Opini

Miris, Keserakahan Pelaku Buku Bajakan: Sebuah Catatan Observasi  

“Produksi buku bajakan adalah bencana literasi perbukuan yang tidak akan bisa mencerdasakan pembaca secara spiritual, namun hanya akan mencerdasakan pembaca secara intelektual._ Fadhil Sofian Hadi


Sudah menjadi rutinitas, ketika kunjungan ke luar daerah (kota), saya biasanya observasi ke pusat perbukuan. Tahun 2023, sekitar bulan Agustus saya ke Jakarta dalam acara Anugerah Penyuluh Agama Islam (PAI) Award yang diselanggarakan Kementerian Agara RI di Jakarta 7-10 Agustus 2023. Acara ini melibatkan Penyuluh Agama Islam di 38 Provinsi se-Indoensia. Saya berkesempatan mewakili Kabupaten Sumbawa Barat, NTB dalam ajang bergengsi tingkat Nasional tersebut.

Padatnya kegiatan, memaksa saya harus mencari ‘celah’ (waktu kosong) untuk bisa keluar hotel untuk explore beberapa pusat perbukuan di Jakarta. Siang hari di hari ke-3 diacara tersebut, selepas memberikan presentasi tentang inovasi da’wah metode penyuluhan baru, saya kemudian menghubungi teman yang tinggal di Jakarta, untuk berkunjung ke pusat perbukuan di sudut Ibu Kota.

Kebetulan, teman yang saya hubungi adalah wartawan media mainstream Nasional. Setelah persiapan rampung, kami bergegas menuju lokasi. Teman saya menyarankan, sore hari pusat perbukuan yang masih tetap buka letaknya di Kawasan Senen. Kami pun sepakat menuju ke kawasan Senen. Sore hari Jakarta padat merayap.

Dari jarak 50-meter, sudah terlihat tumpukan buku dan para penjaganya, ditemani pengasong di sudut trotoar jalan. Setibanya di sekitaran Senen, saya tidak langsung menyampari beberapa buku yang dijajakan. Saya berjalan santai sembari mengamati lapak-lapak dengan tumpukan bukunya menggunung.

Setelah cukup mengamati, Saya mendekat pelan, sambil tersenyum termangut-mangut, melihat penjaga lapak merapikan beberapa judul buku yang terbolak-balik. Sebuah pemandangan yang absurd. Sepanjang trotoar buku berjubel, bertumpuk dan berjejer tidak beraturan. Entah berapa explar judul yang tertimbun dan saling tindih, tidak ada catatan, list harga atau sejenis katalog. Hanya tumpukan buku asli dan bajakan bercampur-baur acak menggunung.

Langkah saya sesaat terhenti. Mata saya tertuju pada sebuah buku hard cover, dengan judul dan pengarang yang tidak asing. Ahkam As-Syulthaniah, Imam al-Mawardi. Buku fenomenal itu, berada di tumpukan paling bawah. Agak berdebu, namun masih terbungkus rapi. Bagi penjual atau pelaku bajakan, buku ini tidak ada bedanya dengan buku-buku lain.

Intinya, buku itu terjual. Itu yang ada dibenak mereka. Saya tidak mau berdebat Panjang. “Saya ambil buku ini pak” mendengar saya berujar, penjajak itu segera membanting tumpukan buku-buku lain, yang ‘berjubel.’ Setelah buku itu dipegang kemudian disodorkan kepada saya. Ada perasaan ‘gemetar’ saat tangan saya menyentuh buku yang dikarang oleh Abu Hasan Ali Ibn Muhammad, yang kelak beliau dijuluki Imam al-Mawardi.

Tidak menunggu lama, dan transaksi pun terjadi. Harga buku ini jauh dari harga normal. Walaupun buku itu original (asli). Kembali saya tertegun. Buku dengan pengarang besar dari Basrah ini, dihargai dengan harga yang tidak sepantasnya. Namun, begitulah realitasnya, para penjual dan pelaku pembajakan buku-buku, mereka tidak akan menghargai karya seorang Ulama’ sekaliber apa pun. Begitu miris.

Sebuah Realitas Pembajakan Buku yang Apatis

Selepas membayar buku Ahkam As-Syulthaniyah itu, Saya melanjutkan pengembaraan mencari buku dan judul lain. Tumpukan demi tumpukan buku saya lewati. Sesekali berhenti dan melihat jadul-judul buku yang menarik untuk ditawar. Cukup lelah dan menguras tenaga, walau sekadar berjalan santai di sekeliling trotoar pinggir jalan.

Teman saya menyarankan untuk rehat sejenak, sembari memesan minuman di pengasong yang lalu- lalang. Kami singgah dan duduk santai tepat di depan sebuah gerai toko buku “bajakan” yang lumayan agak besar. Dua gelas kopi dan air botol dingin yang kami pesan dari pengasong tiba. Sejenak kami bercakap ‘serius’ tentang dunia bajak-membajak (bajak buku, bukan bajak sawah).

Waktu berjalan cepat, sore mulai menghampiri. Setelah banyak membincang tentang buku dan pembajakan kami beranjak dari tempat duduk, menuju ke depan toko buku besar di depan kami. Dengan terburu-buru, seorang karyawan dengan perawakan kurus mempersilahkan kami untuk melihat-lihat dulu buku-buku di tokonya. Toko buku, tapi lebih tepatnya disebut gudang ilegal penyimpanan buku.

Cukup terperanjat mata saya melihat tumpukan buku, bergunung-gunung di gudang itu. Sepintas saya terkesima namun sedih melihat tumpukan buku-buku itu adalah buku Bahasa yang ditulis oleh ulama’-ulama’ besar Islam.

“Astagfrullah hal Adziim” hati saya bergumam. Betapa tidak, buku-buku yang tertumpuk dan tertimbun itu adalah buku para ulama’ yang seolah-olah tidak ada harganya sama-sekali. Kitab-kitab hadits, fikih, akidah Islam, tasawuf dan sebagainya, nampak berdebu dan tergeletak lusuh, kotor di atas lantai toko. Tertindih, terkoyak, terserak. Semua buku dan kitab yang tergeletak itu adalah buku dan kitab bajakan!

Tidak kuat hati saya melihat kitab-kitab dari pengarang besar Islam, di bajak dan diperjual dengan seenaknya. Dunia pembajakan buku ini memang sangat kejam, zalim, meresahkan, dan merugikan Penulis sekaligus Penerbit, yang susah telah payah menulis dan menerbitkan gagasannya. Sungguh ini tak bisa dibiarkan.

Pembajakan Buku Yang Terus Berlanjut      

Kompas, baru-baru ini menerbitkan sebuah temuan inverstigasi berjudul “Mesin Uang Pembajakan Buku Terus Menderu” dalam investigasinya 19 Mei 2026. Kompas meyebutkan bahwa mesin-mesin pencetak buku di Kawasan Senen hampir tidak pernah berhenti produksi. Lakon ini dilakukan secara terang-terangan. Industri ini menjadi mesin uang dengan omzet miliaran setiap bulan, bukan setiap tahun.

Sebuah fenomena tragis, ketika pembajakan buku lebih menudulang keuntungan daripada penerbit dan penulis itu sendiri. Distribusi buku-buku bajakan, sebaliknya lebih masif dibanding distribusi penerbit. Pemasok dan pelaku pembajakan bahkan mampu mendistribusikan buku bajakan per-hari-nya untuk di dagang dan dipasarkan diberbagai flatform media sosial.

Entah ini realitas pembiaran atau regulasi yang kacau carut-marut dan enggan ditegakkan? Sebuah kenyataan yang arus diakui oleh siapa pun. Dalam skala besar, produksi buku bajakan adalah bencana lieterasi perbukuan yang tidak akan bisa mencerdasakan pembaca secara spiritual, namun hanya akan mencerdasakan pembaca secara intelektual.

Pembajakan buku, adalah kezaliman apapun bentuknya. Sebab, mencetak, memproduksi, dan mengedar tanpa izin dari Penerbit dan Penulis. Pelaku pembajakan buku adalah pembegal intelektual yang harus ditangkap dan di adili. Bukan sebaliknya, dibiarkan, dibela dan dilindungi.

Sampai kapan para pelaku pembajakan buku ini akan terus menjadi benalu di Negeri ini? Mereka (para pembajak) adalah inang yang harus dimusnahkan dalam organisme pemerintahan. Semoga regulasi, aturan dan hukum benar-benar ditegakkan untuk para pelaku pembajakan. Amiin

Wallahua’alam bish shawaab     

Postingan terkait

Tantangan Pemikiran Islam: Sebuah Tinjauan Primordial

Sofian Hadi

Sumbawa: Sebuah Filsafat Tentang Asal Mula Keberadaan

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Meretas Nalar Kedaulatan (Catatan Opini untuk Negeri)

Sofian Hadi

Pentingnya Pendidikan dalam Islam: Mencetak Generasi Berwawasan dan Berakhlak Mulia

Sofian Hadi

Sepuluh Mahkota Kemuliaan Untuk Hati Yang Haus Ampunan 🔰

M. Syarif Hidayatullah

Inilah Cara Membuktikan Cintamu Kepada Sang Nabi

Lalu Wawan Febriyanto

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page