Di tengah gulita peradaban yang menyembah batu dan patung, lahirlah seorang pencari kebenaran yang namanya akan dikenang hingga akhir zaman. Ia adalah Ibrahim, seorang pemuda dengan naluri tauhid yang membara, yang Allah sendiri menyebutnya sebagai hanif-cenderung kepada kebenaran fitrah.
Sebelum menjadi Khalilullah (kekasih Allah), sebelum mukjizatnya yang dahsyat bersama api yang tak membakar, Ibrahim melalui fase yang sangat manusiawi sekaligus agung: fase pencarian Tuhan. Dan fase ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an sebagai mahakarya logika langit yang mengguncang bumi.
Kisah ini bermula dari kegelisahan. Ibrahim lahir dan besar di tengah masyarakat Babilonia yang menyembah bintang, bulan, matahari, dan berhala-berhala . Ayahnya sendiri, Azar, adalah pemahat patung-patung sesembahan mereka . Namun, hati Ibrahim muda tidak pernah tenang. Ada sebuah denyut pertanyaan yang terus mengusik: “Siapa sebenarnya yang layak disembah? Adakah tuhan yang sejati?” Allah mengizinkan kita menyaksikan proses pencarian spiritual yang luar biasa ini dalam Surah Al-An’am ayat 76 hingga 79.
Dimulai ketika malam merangkak perlahan, menyelimuti bumi dengan kegelapan. Dalam sunyi yang pekat, Ibrahim menengadah ke langit. Di sana, bertaburan bintang-bintang dengan gemerlapnya. Matanya tertumbuk pada satu bintang yang sangat terang. Lalu beliau berkata:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.'”
Para ulama tafsir, termasuk Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang mu’tabar, menjelaskan bahwa ucapan Ibrahim “Inilah Tuhanku” bukanlah pernyataan iman yang sesungguhnya. Ini adalah bagian dari metode dialog dan pembelajaran. Ayat sebelumnya (75) menegaskan: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin”.
Ini berarti, Allah sendiri yang memandu proses pencarian Ibrahim. Ucapan itu bisa dimaknai sebagai pertanyaan retoris atau sindiran halus kepada kaumnya yang menyembah benda-benda langit . Dalam catatan tafsir Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibrahim sedang mengajak kaumnya berpikir: bagaimana mungkin tuhan yang disembah adalah benda yang tenggelam dan menghilang? Argumen ini sangat logis: sesuatu yang tidak kekal, yang bisa terbenam dan lenyap, tidak layak disebut Tuhan .
Ibrahim kemudian terus mengamati. Bulan purnama muncul dengan sinarnya yang lembut namun menerangi bumi. Kembali ia berseru:
فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْ ۚفَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ
“Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.'”
Lihatlah perkembangan logikanya! Ketika bintang terbenam, Ibrahim hanya berkata “aku tidak suka yang tenggelam”. Namun ketika bulan yang lebih besar dan lebih terang itu pun ikut tenggelam, ia menyadari bahwa tanpa petunjuk Allah, manusia benar-benar bisa tersesat dalam kebingungan. Di sinilah letak keistimewaan Ibrahim: ia tidak pernah berhenti pada kekaguman semata, melainkan terus menganalisis dan menyimpulkan.
Puncaknya terjadi di pagi hari. Matahari terbit dengan megahnya, jauh lebih besar dan lebih terang dari bulan maupun bintang. Ini adalah pengamatan terakhir:
فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
“Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.’ Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.'”
Kata bari’un (berlepas diri) menunjukkan keputusan final. Ibrahim tidak lagi berkata “mungkin” atau “seandainya”. Ia telah menemukan kesimpulan yang kokoh: semua benda langit ini hanyalah makhluk yang tunduk pada hukum alam-mereka terbit dan tenggelam, mereka tidak memiliki kuasa atas diri mereka sendiri. Mereka tidak layak disembah. Lantas siapa yang layak?
Jawabannya di ayat berikutnya:
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Dalam Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, kalimat fatharas samawati wal ard (yang menciptakan langit dan bumi) menjadi inti tauhid Ibrahim. Tuhan yang ia cari bukanlah benda yang diciptakan, melainkan Pencipta dari semua benda itu . Inilah puncak pencarian: tauhid uluhiyah yang dibangun di atas fondasi tauhid rububiyah.
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah peristiwa ini terjadi ketika Ibrahim masih kanak-kanak atau sudah dewasa, dan apakah ia benar-benar meyakini bintang sebagai Tuhan atau sekadar metode dakwah . Namun yang terpenting adalah hikmah yang bisa kita petik. Kisah ini mengajarkan bahwa pencarian Tuhan adalah proses yang agung dan sangat manusiawi. Allah tidak marah ketika Ibrahim bertanya dan mencari. Justru Allah memuji dan mengabadikan proses pencarian ini dalam kitab suci.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita renungkan sebagai Pelajaran dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim di atas :
Hikmah pertama, pencarian Ibrahim mengajarkan bahwa akal adalah anugerah Allah yang harus digunakan untuk menemukan kebenaran. Beragama tidak boleh sekadar ikut-ikutan (taqlid) tanpa pemahaman. Kaum Ibrahim menjawab ketika ditanya tentang berhala mereka: “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya” (QS. Al-Anbiya’: 53). Ibrahim menolak logika warisan buta ini. Ia menggunakan akalnya untuk mengamati alam, berpikir kritis, dan menarik kesimpulan.
Hikmah kedua, kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan yang sejati tidak mungkin terbatas oleh ruang dan waktu. Bintang, bulan, dan matahari semuanya terikat oleh hukum alam. Mereka terbit, mereka tenggelam. Tuhan yang layak disembah adalah Dzat yang mengatur terbit dan tenggelamnya mereka. Inilah yang kemudian Ibrahim sampaikan dalam debatnya dengan Raja Namrud, ketika ia berkata:
فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu.” (QS. Al-Baqarah: 258)
Hikmah ketiga, pencarian Ibrahim menunjukkan bahwa menemukan Tuhan bukan sekadar prestasi akal, melainkan hidayah dari Allah. Di akhir pengamatannya, Ibrahim berkata: “Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Ini adalah pengakuan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Akal bisa mengantarkan pada kesimpulan bahwa alam semesta butuh pencipta, tetapi untuk mengenal siapa Pencipta itu dan bagaimana menyembah-Nya, manusia butuh petunjuk langsung dari-Nya .
Kisah Ibrahim ini bukanlah dongeng masa lalu. Ini adalah cermin bagi kita semua. Di era modern ini, manusia mungkin tidak lagi menyembah bintang atau matahari secara harfiah. Tapi lihatlah, bukankah kita sering terjebak dalam penyembahan terselubung? Ada yang menyembah harta, jabatan, popularitas, bahkan hawa nafsunya sendiri. Setiap kali kita menjadikan sesuatu sebagai tujuan akhir, sebagai yang paling kita cintai dan kita takuti melebihi Allah, di situlah letak kesyirikan modern.
Proses Ibrahim mengajarkan bahwa Tuhan yang sejati tidak pernah tenggelam, tidak pernah berubah, tidak pernah melemah. Ia selalu ada, selalu kekal, selalu mendengar. Ketika semua “tuhan-tuhan” duniawi ini—harta, tahta, cinta manusia—pada akhirnya akan terbenam seperti bintang di ufuk barat, hanya Allah yang tetap tegak dalam keabadian-Nya. Dan ketika matahari terbenam, ketika gemerlap dunia meredup, ketika semua yang kita andalkan dalam hidup ini satu per satu “tenggelam” meninggalkan kita, hanya satu pertanyaan yang tersisa: kepada siapa wajah ini akan kita hadapkan?
Ibrahim menjawab dengan tegas: aku hadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi. Maka, mari kita tundukkan wajah, kita arahkan hati, dan kita persembahkan seluruh hidup ini hanya kepada-Nya. Dialah yang tidak pernah tenggelam. Dialah yang selalu ada. Laa ilaaha illallah.
Wallahu a’lam bish shawaab