Hikmah

Menaladani Kisah Maryam: Keteguhan Hati Menghadapi Badai Prasangka

Tahukah kita, bahwa al-Qur’an sangat jarang menyebutkan nama seseorang? Dari sedikit nama yang disebut, Maryam menjadi satu-satu perempuan yang disebutkan secara langsung dan kisahnya diabadikan dalam surah Maryam dan surah Ali Imran.

Maryam merupakan sosok perempuan yang berasal dari keluarga yang soleh dan terpelajar. Ayahnya merupakan seorang pemimpin agama yang terkemuka saat itu dan ibunya merupakan perempuan yang salehah.

Kisah Maryam dimulai ketika ibunda Maryam (Hannah binti Fuqoda) sedang mengandung. Ia bernazar akan menyerahkan anaknya kelak untuk mengabdi di rumah Allah (baitul maqdis). Pada awalnya, ia mengira sedang mengandung bayi laki-laki (karena tradisi saat itu hanya memperbolehkan laki-laki yang menjadi pengabdi).

Namun ketika ia justru melahirkan bayi perempuan, sebuah pengecualian istimewa dibuat—sehingga Maryam tetap diizinkan untuk tinggal di sana.

Ketika Maryam beranjak remaja—sekitar usia 16 tahun. Malaikat Jibril tiba-tiba datang membawa pesan yang membuat hati Maryam terhentak hebat: Allah memilihnya untuk mengandung bayi yang kelak akan menjadi seorang Rasul.

Mendapatkan amanah suci yang diberikan Allah kepadanya, dengan penuh kesadaran Maryam kemudian mengasingkan diri jauh dari kota tempat kediamannya untuk melahirkan bayi Isa yang mungil.

Sebagai gadis muda yang berasal dari keluarga soleh dan terpandang, mengandung seorang bayi tanpa adanya sosok seorang ayah tentunya menjadi perbincangan warga sekitar. Bayangkan perasaan Maryam saat itu—yang harus kembali dari pengasingannya sambil membawa bayi Isa—tentu mengalami beban mental yang luar biasa. 

Ia harus menghadapi pandangan sinis dan berbagai tuduhan keji dari warga sekitar. “Betapa berat dan menakutkan tanggungjawab yang harus ia pikul pada saat itu.”

Maryam, yang sempat pergi menjauh harus pulang sambil menggendong bayi Isa yang baru lahir. Dihadapan orang-orang yang menganggapnya sebagai sosok suci, ia membawa kenyataan yang tidak masuk akal bagi mereka.

Di saat ia sangat butuh untuk membela diri, Allah justru memerintahkannya untuk diam (pada saat itu ‘puasa bicara’ merupakan bagian ibadah yang disyariatkan oleh Nabu musa dan telah dikenal umum). Mendengar perintah Tuhannya, maka dengan kemantapan hati Maryam memilih untuk diam dan membiarkan takdir Tuhan yang bekerja untuknya.

Di tengah cacian dan hujan fitnah yang mengahmpiri, Maryam benar-benar melakukan sesuatu yang luar biasa. “Tanpa kata, tanpa pembelaan, dan tanpa perdebatan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada takdir Ilahi.”

Maryam hanya memberikan isyarat sederhana dengan menunjuk ke arah bayinya yang mungil—seakan-akan membiarkan keajaiban Tuhan yang berbicara menggantikannya. Di saat itulah hal yang luar biasa terjadi. Allah membuat bayi yang baru lahir itu pun berbicara:

قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَـٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّۭا

“Dia berkata. ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia telah memberikan kepadaku Kitab Suci dan menjadikan aku seorang Nabi.” (QS. Maryam, ayat 30)

Kisah Maryam di atas mengajarkan kepada kita bahwa tawakal sejati adalaha tetap teguh meski logika tidak mampu menangkap rencana Tuhan. Saat dunia menghakimi dan menuntut penjelasan atas fakta yang tidak masuk akal.

Maryam lebih memilih diam—bukan karena lemah—menghadapi ujian tersebut. Sebaliknya, Ia meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pelindung. Ketabahan dan kesabarannya membuktikan bahwa iman yang kuat memberikan ketenangan di tengah badai.

Kisah Maryam, menunjukkan bahwa disaat kita berani untuk melepaskan kendali dan percaya sepenuhnya bahwa di balik jalan yang sulit akan ada hikmah yang terkandung didalamnya. Maka Allah akan merubah titik terandah yang kita alami menjadi bukti keagungan-Nya yang abadi.

Dengan keimanan yang kuat, Allah akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa yang tidak mampu ditembus oleh akal manusia yang serba terbatas.

Wallahua’lam bish shawwab

Postingan terkait

Neuroscience: Menjaga Keseimbangan Pengetahuan Otak, Hati dan Jasmani

Sofian Hadi

Perbanyaklah Mengingat Kematian!

Lalu Wawan Febriyanto

Refleksi Hari Raya Idul Fitri 1447 H: Memaafkan adalah Kemuliaan

M. Syarif Hidayatullah

Pola Pikir Dibentuk dari Bacaan: Nasihat Ahmad Deedat tentang Mental dan Kebiasaan

Sofian Hadi

Nilai Peradaban Islam yang di Rampas

Sofian Hadi

“IMAJINER” Untaian Nasehat Badiuzzaman Said Nursi (3)

Fiqri Rabuna

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page