Isu Kontemporer

Relasi Agama dan Sains: Realitas Dogma Masayarakat Modern

Diskursus agama dalam perspektif sains masih dipandang kompleks bagi manusia modern. Hal ini dipicu karena kerancuan pengetahuan manusia atau masyarakat modern, yang tidak pernah berhenti mempertentangkan agama sebagai doktin, sementara sains dipandang sebagai kecakapan ilmiah yang bersifat empiris tidak masuk ranah metafisik (alam ghaib) dalam sistem kehidupan manusia.

Alam semesta, manusia, adanya berdasarkan proses kerja alamiah secara mekanik menurut doktrin modern. Tidak ada yang menciptakan dan mengendalikannya. Tentunya, pemikiran dan keyakinan seperti ini muncul dari cara pandang manusia ‘ateis’ yang tentu saja tidak mendasar dan bertentangan dengan nalar, logika dan realitas keimanan seorang Muslim.[1]

Tidak berhenti pada permasalahan di atas, wacana agama bagi manusia modern, akan kembali bermasalah apabila dikaitkan dengan sains yang kemelut perdebatannya tidak menemukan jalan keluar alias jalan buntu. Sains dan agama bagi manusia modern bermasalah karena dasarnya mereka mempertentangkan kepercayaan atas hal yang metafisik.

Sementara, sains adalah hasil dari kerja ilmiah (scientific), (research) penelitian, atau (experience) pengalaman yang bersifat fisik atau empiris. Agama tidak termasuk atau tidak ikut campur dalam hal-hal ilmiah. Maka sains modern menafikan peran agama dalam perkembangan dan kemajuan sains yang mereka praktikkan.

Dari sudut pandang berbeda, agama mendapat tempat tertinggi dan utama dalam pengembangan sains. Posisi agama sangat sentral, penting bahkan sains digali dari agama yang notabennya adalah sumber segala ilmu pengetahuan (Sains).

Maka pandangan yang mengatakan sains muncul dari agama adalah mereka yang percaya adanya pencipta Alam Raya, mereka yang percaya Alam Raya adalah ciptan yang Maha Kuasa dan berkuasa terhadap manusia, alam, dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya.

Dapat disimpulkan bahwa manusia yang percaya akan segala sesuatu itu adalah Muslim atau yang mereka yang memeluk Islam sebagai sebuah agama. Bagi Muslim, Islam adalah sistem kehidupan sempurna (kamîl) yang didalamnya segala konsep tentang segalanya ditemukan.

Oleh karenanya, posisi agama dalam kacamata sains modern dan agama dalam kacamata Islam, haruslah dapat ditelaah dengan baik dan benar. Sebab, pengertian agama dalam konteks sains modern dan sains Islam mempunyai posisi yang berbeda.

4 (Empat) Tawaran Menarik

Di dalam pendahuluan buku Nature, Human Nature, and God, Ian Graeme Barbour mengajukan empat pandangan relasi (hubungan) antara sains dan agama. Pertama sebagai konflik. Maksudanya kebanyakan orang-orang menafsirkan kitab suci secara harfiah dan percaya bahwa teori evolusi bertentangan dengan agama.

Menurut Barbour, kelompok ini yang selalu mengatakan bahwa sains dan agama adalah bermusuhan. Bermusuhan dalam pengertian bahwa sains dan agama akan bertentangan, berselisih, dan akan selalu dalam percekcokan.

Kedua sebagai independesi. Barbour melanjutkan, konflik akan dapat dihindari jika sains dan agama berada dalam ruang hidup manusia yang terpisah. Sains dan agama saling berkaitan dengan ranah-ranah berbeda, serta aspek realitas yang berbeda pula. Sains dan agama sama-sama saling bertanya dan tidak saling bersaingan. Pandangan ini menawarkan sains dan agama saling melengkapi dan tidak saling menjatuhkan.

Ketiga, dialog. Bagi Barbour sains dan agama melakukan perbandingan metode-metode baik dari keduanya. Dari perbandingan metode tersebut masing-masing dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan atas kedunya serta pasrah saling mengakui.

Keempat, integrasi. Penganut pandangan ini mengupayakan terjadinya integrasi yang sistematik antara sains dan agama. Sebagian dari pengusung pandangan ini melihat ada keserupaan antara penemuan sains dalam agama. Atau agama dipandang memberikan banyak hal tentang keyakinan yang sejalan dengan sains modern.

Namun keyakinan tersebut harus dan perlu dirumuskan kembali dalam teori-teori ilmiah khusus (scientific teory). Teori-teori ilmiah tersebut diurai secara sistematik dengan konsep yang saling berkaitan baik dari segi sains dan agama.[2]

Empat penganut keyakinan yang ilustrasikan Barbour adalah kemungkinan-kemungkinan yang dibangun menurut dogma saintis modern. Jargon seperti ‘the warfare of science and religion’ menggema sebab di barat semua serba anti agama, anti Tuhan.

Setiap hal yang dikaitkan dengan Tuhan adalah masalah baru yang mesti ditentang dan dipertanyakan. Itulah rasionalitas saintis modern. Tuhan dan agama dianggap musuh yang akan selalu berseteru dengan sains.

Maka wajar, jika Barbour menerangkan panjang lebar mengenai posisi dan relasi sains dan agama. Sebab pandangan tersebut akan lebih mudah diterima oleh para ilmuan (modern) yang awam akan keduanya, baik sains maupun agama. Keawaman tersebut hanya ditemukan di dalam pemahaman ilmuan modern atau ilmuan kontemporer.

Ilmuan atau saintis barat harus berdarah-darah berjuang menghadapi dogma-dogma teks Gereja sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kasus yang terjadi pada Galileo tahun 1633 M merupakan pos-kontras konflik serius antara saintis dengan pemegang otoritas Gereja.

Konflik pra dan post-kontras Agustine dan Galileo inilah yang dimaksudkan Barbour dalam pendahuluan tersebut sebagai hubungan pertama‘konflik’ antara agama dan sains.[3]

Wallahu’alam bish shawab


[1] M. Kholid Muslih et.al. Wordlview Islam: Pembahasan Tentang Konsep-Konsep Penting Dalam Islam (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), 64.

[2] Ian G. Barbour, Nature Human Nature and God (Augsburge Fortress: Fortress Press, 2002), 32.

[3] Baca selengkapnya John William Drapper, Histort of The Conflict Between Religion and Science (Amerika: Cambridge University Press, 1875).

Postingan terkait

Mission Impossible: Kisah Dramatis Ketika Nabi Musa Memimpin Bani Israil Keluar dari Mesir

M. Syarif Hidayatullah

Resensi Buku “Islam dan Diabolisme Intelektual”

Sofian Hadi

Membumikan Wahyu Menghidupkan Akal: Warisan Pemikiran Intelektual KH. Ahmad Dahlan

Fiqri Rabuna

Beginilah Posisi Harta di dalam Islam 

Sofian Hadi

Alasan Barat Menjadi Sekuler-Liberal

Sofian Hadi

Resensi Buku “Bukan Sekadar Mazhab: Oposisi dan Heterodoksi Syi’ah”

Sofian Hadi

1 komentar

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page