Opini

Mondok Dan Memondokkan: Nasihat Berharga Untuk Orang Tua Dan Para Alumni

Memulai Langkah

Pada bagian ini, penulis memaparkan penjelasan runut tentang bagaimana langkah orang tua, mempersiapkan diri dan anak-anaknya agar meluruskan dan mensucikan niat dan nazar lebih dini. Kemudian, meng-ikhtiarkan kebaikan, sehingga membentuk tekad kuat sang anak. ketika nanti anaknya sekolah di Pondok

Bila kita adalah alumnus pondok, energi terbesar untuk memondokkan putra-putri kita adalah keinginan luhur untuk menyambung sanad dan nasab ke almamater. Kita tidak ingin jalur keberkahan itu mungqathi’ (terputus).

Seperti semangat Nabi Zakaria AS yang terus menyala: Sebuah ikhtiar agar risalah, ide, gagasan, dan cita-cita besar perjuangan agama ini terus berlanjut melintasi generasi.

Sebaliknya, bila kita bukan alumnus pondok, energi terbesar untuk memondokkan putra-putri kita adalah tekad untuk membuka jalur (sanad) investasi akhirat yang baru: jalur yang mungkin belum pernah kita rintis sebelumnya.

Langkah ini adalah upaya menjemput salah satu dari tiga investasi paling menguntungkan, saat mesin amal kita di dunia telah berhenti beroperasi: waladun shalihun yad’ulah (anak saleh yang mendo’akan orang tuanya)  

Kehadiran anak yang saleh dan salehah diharapkan akan memperbesar serta mengekalkan hasil dari investasi-investasi kebaikan yang sudah kita tanam sebelumnya.

Memantapkan Tekad dan Langkah

Munthalaq (titik tolak atau pijakan awal) ini, harus sudah benar-benar tuntas dan jernih di dalam hati sebelum kita melangkah. Sebab, mondok adalah untaian langkah-langkah panjang menuju tujuan yang besar.

Dalam perjalanan panjang ini, anak tidak akan pernah bisa mengayunkan langkahnya sendirian. Ia harus senantiasa berada dalam bimbingan dan naungan Tuhan, yang dihadirkan melalui untaian doa, ridha’, serta arahan dari orang tuanya.

Setelah kesadaran itu tertanam, apa langkah kita selanjutnya?

Langkah berikutnya adalah, memasuki masa pemantapan tekad. Banyak metode yang bisa kita selami untuk mengokohkan hati. Jika ingin meneladani metode Keluarga Imran, kita bisa memulainya dengan ber-nazar:

“Inni nazartu laka ma fi bathni muharraran…”

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat” (QS. Ali ‘Imran ayat 35)

Sebuah nazar tulus untuk mempersembahkan putra-putri kita sebagai pelayan agama Allah, pelayan umat, dan pelayan kemanusiaan. Kita bisa meniatkannya secara lebih spesifik: apakah menjadi pelayan ilmu pengetahuan, pelayan dan penjaga al-Qur’an dan hadits, penegak syariat Allah, pelayan kesehatan, pemimpin yang melayani rakyat, atau pembela kaum dhuafa dan seterusnya

Masa Penyiapan

Langkah selanjutnya adalah masa penyiapan. Dalam fase ini, tugas kita sebagai orang tua adalah menjembatani dunia mereka. Di satu sisi, kita aktif mengenalkan gagasan-gagasan indah tentang kepesantrenan kepada anak.

Di satu sisi, kita aktif mengenalkan gagasan-gagasan indah tentang kepesantrenan kepada anak. Di sisi lain, kita harus bijak membentengi mereka dari pengaruh luar yang bisa merongrong (men-downgrade) kemuliaan pesantren di mata mereka.

Saya masih ingat betul, saat masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), Ayahanda tercinta, begitu sering bercerita tentang keindahan dan kemuliaan hidup di Gontor. Cerita-cerita itulah yang akhirnya tumbuh menjadi kerinduan, menyiram benih keikhlasan, dan menuntun langkah saya hingga hari ini.

Cerita-cerita kebaikan, seperti keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyah dan sebagainya, memberi pengetahuan baru tentang kehidupan di Pondok. Dan, bagi seorang anak tentu sangat berkesan dengan cerita-cerita sederhana itu.

Dengan demikian, orang tua memiliki peran besar dalam menuntun langkah menapaki masa depan sang anak. Jika langkah-langkah ini dilakukan oleh orang tua dan alumni pondok, akan terbuka jalan kebaikan memondokkan anak. Orang tua adalah kunci utama pengenalan tentang kepondokpesantrenan. Bersambung

Wallahu’alam bish shawaab

Ditulis oleh Assoc. Prof. Dr. M. Kholid Muslih, MA. Dosen Senior dan Direktur Program Pascasarjana di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo.

Postingan terkait

Inilah Cara Membuktikan Cintamu Kepada Sang Nabi

Lalu Wawan Febriyanto

Menimbang Kebenaran Dengan Akal Pikiran dan Ilmu Pengetahuan

Sofian Hadi

Sumbawa: Sebuah Filsafat Tentang Asal Mula Keberadaan

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Membincang Makna Kata Adîl dan Qisth di Dalam Al-Qur’ân

Sofian Hadi

Mondok Dan Memondokkan: Nasihat Berharga Untuk Orang Tua dan Para Alumni

Batuter

Sepuluh Mahkota Kemuliaan Untuk Hati Yang Haus Ampunan 🔰

M. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page