Nasional

Selamat Jalan, Prof. John L. Esposito (1940–2026)

Dunia akademik kehilangan salah seorang sarjana terbesar dalam studi Islam modern. 15 Juli 2026, Prof. John L. Esposito berpulang dalam usia 86 tahun. Kepergiannya adalah the end of the begining kajian Islam kontemporer, terutama dalam upaya membangun dialog antara dunia Islam dan Barat.

Saya sendiri tak pernah jumpa langsung, tapi menjadi begitu akrab mengenalnya melalui karya-karya monumentalnya, seperti Islam: The Straight Path, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, What Everyone Needs to Know About Islam, Who Speaks for Islam?, serta proyek ensiklopedisnya bersama Oxford University Press, The Oxford Dictionary of Islam dan The Oxford Encyclopedia of the Islamic World.

Karya-karya tersebut menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Islam secara akademik, yang jauh dari prasangka dan penyederhanaan.

Sebagai Distinguished University Professor di Georgetown University, serta pendiri Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim Christian Understanding (ACMCU), Esposito menjadikan Georgetown sebagai salah satu pusat studi Islam paling berpengaruh di dunia.

Dari kampus itu lahir berbagai riset yang menghubungkan agama, politik, demokrasi, hak asasi manusia, hingga hubungan internasional. Ia membuktikan bahwa studi Islam dapat menjadi jembatan dialog antar identitas.

Yang paling saya hargai dari pemikiran Esposito adalah keberaniannya menolak cara pandang yang melihat Islam melalui lensa konflik. Setelah tragedi 11 September, ketika Islam sering direduksi menjadi terorisme dan radikalisme, Esposito tetap konsisten menjelaskan bahwa dunia Islam jauh lebih kompleks.

Ia mengingatkan bahwa lebih dari satu miliar Muslim tidak dapat diwakili oleh tindakan segelintir kelompok. Bagi Esposito, memahami Islam harus dimulai dari sejarah, tradisi intelektual, dan realitas sosial umatnya.

Pemikirannya juga memiliki jejak yang kuat di Indonesia. Buku bukunya diterjemahkan dan dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam, mulai dari IAIN, UIN, hingga fakultas ilmu sosial dan hubungan internasional. Gagasannya tentang demokrasi Islam, pluralisme, kebangkitan politik Islam, dan hubungan Islam dengan modernitas menjadi bagian dari diskursus akademik di Indonesia.

Tidak sedikit intelektual Indonesia yang berdialog dengan pemikirannya, baik untuk mengembangkan maupun mengkritisinya. Nama nama seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, M. Quraish Shihab, Bahtiar Effendy, Komaruddin Hidayat, Din Syamsuddin, hingga generasi akademisi UIN setelahnya, sama sama bergerak dalam iklim intelektual global yang salah satunya juga dibentuk oleh kontribusi Esposito.

Mereka mungkin memiliki kesimpulan yang berbeda pada sejumlah isu, tetapi berbagi komitmen yang sama bahwa Islam harus dipahami melalui penelitian yang serius, dialog yang terbuka, dan penghormatan terhadap keragaman.

Esposito mengajarkan bahwa seorang seorang akademisi tidak bertugas menjadi pembela ataupun penuduh sebuah agama. Tugasnya adalah menjelaskan, meluruskan kesalahpahaman, dan menghadirkan pengetahuan yang jujur. Sikap ilmiah semacam inilah yang membuat namanya dihormati, baik di dunia Barat maupun di dunia Islam.

Selamat jalan Prof…. Warisan terbesar Anda bukan hanya puluhan buku, ratusan artikel, atau ribuan mahasiswa yang pernah belajar kepada Anda. Warisan terbesar Anda adalah keberanian intelektual untuk mempertemukan dua dunia yang selama ini sering dipisahkan oleh prasangka.

Di tengah kebisingan politik identitas, Anda memilih bahasa ilmu pengetahuan. Di tengah benturan peradaban, Anda memilih dialog. Itulah sebabnya nama anda akan terus hidup dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer.

Semoga segala dedikasi ilmiah yang telah Anda persembahkan menjadi warisan yang terus menerangi jalan bagi siapa pun yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi terkuat bagi lahirnya jembatan pengertian antarperadaban

Wallahua’lam bish Shawab

Postingan terkait

Tafsir Bulan Muharram Dan Bulan Haram Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah Ayat 36

Sofian Hadi

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Empat, Penutup)

Sofian Hadi

Darul Arqam Dasar (DAD) Gerbang Kaderisasi IMM yang Harus Dijaga

Fiqri Rabuna

Intervensi RELIMA Dalam Penyusunan Bahan Bacaan Muatan Lokal Di Gumi Tatas Tuhu Trasna

Sofian Hadi

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Tiga)

Sofian Hadi

Ramadhan Semakin Dekat! Persiapan Penting Agar Ibadah Lebih Berkualitas

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page