Di tengah riuh rendah kehidupan yang memecah fokus, di antara tarikan hawa nafsu dan godaan untuk memilih-milih ajaran yang sesuai selera, al-Qurāan menurunkan seruan yang begitu mendasar, begitu gemetar menyentuh relung hati. Seruan itu terabadikan dalam tiga ayat pendek Surat Al-Baqarah.
Seruan itu bagai kilatan cahaya yang menyibak kabut keraguan dan kemalasan ruhani. Ia bukan sekadar instruksi hukum, melainkan panggilan mesra dari Sang Kekasih Abadi untuk memasuki sebuah taman yang bernama āal-silmā, sebuah ruang penuh kedamaian yang hanya bisa dimasuki dengan tiket ketotalan.
Allah berfirman dalam al-Qur’an Ayat ke-208, memulai dengan panggilan yang amat lembut, āYÄ ayyuhallażīna ÄmanÅ«ā, āWahai orang-orang yang beriman!ā Sebuah sapaan yang menyiratkan bahwa hanya mereka yang telah memiliki bibit keimanan di dalam dada yang layak diajak menuju maqam yang lebih tinggi.
Lalu, datanglah perintah agung itu: āudkhulỄ fis-silmi kÄffahā, āMasuklah ke dalam Islam (perdamaian) secara keseluruhan.ā Kata āal-silmā di sini laksana permata dengan dua sisi yang sama-sama memancarkan kilau. Di satu sisi, ia adalah āal-IslÄmā itu sendiri, agama penyerahan diri. Di sisi lain, ia adalah āal-muį¹£Älaįø„ahā, perdamaian dan harmoni.
Maka, memasuki āal-silmā adalah memasuki Islam yang esensinya adalah damai; sebuah kepasrahan total yang melahirkan ketenteraman. Tidak ada pertentangan di antara keduanya, karena hanya dengan berserah diri seutuhnya kepada Allah, hati dan kehidupan ini akan menemukan damai yang hakiki.
Perhatikan, kata ākÄffahā. Ia bukan sekadar āsemuanyaā, melainkan sebuah kata keterangan yang menuntut dua dimensi sekaligus. Pertama, seluruh pribadi kita, setiap jengkal jiwa dan raga, harus masuk tanpa menyisakan secuil ego untuk memberontak. Kedua, seluruh ajaran Islam, dari akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak, wajib diterima tanpa sikap memilah.
Di sinilah, ayat ini melontarkan kritik pedas kepada fenomena keislaman parsial. Ibnu Abbas meriwayatkan, ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok Ahli Kitab yang baru memeluk Islam, seperti Abdullah bin Salam. Hati mereka telah beriman, tetapi sisa-sisa pengagungan pada syariat lama masih bercokol; mereka masih mengagungkan hari Sabtu atau enggan menyentuh daging unta.
Melalui lisan Nabi-Nya, Allah menegaskan: syariāat Islam adalah paket sempurna yang tak bisa dicampuradukkan. Memasuki Islam berarti meninggalkan seluruh aturan masa lalu yang telah dihapus, karena engkau kini berada dalam naungan risalah pamungkas. Inilah pesan pertama yang menggoncang: tidak ada tempat bagi iman setengah hati.
Setelah mengajak, Allah segera menutup celah yang akan dimasuki musuh abadi. Lanjutan ayat itu adalah tembok perlindungan: āwa lÄ tattabi’Ễ khuį¹uwÄtisy-syaiį¹Änā, ādan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan.ā Metafora ālangkahā di sini sangat dalam. Setan tidak pernah mengajak manusia langsung melompat ke jurang dosa besar.
Ia berbisik, selangkah demi selangkah; sedikit kompromi di sini, sedikit penundaan di sana, sedikit pembenaran terhadap hawa nafsu, hingga tanpa terasa engkau telah menjauh dari titah āmasuklah secara totalā.
Setiap keengganan menerima satu hukum Islam, setiap ajakan untuk berpecah belah dan meninggalkan āal-silmā, adalah tapak-tapak halus yang disebarkan setan. Dan Allah memberikan alasan yang tak terbantahkan: āinnahỄ lakum ‘aduwwum mubÄ«nā, āSungguh, ia musuh yang nyata bagimu.ā
Pernyataan ini bukan kabar biasa, melainkan peringatan keras yang membuka topeng setan. Musuh yang nyata tidak layak diikuti langkahnya, apalagi dijadikan teman setia.
Namun, jalan terjal masih membentang. Ayat ke-209 hadir dengan nada yang tiba-tiba meninggi, mengguncang jiwa yang mungkin mulai terlena: āFa in zalaltum mim ba’di mÄ jÄ’atkumul-bayyinÄtā, āMaka jika kamu tergelincir setelah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata.ā
Kata āzalaltumā berasal dari āaz-zalaluā, tergelincir karena licin. Ini adalah analogi yang begitu jujur. Seseorang yang telah berjalan di atas jalan lurus, yang telah disinari cahaya petunjuk (al-BayyinÄt), jika kemudian melenceng, itu bukanlah sekadar tersesat biasa. Ia tergelincir karena tidak berhati-hati, karena menganggap remeh licinnya jalan dunia.
Bukti-bukti nyata itu bisa berarti Al-Qurāan, sunnah, atau akal sehat yang menganugerahkan hujjah terang. Maka, tergelincir setelah datangnya ilmu adalah bentuk pengkhianatan akal dan wahyu. Ancaman tidak diucapkan secara vulgar, melainkan diselimuti keagungan dua nama-Nya yang maha dahsyat: āfa’lamÅ« annallÄha ‘AzÄ«zun įø¤akÄ«mā, āketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Mahabijaksana.ā
Kenali dan renungkanlah! Dia Maha Perkasa, tak satu pun dapat menghalau azab-Nya jika ia berkehendak. Dia Mahabijaksana, sehingga setiap siksaan yang ditimpakan bukanlah aniaya, melainkan buah dari pelanggaran yang setimpal. Tidak ada pelarian, tidak ada banding. Ayat ini menjadi cemeti bagi siapa pun yang mengaku beriman namun gemar bertengkar, memicu konflik, atau meninggalkan perdamaian yang telah diperintahkan.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang menunda-nunda? Yang berkata dalam hati, āKelak aku akan berubah, nanti aku akan bertobat, besok aku akan total.ā Untuk mereka, ayat ke-210 turun sebagai tamparan realitas eskatologis: āHal yanįŗurÅ«na illÄ ay ya’tiyahumullÄhu fÄ« įŗulalim minal-ghamÄmi wal-malÄ’ikatu wa quįøiyal-amrā, āTiadalah yang mereka tunggu-tunggu, melainkan datangnya (siksa) Allah bersama para malaikat dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkara itu.ā Betapa mengerikan penantian mereka.
Awan yang biasanya menaungi rahmat dan kesejukan, kini berubah menjadi naungan azab yang menakutkan. Para mufassir klasik seperti Imam Malik mengajarkan kita untuk mengimani ākedatanganā Allah sebagaimana yang dinyatakan, tanpa membayangkan cara (kaifiyah), sambil menyucikan-Nya dari sifat makhluk.
Sementara itu, ulama seperti al-BaiįøÄwÄ« mentakwilkan bahwa yang datang adalah perintah dan ketetapan-Nya yang tak tertahankan. Apapun pendekatannya, intinya satu: hari itu, seluruh perkara akan diputuskan, āwa quįøiyal-amrā. Tak ada lagi kesempatan, tak ada lagi ampunan dengan taubat, tak ada lagi negosiasi.
Panggung sandiwara dunia telah runtuh, dan tibalah Mahkamah Agung Sang Pencipta. Ayat ditutup dengan suatu kepastian yang menghujam: āwa ilallÄhi turja’ul-umỄrā, āDan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.ā Ke mana lagi kau akan lari? Semua urusan, semua perbedaan pendapat, semua konflik, semua kemenangan dan kekalahan semu, akan kembali pada-Nya untuk dihakimi dengan seadil-adilnya.
Maka, ketika ketiga ayat ini kita tautkan dalam untaian kalbu, lahirlah sebuah manifesto ruhani yang utuh. Ia adalah cetak biru perjalanan seorang mukmin dari awal hingga akhir. Panggilan untuk masuk ke dalam perdamaian secara total adalah fondasi. Kewaspadaan agar tidak tergelincir dan jatuh dalam perpecahan adalah dindingnya.
Dan kesadaran bahwa penantian hanyalah menuju panggung penghakiman terakhir adalah atap yang melindungi dari kelalaian. Dalam dunia yang gemar mengkotak-kotakkan kehidupan, di mana agama sering diisolasi di sudut ritual lalu diabaikan di ruang ekonomi, politik, dan sosial, ayat ini laksana air sejuk yang memadamkan bara sekularisme. Ia mendobrak tembok pemisah itu.
Berislam secara ākaffahā berarti menjadikan Al-Qurāan sebagai pedoman dalam berdagang, bernegara, berkeluarga, dan berinteraksi dengan yang berbeda keyakinan. Sebab perdamaian tidak akan terwujud jika kita hanya sujud di masjid, lalu di luar kita mencaci, menipu, atau merampas hak orang lain. Setan justru menari di atas pecahan-pecahan parsialitas kita.
Sudahkah kita benar-benar āmasukā? Atau selama ini kita hanya berdiri di ambang pintu gerbang *al-silm*, hanya memasukkan satu kaki lalu hati dan pikiran masih berkeliaran di luar? Keislaman yang utuh bukanlah tanpa cela, karena manusia adalah tempat khilaf, tetapi ia adalah orientasi hati yang bulat dan perjuangan tiada henti untuk menyesuaikan seluruh dimensi hidup dengan wahyu.
Ini adalah penolakan tegas terhadap budaya āiman diskonā, yang menerima ibadah tetapi menolak jilbab, yang mengaku cinta damai tetapi menyebar fitnah dan ujaran kebencian, yang menghafal ayat-Nya tetapi mencabik-cabik persaudaraan. āKaffahā adalah jihad terberatājihad melawan diri sendiri, melawan langkah-langkah setan yang dibungkus argumen manis.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju titik di mana segala urusan dikembalikan kepada Allah. Setiap langkah parsial akan dimintai pertanggungjawaban, setiap pertikaian sesama mukmin yang didiamkan akan menjadi saksi memberatkan.
Karena itu, dengarlah kembali panggilan cinta dari langit itu, āMasuklah ke dalam perdamaian secara keseluruhan!ā Datanglah dengan segenap jiwa ragamu. Jangan tunda lagi, karena bisa jadi selagi kita menunda, awan kiamat itu telah bergerak membawa keputusan yang tak bisa ditawar. H
anya dengan menjadi muslim yang utuh, kita bisa merengkuh damai sejatiādamai dengan Allah, damai dengan diri sendiri, dan damai dengan semesta. Hanya dalam totalitas itulah kita menemukan hakikat kemanusiaan kita yang paling murni.
Wallahu aālam bish shawaab