Nasional

Lengkingan Vuvuzela di Tengah Reruntuhan: Piala Dunia 2026 dan Hipnosis Global

Di tengah pusaran ketidakpastian global dari memanasnya tensi geopolitik, ancaman resesi, hingga jeritan ekologis yang kian memekakkan-umat manusia justru bersiap menyalakan kembang api terbesarnya. Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar turnamen olahraga, melainkan sebuah laboratorium sosiologis raksasa yang mempertontonkan ironi peradaban.

Untuk pertama kalinya, dalam sejarah pesta sepak bola terakbar ini, akan digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebanyak 48 tim (meluas dari 32) akan bertarung di 16 kota dari Vancouver hingga Mexico City, dari New York hingga Guadalajara, dengan puncaknya pada 19 Juli 2026 di Met Life Stadium, New Jersey.

Inilah operasi “sirkus global” paling ambisius. Kita tengah menyaksikan bagaimana kapitalisme mutakhir mengorkestrasi euforia untuk menutupi luka-luka struktural. Di satu sisi, Amerika Utara memamerkan kemegahan infrastruktur dan janji inklusivitas; di sisi lain, di selatan perbatasan, kita tahu ada ketimpangan akut, krisis migrasi, dan ironi di mana buruh-buruh Meksiko yang mungkin menjadi tulang punggung konstruksi stadion justru tak mampu membeli tiket untuk menyaksikan bintang-bintang Eropa berlaga.

Sosiologi menyebut ini sebagai “kesadaran palsu” sebuah kondisi di mana massa tersihir oleh tontonan spektakuler sehingga abai pada kontradiksi yang menganga di depan mata. Kita sahut-sahutan “We Are One” (slogan resmi Piala Dunia 2026), seolah-olah sekat-sekat etnis, kelas, dan gender benar-benar ‘luruh ‘hanya karena si kulit bundar menggelinding.

Padahal, bola hanyalah medium proyeksi: ia memantulkan ketakutan, harapan, dan tribalisme primitif manusia modern.

Lebih jauh, dari kacamata sosiologi tubuh dan hasrat, Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung “ekstase kolektif” yang disponsori korporasi. Bayangkan momen di mana Lionel Messi (jika ia masih mungkin kembali) atau Kylian Mbappé menggiring bola, dan miliaran pasang mata dari Jakarta, Lagos, hingga Berlin terpaku pada layar serempak.

Inilah momen di mana individu melebur ke dalam “kesadaran gerombolan” (crowd consciousness), mengalami katarsis massal yang bersifat industri. Euforia yang dihasilkan bukanlah sukacita organik, melainkan komoditas emosional yang dirancang secara algoritmik untuk meredam kegelisahan eksistensial kita.

Di tengah laporan IPCC tentang kiamat iklim yang semakin dekat, kita lebih peduli pada formasi timnas ketimbang emisi karbon penerbangan para pemain ribuan supporter.

Lalu, ke mana arah kompas moral kita di tengah hipnosis megaspektakel ini? Di sinilah Islam menawarkan lensa penyeimbang yang menyelamatkan manusia dari jerat pelarutan diri. Peradaban Islam mewariskan konsep ‘uzlah dan muhasabah-kemampuan untuk melepaskan diri dari kebisingan duniawi dan menghisab diri.

Al-Qur’an menyindir halus tipologi manusia yang terlena, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum ayat 7). Piala Dunia adalah sekeping “lahiriah” dunia yang memesona, namun jika ia menjadikan kita abai pada ketidakadilan di sekitar, tertawa riang di atas penderitaan saudara seiman yang tertindas, atau menghabiskan malam tanpa sadar hingga lalai kewajiban transendental, maka ekstase itu telah berubah menjadi racun spiritual.

Dan di sinilah letak keajaiban kalender spiritual yang tak bisa dipandang sebagai kebetulan. Lihatlah bagaimana Sang Maha Pengatur waktu mempertemukan dua orbit peristiwa secara nyaris bersamaan, menciptakan kontras yang begitu tajam seolah sengaja dihadirkan sebagai ujian prioritas.

Piala Dunia 2026 resmi bergulir pada 11 Juni. Belum genap satu pekan hingar-bingar fase grup memanas, belum sempat rivalitas Argentina-Brasil atau Inggris-Jerman menyita habis akal sehat kita, tiba-tiba sebuah undangan agung mengetuk pintu hati: Selasa depan, 16 Juni 2026, umat Islam akan memasuki gerbang 1 Muharram 1448 Hijriah.

Perhatikan ironi waktunya. Saat dunia baru saja menyelesaikan rangkaian laga pembuka, saat jadwal pertandingan masih padat berjejal di layar ponsel, saat media sosial riuh memperdebatkan taktik dan skandal offside, saat itulah tepat di tengah gemuruh stadion tak terdengar bunyi peluit kick-off, melainkan bisikan lembut tahun baru hijriah.

Ia tidak menunggu sampai confetti emas jatuh di New Jersey. Ia tidak menunggu sampai kita selesai berpesta. Ia datang justru ketika pesta baru dimulai, menyusup di sela-sela pertandingan matchday kedua dan ketiga fase grup, menawarkan jeda spiritual di tengah jadwal yang memaksa kita untuk terus menonton, terus berkomentar, terus terhanyut.

Inilah pertemuan dua perayaan yang berkontradiksi secara hakikat: satu perayaan yang gegap gempita, menyalakan api tribalisme dan fanatisme buta; satu lagi perayaan ruh yang sunyi dan dalam, justru memadamkan api-api kesombongan diri.

Jika Piala Dunia merayakan siapa yang tercepat, terkuat, dan paling perkasa menguasai lapangan hijau, maka Muharram merayakan sesuatu yang paradoks: kemenangan melalui hijrah-meninggalkan, bukan merebut.

Ia mengajarkan bahwa kejayaan sejati bukan terletak pada trofi yang diangkat di hadapan sorak-sorai manusia, melainkan pada keberanian untuk meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari “hipnosis global” menuju keterjagaan jiwa.

Ketika layar televisi di warung kopi menayangkan selebrasi gol penuh keringat dan teriakan, adzan maghrib 1 Muharram berkumandang mengingatkan bahwa ada “gol” yang lebih penting untuk dirayakan: hijrah-nya hati dari kelalaian menuju perbaikan diri.

Muharram adalah momentum di mana Rasulullah Saw dan para sahabat menorehkan sejarah bukan dengan mencetak skor, melainkan dengan meninggalkan kampung halaman demi membangun peradaban yang di ridhai Allah. Inilah cetak biru eksistensial bagi setiap Muslim yang ingin keluar dari “kegelapan” menuju “cahaya”.

Kegelapan itu bisa bernama fanatisme buta terhadap klub atau negara, hedonisme pesta olahraga yang menghabiskan malam tanpa sadar, atau sekadar tenggelam dalam arus kerumunan tanpa arah.

Sementara cahaya itu adalah kemampuan untuk tetap menikmati keindahan permainan sebagai tanda kebesaran Allah yang menciptakan kecekatan fisik manusia, namun sambil menancapkan kaki di bumi realitas: bahwa di luar sana masih ada jeritan lapar, perang, dan penindasan yang tak masuk siaran televisi.

Maka, ketika pada Selasa depan kita mengucapkan “Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H” sementara jadwal pertandingan matchday ketiga fase grup masih menanti untuk ditonton, sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada pilihan peradaban: tetap menjadi bagian dari kerumunan yang tersihir, atau melangkah keluar sebagai pribadi yang merdeka secara spiritual.

Piala yang abadi bukanlah trofi emas 18 karat yang akan diperebutkan di New York pada 19 Juli nanti, melainkan ampunan dan ridha Ilahi yang sudah tersedia sejak Selasa ini, tersembunyi di balik hijrah hati, di balik ibadah, dan di balik empati sosial. Di tengah lengkingan vuvuzela yang baru saja dimulai, manusia bijak adalah ia yang memilih mendengar bisikan Muharram lebih lantang dari segalanya.

Selamat datang, 1 Muharram 1448 H. Di tengah reruntuhan ilusi modern, engkau hadir bukan setelah pesta usai, melainkan justru saat pesta baru dimulai menawarkan pelabuhan bagi jiwa-jiwa yang lelah sebelum ia benar-benar tenggelam.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

RELIMA RI Bumi Gora: Dukung Program NTB Membaca, NTB Mendunia, Melalui Penyusunan Modul Ajar Di Gumi Tastura

Sofian Hadi

Tim Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) RI Membangun Sinergi Dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (ARPUSDA) Kabupaten Sumbawa Barat.

Sofian Hadi

Sumbawa: Sebuah Filsafat Tentang Asal Mula Keberadaan

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Bunda Literasi NTB Perkuat Gerakan Literasi Melalui Peran Perpustakaan Desa, Kelurahan, TBM Serta Komunitas Baca di Nusa Tenggara Barat

Sofian Hadi

Pengumuman Pemenang Kompetisi Video Anniversary ke-2 Batuter.com 2025

Batuter

Hari Santri: Manifesto Jihad Ulama dan Santri

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page