HikmahIsu Kontemporer

Neuroscience: Menjaga Keseimbangan Pengetahuan Otak, Hati dan Jasmani

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu”. (QS. Asy-Syams Ayat 8-9)


Dalam perspektif Islam, jasmani dan rohani memiliki peran yang saling melengkapi. Jasmani mencakup otak dan sistem saraf sebagai pusat pengendali tubuh manusia, sedangkan rohani berperan dalam membimbing manusia untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Allah.

Otak bertindak sebagai pusat pemrosesan informasi dan pengambilan keputusan, sementara rohani yang berpusat pada hati atau qalbu mengarahkan manusia menuju kebaikan mengetahui dan mengenal tantang hadirnya Ilahî.[1] Di dalam al-Qur’an Surat ash-Syams ayat 8-9 Allah Swt menegaskan;

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاقَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.”

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, Neuroscience atau ilmu saraf berkembang pesat dan memberikan new knowledge (wawasan baru) tentang bagaimana otak dan sistem saraf bekerja. Neurosains mengungkapkan bahwa otak manusia terdiri dari miliaran neuron yang saling terhubung dalam mengatur fungsi tubuh seperti berpikir, mencerna, belajar, bergerak, mengatur emosi, dan merasakan.

Namun, fungsi intelektualitas tanpa bimbingan rohani dapat membawa manusia ke arah materialisme dan sekularisme. Ketika manusia hanya mengandalkan intellekctual (otak) dan mengabaikan peran hati, maka nilai-nilai moral dan spiritual pasti terkikis.

Sebaliknya, jika rohani terlalu mendominasi tanpa mempertimbangkan nalar dan ilmu pengetahuan, maka manusia berisiko menjadi pasif dan kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Oleh karena itu, integrasi antara otak dan rohani sangat penting untuk membentuk manusia yang seimbang. Hal ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan praktis dalam pendidikan Islam, seperti praktik ibadah atau pengembangan akhlak mulia Aktivitas-aktivitas yang berulang dan bermakna akan memperkuat jalur memori terkait, sehingga memfasilitasi penguasaan dan pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan keagamaan.[2]

Dunia intelektual sekarang sedang membangun hubungan antara agama dan sains. Problema ini telah menjadi tren intelektual baru dalam dunia kontemporer. Tidak ketinggalan juga dalam dunia Islam.

Banyak ilmuan Sains maupun cendikiawan Muslim mulai memasuki masa pencerahan ajaran-ajaran agama, yang selama ini bersifat keimanan dapat dibuktikan secara sains modern. Langkah tersebut, melahirkan khazanah agama yang diterima oleh seluruh aspek intelektual modern.

Salah satu keterkaitan agama dan sains, ialah otak dalam kajian neurosains dan qalb yang dikaitkan dengan kaimanan (Islam).

Antara otak dan qalb, keduanya menjadi bagian sistem terpenting dalam diri manusia. berawal dari Sabda Rasulullah Saw. “Sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh menjadi baik, dan ia adalah qalb”.[3]

Terdapat kesamaan fungsi dalam tubuh manusia, bahwa qalb berperan aktif dalam baik dan buruknya tubuh secara fisik maupun psikis. Peran fisik, berarti mengatur dan mengendalikan kinerja anggota fisik mulai dari yang terlihat seperti kulit dan yang tidak terlihat seperti darah, jantung, dan lainnya.

Hati tidak akan mencapai pengenalan berbagai keajaiban alam kecuali melalui indra. Indra berasal dari hati dan tubuh lahiriah sebagai kendaraannya.[4]

Sehingga, kerjasama setiap fakultas di dalam jiwa batiniyah, dan raga lahiriyah harus seimbang dan tidak boleh tumpang tindih. Hati sebagai raja dan akal sebagai perdana menteri merupakan kunci sukses pekerjaan di setiap fakultas yang bertanggung jawab.

Wallahua’lam bish shawââb


[1]Abu Hamid al-Ghazali, Kimiya as-Sa’adah, (Jakarta: Rene Turos, 2021), p. 12

[2] Hossain, S. Neuroscience in Islamic Education: An Integrative Approach, 2016. IIUM Press

[3] Narrated by Bukhari dan Muslim and also narrated by Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma

[4] Abu Hamid al-Ghazali, Kimiya as-Sa’adah, (Jakarta: Rene Turos, 2021), p. 10

Postingan terkait

Kritik Terhadap Buku Orientalis Barat “The Truth about Muhammad” Penulis Robert Spencer Bag 2

Sofian Hadi

Keyakinan sosok Abu Darda Uwaimir al-Anshari

Sofian Hadi

“IMAJINER” Untaian Nasehat Badiuzzaman Said Nursi (3)

Fiqri Rabuna

Tren Generasi Milenial: Telisik Kegersangan Jiwa

Sofian Hadi

Taliwang Kembali Diterjang Banjir: Sabar atau Pasrah?

Sofian Hadi

Resensi Buku “Islam dan Diabolisme Intelektual”

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page