitratul Islam. Mengapa kita gembira? Karena baru saja kita berhasil memenangkan perjuangan melawan hawa nafsu.

Mengapa kita gembira?

Karena, ada orang-orang yang sangat ingin ikut shalat bersama kita pagi ini, tapi ada yang lebih cepat daripada keinginan tersebut. Idza ja’â ajaluhum, kalau ajal sampai, lââ yastakhirû na sâa’atan Tak dapat ditunda walau sesaat, walâ yastaqdimûûn, tidak pula dapat dimajukan walau sesaat.

Ada orang-orang yang wajahnya masih terbayang di benak kita. Senyumnya masih terbayang di ujung mata kita, tapi saat kita pulang nanti, mereka tidak lagi ada bersama kita. Orang yang selama ini kita genggam tangannya, kita cium tangannya. Tapi saat ini, kita tak lagi berjumpa dengan mereka. Di mana mereka berada? Mereka sudah pindah ketempat lain, dan tidak mungkin akan kembali bersama kita.

Hari ini, adalah hari bagi seorang Muslim bercampur -aduk, dalam hati dan perasaannya. Antara senang dan sedih. Tak ada yang dapat menghilangkan kesedihan itu, selain daripada Takbiir, maka diapun mengagungkan nama Allah. Dia mengatakan:

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Begitu tenggelam Matahari kemirin sore, kemudian tampaklah hilal syawwal, Berpisahlah kita dengan bulan yang di dalamnya shalat taraweh ditegakkan. Berpisahlah kita dengan bulan, yang di dalamnya shalat witir dilaksanakan. Berpisahlah kita dengan bulan, yang di dalamnya, kita bertemu  dan bertatap muka tiap malam, pada saat shalat taraweh dan witir.

Maka, selamat jalan bulan yang penuh dengan keberkahan dan bulan yang penuh kemuliaan.

Selamat jalan, bulan yang penuh dengan ampunan dan keagungan.

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin-hadirat jama’ah shalalt idil fitri yang dimuliakan Allah Swt..

Ramadhan boleh saja berakhir, tetapi hidup belum berakhir. Masih ada, Syawwal. Masih ada Zulqo’dah. Masih ada Zulhijjah. Masih ada Muharram. Semoga nanti kita kembali, dipertemukan dengan bulan yang mulia tersebut.

Dalam kesempatan ini khatib akan membahas beberapa nilai Ramadhan, yang harus kita lestarikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik secara individu dan bermasyarakat.

Yang pertama. Ramadahan menanaman rasa malu kepada Allah Swt.

Dari pagi sampai siang dibulan Ramadhan, kita tidak makan dan tidak minum, padahal makanan itu halal. Padahal minuman itu halal. Tapi semuanya dapat kita tahan. 29 sampai 30 hari. Maka yang perlu kita bawa keluar Ramadhan dan masuk ke Syawwal ini adalah rasa takut, dan malu kepada Allah Swt.

Kalau seorang anak takut kepada Allah. Dia tidak akan melawan atau durhaka kepada kedua orang tuanya.

Kalau orang tua takut kepada Allah Dia tidak akan menyia-nyiakan anaknya.

Kalau seorang murid takut kepada Allah, maka dia tidak akan melawan Gurunya.

Kalau pedagang takut kepada Allah, Dia tidak akan curang pada timbangan.

Kalau para pejabat, para pemimpin takut kepada Allah, maka dia tidak akan zalim, maka dia tidak akan berani korupsi.

Kalau takut kepada Allah, maka perempuan tidak akan membukakan rambut kepalanya, atau auratnya, di depan laki-laki yang bukan mahromnya.

Karena, lebih baik menusukkan paku yang terbuat dari api neraka, daripada menyentuh tangan perempuan yang bukan mahromnya.

Kalau takut kepada Allah, maka lidah akan senantiasa bertasbih, bertahmid, bertakbir, kepada Allah Swt dan bersalawat kepada Rasulullah Saw.

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Maka, takut kepada Allah Swt adalah krisis kita  saat ini.

29 malam, 30 hari, kita pelihara rasa takut kepada Allah Swt. Takut Takut dan Takut

Ketika datang Kabil, ingin menimpakan batu ke kepala Habil. Lalu apa kata Habil kepada Kabil, ini diabadikan Allah di dalam al-Qur’an.

لَىِٕنْۢ بَسَطْتَّ اِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِيْ

“Andai kau ulurkan tanganmu untuk melemparkan batu ke kepalaku.” Hai saudaraku Kabil, andai kau ingin membunuh aku.

مَآ اَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَّدِيَ اِلَيْكَ لِاَقْتُلَكَۚ

“Aku tak akan balas.  Aku tidak akan membunuh kamu. Wahai Kabil saudaraku

Apakah Habil tak sanggup? Habil justru sehat dan kuat, dia tidak, lumpuh dan cacat, tapi kenapa dia tidak mau membalas? Inilah kata Habil saudaranya:

اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ

“Aku Takut kepada Allah. Rabb, Tuhan semesta alam” Hal ini diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Mâ’idah, ayat 27.

Kalau rasa takut kepada selain Allah, maka akan mudah kita mencari celah dan bersembunyi.

Namun kalau takut kepada Dia. Lââ ta’khuzuhû sinataw walââ naûm Dia yang tidak mengantuk dan tak pernah tidur.

Rasa takut itulah, yang kita tanamkan ke dalam hati. Maka jangankan yang haram, yang Halal pun, takut kita telan. Yang halal pun takut kita makan.

Oleh karena itu, inilah makna ketika kita keluar dari Ramadhan, kita bawa rasa takut itu di luar bulan Ramadhan. Inilah yang menjadi krisis kita, saat ini. Orang tidak lagi takut kepada Allah. Suami tidak lagi takut kepada Allah, dia biarkan isterinya, berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Pemimpin tidak lagi takut kepada Allah. Dia tidak lagi menunaikan Amanah. Dia justru menyengsarakan rakyatnya. Maka, bukti keberhasilan takut kepada Allah adalah, kita bawa rasa takut itu di luar Ramadhan.

Rasa takut inilah yang selalu diminta oleh Rasulullah Saw ketika berdo’a kepada Allah.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ

“Ya Allah Bagikan sedikit rasa takut kedalam hati kami, bagikan sedikit rasa khwatir kedalam hati kami, yang dengan rasa takut ini, menjadi penghalang antara kami dengan perbuatan Maksiat.    

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin-hadirat jama’ah shalalt ‘idil fitri yang dimuliakan Allah..

Kemudian selanjutnya, nilai yang kita ambil dari Ramadhan menuju ke bulan Syawwal dan bulan lainnya , sampai kepada kematian tiba Adalah; 30 malam kita ramaikan shalat taraweh. Setelah itu shalat witir berjamaah. Apa maknanya? Yaitu: Kita diajarkan untuk Memakmurkan Masjid.

Masjid, ketika dibulan Ramadhan ramai, hiruk pikuk dengan suara tasbih, tahmid dan takbir. Bacaan al-Qur’an dan tadarrus hingga subuh hari. Tapi ketika Ramadahan berlalu, maka akan berakhir dengan kesepian, kesunyian, dan hilang jamaahnya. Masjid kembali kepada kekosongan.

Maka, ini bukan bukti berhasilnya Ramadhan kita. Bukti berhasinya Ramadhan, ketika masjid-masjid di luar bulan Ramadhan, tetap ramai dan hiruk pikuk dengan zikir kepada Allah.

Rasulullah Saw, orang yang sangat lembut hatinya, dan sangat sabar perangainya. Namun ketika masjid kosong di situ Nabi marah. Apa kata Rasulullah Saw kepada mereka yang tidak datang ke masjid?  Berhenti, jangan ulangi lagi, bagaimana kalau mereka tetap mengualangi. Mereka membiarkan masjid kosong?

ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“Kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjama’ah. Lalu aku akan membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aku akan membakar rumah mereka, begitulah kata Rasulullah Saw. 30 Malam kaki kita dibiasakan di masjid. 30 Malam kita dipanggil untuk shalat lima waktu, shalat taraweh dan witir. Apa maknanya? Supaya senantiasa kita memakmurkan Masjid Allah Swt.

Dan, satu diantara hamba Allah yang akan mendapatkan naungan di padang Mahsyar nanti.  Saat dimana matahari, berada sejengkal diujang kepala, dan ubun kita. Saat itu, tidak ada naungan selain naungan Allah Swt. Dan Saat itu tidak ada yang bisa menolong  kita.

Siapa yang akan menolong kita? Salah satu orang yang mendapatkan naungan itu adalah;

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

“Seorang lelaki, yang hatinya, selalu tergantung di masjid. Orang yang hatinya selalu ingin ke Masjid.

Kalau hatinya sudah tergantung di masjid,

Badan boleh di kantor,

Badan boleh di sawah,

Badan boleh di sekolah.

Badan boleh di pasar. Tapi ketika seruan Adzan,

Saat itu, gelisah hati, tidak sabar ingin datang, memenuhi panggilan Adzan tersebut. Sampai-sampai dikatakan Nabi, seandainya suatu kampung itu membiarkan masjid kosong. Di bangun dengan pembangunan yang indah, dengan bangunan yang kokoh, dengan bahan yang mahal, tapi ternyata tidak dimakmurkan, dan tidak diramaikan dengan shalat berjama’ah,

 لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ 

“Kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana, kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan” (HR. Abu Daud)

Satu kampung itu akan di kutuk dan dikuasai oleh Syaitan. Maka, salah satu pintu untuk menutup syetan, adalah dengan memakmurkan masjid, yaitu datang untuk shalat berjamaah.

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin-hadirat jama’ah shalalt ‘idil fitri yang dimuliakan Allah..

Kemudian yang terakhir, yang kita lestarikan di bulan Syawwal, adalah Menyambung Tali Silaturrahim.

Selama 11 bulan kita sibuk. Tapi dibulan Ramadhan, kita bertatap muka hampir tiap malam dengan tetangga, dengan sahabat, dengan kerabat di masjid. Bertatap muka, bukan di kedai kopi, bukan di restoran, bukan di mall. Tapi kita bertatap muka di rumah Allah Swt. Tempat ibadah yang suci.

Maka, kaum Muslimin rahimakumullah, Ukhuah yang terjalin itu mari kita lanjutkan di Bulan Syawal ini. Dan dibulan-bulan lain yang akan datang.  Jangan sampai kita memutus tali silaturrahim, yang sudah terjalin ini, kita harus menjaganya. Jangan sampai silaturrahim kita putus, setelah kita keluar dari masjid ini. Jangan sampai tali silaturrahim kita putus, hanya karena hati kita takabbur, sombong tidak mau memberi maaf untuk saudara kita.

Ingatlah hadist Rasulullah Saw.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan.” Apa yang diputuskan?

يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ

 “Yaitu, orang yang memutuskan tali silaturrahim.”

Adakah bulan khusus untuk menyambung tali silaturrahim? Tidak Ada. Selain kita melakukannya diakhir bulan Ramadhan. Yakni dihari yang Fitri ini.

Ada orang bertahun-tahun tidak saling tegur sapa, tidak saling berbicara. Hatinya dendam dengan sesama saudaranya. Berat rasanya dia mau memaafkan kesalahan saudaranya.

Jika hari ini, mereka tidak saling memafkan maka, dia akan tergolong orang yang sombong. Bukan dari ahli syurga. Kenapa? Karena dia termasuk orang-orang yang memutus tali silaturrahim. Orang yang hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tanpa mau memperbaiki hubungan dengan manusia, dia adalah orang yang di laknat, orang yang sombong, dia adalah orang yang dibenci Allah dan Rasulnya.

Waluapun orang itu bergelar haji, walaupun orang itu kelihatan âlim, baik. Tapi, ketika dia memutuskan tali silaturrahim, dia termasuk orang yang sombong. Tidak layak masuk syurga,

Rasulullah kembali memberi peringatan keras:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk syurga, siapa yang dalam hatinya, ada sombong sebesar biji sawi. Dia tidak layak mencium bau syurga. (HR. Muslim No. 2749)

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin-hadirat jama’ah shalalt ‘idil fitri yang dimuliakan Allah..

Marilah. Hari ini kita lapangkan hati kita, untuk membuka pintu maaf, dan silaturrahim diantara kita. Kita buang sifat sombong itu, jauh-jauh dari hati kita. Karena itu adalah penghalang kita untuk masuk syurga Allah Swt.

Semoga Allah Swt menerima shalat kita, puasa kita, dan amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Serta Allah mengempuni segala dosa-dosa kita.  

Amiin. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Disarikan dan diedit dari khutbah al-Ustadz Prof. Abdul Somad.Lc

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. 
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ  فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرُ

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْن

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ

وَٱلْعَصْرِ

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Waqola fîî âyâtil ukhrâ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ

وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ

وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا

وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا

يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ

رَبَّنَا غْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ أَلْأَ حْيَآءِمِنْهُمْ وَاْلأَ مْوَاتِ, اِنَّكَ عَلَى قُلِّ ثَيْءٍقَدِيْرِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ دَمِّرِ لْيَهُودا وَ إِسْرَآئِل

اللَّهُمَّ انْصُرْإِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين

Ya Allah, di hari yang Fitri ini. Kami bersimpuh dengan Mengangungkan nama-Mu

Kami memohon ampunan-Mu Ya Allah.

Ampuni segala dosa Kami, dosa kedua orangtua kami. Dosa Keluarga kami, dosa Sudara-Saudara Kami.

Terimalah amal ibadah Kami. Shalat Kami, puasa kami. Rukuk kami, sujud kami ya Allah.

Buang rasa sombong dalam hati kami. Gantilah rasa sombong itu, dengan rasa takut, dan taat kepada-Mu ya Allah.  

Ya Allah. Di hari yang Fitri ini. Tancapkan di hati kami keindahan iman. Agar kami bisa, merasakan betapa nikmtanya beriman kepada-Mu. Betapa indahnya mencintai-Mu ya Allah.

Ya Allah bantulah saudara-saudara kami di Palestina. Di Jalus Gaza. Tetapkan kesabaran di hati mereka. Serta, hancurkanlah, zionis Israel dan yahudi, laknatullah.  

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَا جِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ


Related posts

Tetap Produktif di Bulan Ramadhan: Tips Mengatur Waktu Ibadah

Sofian Hadi

Kamuflase Abdul Ghaffar: Bagaimana Snouck Hurgronje Menipu Kaum Muslim di Nusantara

Sofian Hadi

Debut Gemilang: Rizki Juniansyah Raih Emas di Olimpiade 2024

Sofian Hadi

Ramadhan Sehat: Panduan Sahur & Berbuka Agar Tubuh Tetap Bugar

Sofian Hadi

Rahasia Keutamaan Ramadhan: Mengapa Ramadhan Begitu Istimewa?

Sofian Hadi

Hari Santri: Manifesto Jihad Ulama dan Santri

Sofian Hadi

2 comments

Batuter March 28, 2025 at 11:18 pm

Dalam khutbah ini, terdapat penekanan pada pentingnya rasa takut dan malu kepada Allah sebagai dasar moral dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana pengalaman Anda selama Ramadhan membantu menumbuhkan nilai-nilai ini dalam diri Anda, dan langkah konkret apa yang akan Anda ambil untuk mempertahankannya di bulan Syawwal dan seterusnya?

Reply
Handar Tan March 29, 2025 at 2:29 pm

Amin.

Reply

Leave a Comment

<p>You cannot copy content of this page</p>