Ilmu

Tafsir Aysarut Tafasir: Surat Al-Baqarah 204-207

Penjelasan Kosa Kata:

يُعْجِبُكَ

(mengagumkanmu): menyenangkan hatimu dan kamu menganggapnya baik.-

فِي الدُّنْيَا

(dalam urusan dunia): apabila ia berbicara tentang perkara-perkara dunia,

– أَلَدُّ الْخِصَامِ

(Sangat kuat dalam permusuhan): sangat kuat dalam berselisih dan bertengkar, hebat karena kefasihan lidahnya.

تَوَلَّىٰ

(berpaling): pergi meninggalkan dan kembali, atau ia memiliki kekuasaan (wilayah).

– الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ

(tanaman dan keturunan): al-ḥarṡ adalah tanaman pertanian, dan an-nasl adalah hewan ternak.

أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ

(kesombongan menguasainya karena dosa): ia dikuasai oleh harga diri dan keengganan (untuk bertobat) akibat dosa-dosanya, sehingga ia tidak bertakwa kepada Allah.

– يَشْرِي نَفْسَهُ

(menjual dirinya): ia menjual dirinya kepada Allah Ta’ala dengan berjihad di jalan-Nya menggunakan jiwa dan hartanya.

Makna Ayat-Ayat:

Allah Swt memberitakan kepada Rasul-Nya dan kaum mukminin tentang keadaan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin yang tulus. Allah berfirman seraya berbicara kepada Rasul ﷺ: “Dan di antara manusia ada seorang laki-laki munafik yang tutur katanya baik, dan apabila ia berbicara, ucapannya mengagumkanmu karena indah dan berkilau.

Hal itu terjadi ketika ia berbicara tentang urusan kehidupan dunia, berbeda dengan urusan akhirat, karena ia tidak mengetahuinya dan tidak memiliki dorongan untuk membicarakannya sebab ia kafir. Ketika ia berbicara, ia bersaksi kepada Allah bahwa ia meyakini apa yang diucapkannya.

Ia berkata kepada Rasul ﷺ, ‘Allah mengetahui bahwa aku benar-benar beriman dan aku mencintaimu,’ dan ia mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya demikian… Namun, apabila ia bangkit dari majlismu dan pergi meninggalkanmu, ia {berjalan di muka bumi} yakni berjalan menebar kerusakan untuk membinasakan tanaman dan keturunan dengan melakukan dosa-dosa besar.

Ia menghalangi turunnya hujan, menyebabkan tanaman pertanian mengering, tanah menjadi tandus, binatang ternak mati, dan keturunan terputus. Perbuatannya ini dibenci oleh Allah Ta’ala; Dia tidak menyukai perbuatan itu dan tidak pula menyukai pelakunya.”

Sebagaimana Allah Ta’ala memberitakan bahwa orang munafik ini, apabila diperintahkan kepada kebaikan atau dicegah dari kemungkaran, lalu dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, jangan lakukan ini atau tinggalkan itu,” ia akan dikuasai oleh kesombongan dan harga diri akibat dosa-dosa yang melilitnya.

Maka ia tidak bertakwa kepada Allah dan tidak bertobat kepada-Nya. Cukuplah baginya sebagai balasan atas kemunafikan, kejahatan, dan kerusakannya adalah neraka Jahanam yang ia hampar sebagai kasur; ia tidak akan beranjak darinya selama-lamanya. Dan seburuk-buruk hamparan adalah neraka Jahanam.

Sebagaimana pula Allah Ta’ala memberitakan tentang mukmin yang tulus, Dia berfirman: “Dan di antara manusia ada seorang laki-laki mukmin yang benar imannya, yang menjual diri dan hartanya kepada Allah Ta’ala demi mencari keridhaan-Nya dan kehidupan di sisi-Nya di dalam surga Darussalam.”

Allah berfirman: {وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ رَؤُوفٌ بِٱلْعِبَادِ} “Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” Dia Maha Penyayang kepada mereka.

Dikatakan bahwa laki-laki munafik yang menjadi pembicaraan dalam tiga ayat pertama adalah al-Akhnas bin Syariq, dan laki-laki mukmin yang menjadi pembicaraan dalam ayat keempat (QS. Al-Baqarah: 207) adalah Shuhaib bin Sinan ar-Rumi Abu Yahya.

Tatkala orang-orang musyrik mengetahui bahwa ia akan berhijrah ke Madinah untuk menyusul Rasul ﷺ dan para sahabatnya, mereka berkata, “Kau tidak akan pergi dengan jiwa dan hartamu kepada Muhammad. Kami tidak akan mengizinkanmu berhijrah kecuali jika kau serahkan seluruh hartamu kepada kami.”

Maka ia memberikan semua harta miliknya dan berhijrah. Ketika tiba di Madinah dan Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau bersabda kepadanya: “Beruntunglah perniagaanmu, wahai Abu Yahya, beruntunglah perniagaanmu.” Meskipun ayat-ayat ini turun berkaitan dengan al-Akhnas dan Shuhaib, tetapi pelajaran diambil dari keumuman lafaz, bukan dari kekhususan sebab.

Maka al-Akhnas adalah contoh buruk bagi setiap orang yang memiliki sifat-sifatnya, dan Shuhaib adalah contoh kebaikan dan kesempurnaan bagi setiap orang yang memiliki sifat-sifatnya.

Petunjuk dari Ayat-ayat:

Peertama, peringatan agar tidak tertipu oleh kefasihan dan kejelasan bicara seseorang jika ia bukan termasuk orang yang beriman dan ikhlas.

Kedua, seburuk-buruk manusia adalah orang yang berbuat kerusakan di bumi dengan melakukan kejahatan-kejahatan yang menyebabkan kerusakan dan kebinasaan bagi manusia dan hewan ternak.

Ketiga, perkataan seseorang “Allah mengetahui” dan “aku bersaksi kepada Allah” dianggap sebagai sumpah. Maka hendaklah seorang mukmin berhati-hati mengucapkannya jika ia tahu dalam dirinya bahwa ia berdusta.

Keempat, apabila dikatakan kepada seorang mukmin “Bertakwalah kepada Allah”, wajib baginya untuk tidak marah atau membenci orang yang memerintahkannya untuk bertakwa. Sebaliknya, ia harus mengakui dosanya, memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan segera meninggalkan kemaksiatan.

Kelima, dorongan untuk berjihad dengan jiwa dan harta, serta bolehnya seorang muslim mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah Ta’ala. Hal itu tidak dianggap boros atau mubazir, karena pemborosan dan ke-mubaziran terletak pada pembelanjaan untuk kemaksiatan dan dosa.

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Harga Sebuah Keyakinan (Telisik Kemenangan Khabib Nurmagomedov)

Sofian Hadi

Agar Dosa Diampuni Di Hari Arafah

Nasehat Untukmu Wahai Nakhoda Bahtera Rumah Tangga

Lalu Wawan Febriyanto

Kecedasan Ilmuan Muslim dan Pengakuan Orientalis

Sofian Hadi

Penjelasan Para Ulama Tentang Hukum Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Lalu Wawan Febriyanto

Do’a Agung Rasulullah: Jangan Biarkan Dunia Menjadi Kesedihan Terbesar Kita

M. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page