Hikmah

Kontemplasi: Sebuah Refleksi Tadabbur Diri

“Di saat kita mencapai puncak apa yang kita inginkan, meraih apa yang kita usahakan, sikap mental yang layak terbentuk adalah syukur dan tawaddhu’

Al-Ustadz Muhammad Badrun, M.A.


Kita mulai dari kesepakatan bahwa semua yang terjadi (bahkan yang akan terjadi), itu sudah termaktub di catatan langit (baca: lauhul mahfûdz). Sehingga tidak ada tuduhan latah bahwa yang menimpa seseorang itu semata-mata akibat dari sesuatu yang sudah dia diperbuat.

Meskipun kita (juga) tidak pernah memungkiri bahwa apapun yang diperbuat oleh seseorang akan ada timbal balik, balasan, baik berupa dosa maupun pahala. Kematian adalah kepastian catatan langit yang tidak seorang pun tahu kapan tiba saatnya. Yang pasti, semua peristiwa dan kejadian adalah peringatan, pelajaran utk kita semua.

Di saat kita mencapai puncak apa yang kita inginkan, meraih apa yang kita usahakan, sikap mental yang layak terbentuk -syukur-syukur tertampil- adalah rasa syukur dan tawadhu’. Bukan bangga, apalagi takabur!. Na’udzu billah!.

Sebagai perwujudan dari kepasrahan diri kepada Pencatat catatan langit yang “ternyata” telah dengan rahman-rahimnya menorehkan catatan indah dalam lembaran buku kehidupannya. Tanpa harus merasa turut menuliskannya.

Al-Qur’an yang hakekatnya adalah kalâmullah, adalah ungkapan super sarat makna dan hikmah, yang kepastian maksud dan artinya tidak dapat kita ketahui kecuali dari utusan-Nya, Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Sehingga jangan karena ‘kemampuan’ kita menangkap satu, dua, atau tiga hikmahnya. Kemudian, kita menafikan, atau kalau tidak, menganggap rendah (untuk tidak mengatakan menghina) tangkapan hikmah orang lain.

Apalagi sampai kemudian menginterpretasikan dengan interpretasi personal yang sangat subyektif. Al-Qur’an memang harus kita tadabburi dan kita renungkan, kita maknai dan kita interpretasikan, tetapi tidak dengan kelatahan intelektual.

Al-Qur’an turun dengan benar, secara benar, dan membawa kebenaran.

وَبِٱلْحَقِّ أَنزَلْنَٰهُ وَبِٱلْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Artinya: “Dan Kami turunkan (al-Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan al-Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (QS. al-Isra: 105).[1]

Intinya, menyampaikan apa yang terkandung di dalamnya harus selalu dalam bingkai basyîran (menyampaikan kabar gembira) dan nadzîran (menyampaikan peringatan). Supaya kemudian kita tidak terjebak pada (sekedar) menyampaikan pemahaman subyektif yang dapat menodai kebenaran al Qur’an.

Akhirnya, manusi terkadang butuh reflaksi, butuh merenung sejenak, butuh kontemplasi untuk memantaskan diri dalam lakon hiruk-pikuk hidup yang keras. Ambisi yang menyeruak dengan sifat takubur harus diredam dengan tafakur, tadabur, atau syukur. Hakikat ini penting dimaknai sebagai perisai diri dan jiwa, guna menghadirkan sa’âdah (kebahagiaan) dan menyambut basyîran (kabar gembira) dari-Nya.

Wallâhu’alam bish shawâb

Penulis Al-Ustadz. Muhammad Badrun, M.A. Mahasiswa Pasca Doctoral AFI-UNIDA Gontor


[1] Lihat, https://tafsirweb.com/4709-surat-al-isra-ayat-105.html (Diakses, 30 Juni 2025)

Postingan terkait

Sejenak Bertafakkur

Sofian Hadi

Kiai Amal dan Kami

Sofian Hadi

Taliwang Kembali Diterjang Banjir: Sabar atau Pasrah?

Sofian Hadi

Jadilah Seperti Tsauban

Sofian Hadi

Dari Hinaan Menjadi Berkah: Hikmah di Balik Ujian Kehidupan

Sofian Hadi

Gemuruh Zikir di Lembah Mina: Menghidupkan Makna Surat al-Baqarah 200-203

Sofian Hadi

1 komentar

Ayberk Juli 6, 2026 di 5:55 pm

Thank you very much, nice article

Membalas

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page