Ilmu

Dari Wadd ke Manat: Riwayat Berhala yang Diabadikan Al-Qur’an dan Pelajaran Untuk Umat

Di antara sekian banyak kisah yang diabadikan Al-Qur’an, terdapat satu episode yang sangat unik dan penuh ibrah: penyebutan nama-nama berhala secara eksplisit. Biasanya Al-Qur’an berbicara tentang berhala dalam bentuk umum, sebagai ‘ashnam’ atau ‘awtsan’.

Namun dalam dua tempat, kitab suci ini menyebut nama-nama spesifik: lima berhala yang disembah kaum Nabi Nuh, dan tiga berhala yang menjadi sesembahan utama bangsa Arab Quraisy menjelang datangnya Islam.

Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah petunjuk ilahi yang dengan sengaja mengabadikan nama-nama itu agar umat manusia merenungkan siklus kesesatan yang terus berulang, dan memahami bagaimana kesyirikan bermula dari sesuatu yang tampaknya baik, lalu berubah menjadi bencana teologis yang mengerikan.

Akar paling fundamental dari penyembahan berhala di muka bumi terekam dalam sebuah riwayat yang sangat otoritatif. Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang menjelaskan latar belakang turunnya ayat tentang berhala-berhala kaum Nuh.

Beliau berkata, “Berhala-berhala yang disembah kaum Nuh itu pada mulanya adalah nama-nama orang saleh di kalangan mereka. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis tempat mereka biasa duduk, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’

Maka mereka pun melakukannya, dan ketika itu patung-patung tersebut belum disembah. Hingga ketika generasi itu telah wafat dan ilmu telah dilenyapkan, jadilah patung-patung itu disembah.” Riwayat ini menjadi kunci utama untuk memahami psikologi kesyirikan. Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr pada hakikatnya bukanlah dewa dari langit.

Mereka adalah manusia-manusia bertakwa yang hidup pada era antara Nabi Idris dan Nabi Nuh. Mereka dicintai, dihormati, dan dijadikan teladan. Ketika wafat, cinta yang berlebihan itu dieksploitasi oleh setan dengan dalih yang tampak mulia: mengenang untuk memotivasi ibadah. Ini adalah pintu masuk yang begitu halus, karena tidak ada yang merasa menyembah selain Allah pada tahap awal ini. Mereka hanya mendirikan monumen pengingat.

Lima nama yang diabadikan dalam Surah Nuh ini memiliki makna dan karakter tersendiri. Wadd, yang secara harfiah berarti “cinta”, adalah personifikasi kasih sayang dan persahabatan. Dalam catatan al-Kalbi di “Kitab al-Asnam”, patungnya berbentuk seorang lelaki yang gagah.

Suwa’, yang namanya terkait dengan “telinga” atau “kebahagiaan”, digambarkan sebagai sosok perempuan. Yaghuts, berarti “penolong” atau “penyelamat”, diwujudkan sebagai singa yang perkasa. Ya’uq, “penjaga” atau “pencegah bahaya”, dilambangkan sebagai kuda yang gagah. Nasr, “elang”, adalah simbol visi tajam dan dominasi.

Mereka bukan sekadar batu, melainkan representasi nilai-nilai universal yang didambakan manusia: cinta, pertolongan, perlindungan, kebahagiaan, dan kemenangan. Di sinilah titik rawan itu muncul: manusia menggantungkan harapan akan nilai-nilai tersebut bukan kepada Allah, melainkan kepada simbol-simbol yang sejatinya mati.

Generasi demi generasi berlalu. Ingatan bahwa patung-patung itu hanyalah media pengingat perlahan terkikis. Ketika para ulama dan orang berilmu di antara mereka wafat, setan masuk melalui celah yang lebih lebar. Ia membisikkan narasi baru: “Leluhur kalian menyembah patung-patung ini.

Melalui merekalah hujan diturunkan, rezeki dilapangkan, dan do’a dikabulkan.” Maka jadilah patung-patung itu sesembahan yang sesungguhnya, dimintai pertolongan, dipersembahi kurban, dan diyakini memiliki kekuatan supranatural.

Al-Qur’an merekam puncak kesesatan ini dengan nada yang memilukan. Allah berfirman mengisahkan pengaduan Nabi Nuh setelah sembilan setengah abad berdakwah:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًا ۚ

“Dan mereka (kaum Nuh) berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu tinggalkan tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula sekali-kali kamu tinggalkan Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (QS. Nuh: Ayat 23).

Ayat ini adalah potret pembangkangan total. Mereka tidak hanya menolak meninggalkan berhala-berhala itu, tetapi juga saling mewasiatkan untuk mempertahankannya. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa inilah awal mula penyembahan berhala di muka bumi setelah periode tauhid yang panjang.

Ia menukil riwayat Ibnu Abbas yang telah disebutkan, dan menambahkan bahwa setelah banjir besar menenggelamkan kaum Nuh, patung-patung itu ikut terseret dan terbenam dalam lumpur selama berabad-abad. Kemudian, iblis membangkitkan kembali kultus ini di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, seolah-olah ia menyimpan arsip kesesatan untuk digunakan kembali saat manusia mulai melupakan tauhid.

Ath-Thabari dalam ‘Jami’ al-Bayan’ merinci distribusi penyembahan kelima berhala ini di antara kabilah-kabilah Arab setelah banjir. Wadd diadopsi oleh kabilah Kalb di Daumatul Jandal, Suwa‘ oleh Hudzail, Yaghuts oleh Murad dan Bani Ghuthaif di Yaman, Ya’uq oleh Hamdan, dan Nasr oleh Himyar. Dengan demikian, apa yang tampak sebagai kisah masa lalu yang telah tenggelam, sebenarnya adalah benih yang kelak akan tumbuh kembali menjadi hutan kesyirikan di tanah Arab.

Dan benar saja. Menjelang fajar kenabian Muhammad SAW, jazirah Arab adalah laboratorium kesyirikan yang paripurna. Di antara sekian banyak berhala yang memenuhi Ka’bah dan sekitarnya, tiga berhala menempati posisi tertinggi: Al-Lata, Al-‘Uzza, dan Manat. Mereka bukan sekadar batu biasa.

Mereka adalah triad dewi yang diyakini sebagai anak-anak perempuan Allah, sebuah konsep yang sangat biadab mengingat bangsa Arab sendiri membenci kelahiran anak perempuan dan sering menguburnya hidup-hidup. Al-Qur’an mengangkat kontradiksi ini dengan serangan teologis yang sangat tajam:

أَفَرَءَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثَىٰ تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَىٰ إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَءَابَاۤؤُكُمْ مَّآ أَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗإِنْ يَّتَّبِعُوْنَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُ ۚوَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى

“Maka apakah kamu (orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata, Al-‘Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak-anak perempuan Allah)? Apakah (pantas) untukmu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sungguh, telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”* (QS. An-Najm: 19-23).

Para mufasir klasik seperti al-Alusi dalam ‘Ruh al-Ma’ani’ menggarisbawahi betapa argumen Al-Qur’an ini menghantam dari dua arah sekaligus: logika dan psikologi. Secara logika, bagaimana mungkin mereka yang malu memiliki anak perempuan justru menisbatkan anak perempuan kepada Allah? Ini adalah pembagian yang timpang (qismah diza), sebuah inkonsistensi yang menunjukkan kerapuhan fondasi keyakinan mereka.

Secara psikologis, Al-Qur’an membongkar bahwa ketuhanan berhala-berhala itu hanyalah konstruksi linguistik: “tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya.” Mereka adalah proyeksi hawa nafsu, bukan entitas ilahi yang memiliki realitas independen.

Siapakah ketiga berhala ini secara historis? Al-Kalbi dalam ‘Kitab al-Asnam’, yang merupakan sumber paling otoritatif tentang berhala-berhala Arab, memberikan gambaran yang sangat rinci. Al-Lata berasal dari kata ‘al-Ilahah’, bentuk feminin dari ‘al-Ilah’. Ia adalah dewi tertua dan termulia, pusat pemujaannya terletak di Tha’if.

Di sana berdiri sebuah bangunan mirip Ka’bah yang memiliki kiswah dan penjaga dari Bani Attab. Suku Tsaqif dan kabilah-kabilah Hijaz melakukan haji ke tempat ini, mempersembahkan kurban, dan meminta kesuburan serta kemakmuran. Al-Lata adalah simbol kemakmuran dan keibuan.

Al-‘Uzza, yang berarti “Yang Maha Perkasa”, adalah dewi paling populer di kalangan Quraisy. Tempat sucinya terletak di lembah Huradh, di antara Mekkah dan Tha’if, berupa tiga pohon samurah besar. Quraisy, termasuk tokoh-tokoh seperti Abu Lahab, sangat mengagungkannya. Mereka bernazar, berkurban, dan meminta kemenangan dalam peperangan kepada Al-‘Uzza.

Al-Kalbi meriwayatkan bahwa ketika seseorang bersumpah dengan menyebut Al-‘Uzza, sumpah itu dianggap paling sakral dan mengikat. Adapun Manat, yang berarti “takdir” atau “kematian”, adalah dewi tertua di antara ketiganya. Pusatnya berada di Qudaid, di pesisir Laut Merah antara Mekkah dan Madinah.

Suku Aus dan Khazraj, dua suku utama Madinah sebelum Islam, adalah penyembah utamanya. Mereka tidak menganggap haji mereka sah sebelum bertahallul di sisi Manat. Manat merepresentasikan kepasrahan kepada nasib buta, sebuah konsep yang sangat bertentangan dengan tauhid yang mengajarkan bahwa takdir sepenuhnya di tangan Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.

Apa yang paling mencengangkan dari kedua episode ini—kaum Nuh dan kaum Quraisy—adalah identitas argumen yang mereka gunakan untuk membenarkan penyembahan mereka. Mereka tidak pernah mengklaim bahwa berhala-berhala itu adalah pencipta langit dan bumi.

Mereka tetap mengakui Allah sebagai Tuhan Tertinggi. Namun, mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu adalah perantara, pemberi syafaat, yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Al-Qur’an merekam justifikasi ini dengan sangat jelas:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هٰٓؤُلَاۤءِ شُفَعَاۤؤُنَا عِنْدَ اللّٰهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka (berhala-berhala) itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: Ayat 18).

Begitu pula di ayat yang lain:

أَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ ۘمَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ إِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: Ayat 3).

Inilah inti dari logika syirik yang abadi. Kesalahan fundamentalnya adalah mengasumsikan bahwa Allah membutuhkan perantara untuk dijangkau, seolah-olah Dia adalah raja duniawi yang tidak bisa didekati kecuali melalui para menteri dan pembantunya.

Padahal, Allah berfirman bahwa Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri, dan bahwa Dia mendengar langsung setiap doa, permohonan, dan bisikan hati. Menjadikan makhluk sebagai perantara justru adalah penghalang, bukan jembatan. Ini adalah ilusi spiritual yang dibangun di atas fondasi ketidaktahuan tentang kemahamutlakan Allah.

Dalam “Tafsir al-Manar”, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha menganalisis fenomena ini dari sudut sosiologis yang mendalam. Mereka berpendapat bahwa penyembahan berhala lahir dari dua penyakit kronis umat manusia: taqlid buta kepada leluhur dan ketergantungan pada khurafat. Wadd dan Al-Lata bukan hanya batu; mereka adalah simbol dari pembekuan akal dan penyerahan diri kepada tradisi tanpa kritik.

Generasi demi generasi mewarisi kultus ini tanpa pernah mempertanyakan: dari mana asalnya? apa buktinya? siapa yang pertama kali memulai? Pertanyaan-pertanyaan fundamental inilah yang Al-Qur’an bangkitkan, dan yang selalu dihindari oleh para penyembah berhala karena jawabannya akan meruntuhkan seluruh bangunan keyakinan mereka.

Kisah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an menjadi template abadi bagi perjuangan melawan berhala. Ketika beliau melihat kaumnya menyembah patung-patung, pertanyaan pertamanya bukanlah “mengapa kalian menyembahnya?” tetapi lebih mendasar lagi:

إِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ

“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. Al-Anbiya’: Ayat 52).

Ini adalah pertanyaan yang memaksa kaumnya untuk merenungkan hakikat dari objek yang mereka sembah. Lalu beliau melanjutkan dengan ujian logis yang sederhana namun menghancurkan:

هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ إِذْ تَدْعُوْنَ أَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ أَوْ يَضُرُّوْنَ

“Apakah mereka mendengar kamu ketika kamu berdoa, atau memberi manfaat atau mudarat?” (QS. Asy-Syu’ara’: Ayat 72-73).

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab oleh kaum Ibrahim karena mereka tahu jawabannya: tidak. Patung-patung itu bisu, tuli, tidak bisa memberikan manfaat sedikit pun, bahkan tidak bisa melindungi diri mereka sendiri ketika Ibrahim menghancurkannya dengan kapak. Inilah ujian rasionalitas yang Al-Qur’an ajarkan: sebuah keyakinan harus memiliki dasar yang kokoh, dan sesembahan yang tidak bisa mendengar, melihat, atau merespons tidak layak untuk disembah.

Al-Qur’an bahkan menggunakan perumpamaan yang sangat merendahkan untuk membongkar kehinaan berhala-berhala itu di hadapan akal manusia:

إِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُ ۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ

“Wahai manusia, telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali. Sama lemahnya yang meminta dan yang diminta.” (QS. Al-Hajj: Ayat 73).

Ayat ini adalah pukulan telak bagi segala bentuk penyembahan berhala. Seekor lalat, makhluk yang paling dianggap hina, tidak bisa diciptakan oleh seluruh berhala yang disembah manusia, meskipun mereka semua bersatu untuk melakukannya.

Lebih dari itu, jika lalat merampas sedikit dari makanan persembahan yang diletakkan di depan patung, berhala itu hanya bisa diam. Ia tidak bisa marah, tidak bisa bergerak, tidak bisa merebut kembali apa yang diambil darinya. Maka, betapa hina dan lemahnya sesembahan yang bahkan dikalahkan oleh seekor lalat

Setelah Fathu Makkah, Rasulullah SAW mengirim ekspedisi untuk menghancurkan berhala-berhala ini secara fisik, sebagaimana Ibrahim menghancurkan berhala kaumnya. Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan diutus ke Tha’if untuk merobohkan Al-Lata.

Khalid bin al-Walid dikirim ke lembah Huradh untuk menebang pohon-pohon Al-‘Uzza dan membunuh jin wanita yang diyakini sebagai manifestasinya. Ali bin Abi Thalib diperintahkan ke Qudaid untuk menghancurkan Manat.

Mereka semua melaksanakan tugas itu dengan penuh keyakinan, dan berhala-berhala yang selama berabad-abad ditakuti dan diagungkan itu runtuh begitu saja tanpa bisa membela diri. Ini adalah bukti final bahwa apa yang disembah oleh kaum Nuh dan kaum Quraisy hanyalah ilusi yang tidak memiliki daya apa pun.

Penyembahan berhala, baik yang terjadi pada zaman Nuh maupun pada zaman Quraisy, tidak pernah dimulai dengan niat jahat. Ia selalu bermula dari cinta yang berlebihan kepada sesuatu yang baik, dari penghormatan yang melampaui batas kepada orang-orang saleh, dari keinginan yang tampak tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Namun, ketika cinta itu tidak dikendalikan oleh ilmu tauhid yang benar, ia berubah menjadi pengkultusan. Ketika penghormatan itu tidak diikat oleh syariat, ia berubah menjadi penyembahan. Ketika perantara itu tidak dihapus oleh pemahaman bahwa Allah Maha Dekat, ia berubah menjadi tandingan-tandingan yang memalingkan hati dari-Nya.

Inilah pelajaran yang abadi. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan bahwa Allah itu satu. Tauhid adalah pemurnian hati dari segala ketergantungan kepada selain-Nya, dari segala ketakutan kepada makhluk yang lebih besar daripada ketakutan kepada-Nya, dari segala harapan kepada perantara yang melebihi harapan langsung kepada-Nya.

Kaum Nuh dan Quraisy telah menunjukkan kepada kita bahwa ketika tauhid dikompromikan, meskipun dengan dalih yang terdengar spiritual, kehancuran akan mengikuti. Dan Al-Qur’an, dengan mengabadikan nama-nama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Al-Lata, Al-‘Uzza, dan Manat, sejatinya sedang memberikan peringatan kepada setiap generasi: janganlah kalian mengulangi kesalahan yang sama.

Janganlah kalian menjadikan apa pun—betapapun mulianya di mata manusia—sebagai saingan Allah dalam cinta, takut, harap, dan penghambaan. Karena pada akhirnya, segala sesuatu selain Allah akan hancur, dan hanya wajah-Nya yang kekal.

Hanya kepada-Nya lah kita meminta, hanya kepada-Nya lah kita bertawakal, dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali.

Wallahu a’lam bish shawab

Postingan terkait

Tiga Kerugian yang Menghinakan : Renungan bagi yang Baru Saja Melewati Ramadhan

M. Syarif Hidayatullah

Sang Pencari Cahaya: Merenung Logika Langit Bersama Nabi Ibrahim

M. Syarif Hidayatullah

Inilah Cara Membuktikan Cintamu Kepada Sang Nabi

Lalu Wawan Febriyanto

Penjelasan Ulama Tentang Aurat Wanita Di Hadapan Mahramnya

Lalu Wawan Febriyanto

Perbuatan Ghîbah Dan Kiat Menghindarinya

Sofian Hadi

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

Lalu Wawan Febriyanto

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page