Isu Kontemporer

Mission Impossible: Kisah Dramatis Ketika Nabi Musa Memimpin Bani Israil Keluar dari Mesir

۞ وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى مُوۡسٰٓى اَنۡ اَسۡرِ بِعِبَادِىۡۤ اِنَّكُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ‏

“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, “Pergilah pada malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), sebab pasti kamu akan dikejar.” (QS. Asy-Syu’araa’: 52)


Operasi penyelamatan rahasia dimulai di kegelapan malam. Nabi Musa as (alaihis salam), memimpin misi mustahil: membawa ribuan Bani Israil keluar dari perbudakan Fir’aun di Mesir yang diawasi ketat. Para wanita membawa adonan roti yang belum sempat beragi, anak-anak menggenggam erat tangan orang tua.

Hamka dalam tafsir-nya merekam moment ini, “Maka pada suatu malam di waktu penduduk negeri Mesir lena dalam kemegahannya dan orang besar-besar tenggelam dalam kenikmatan yang tidak mengenal hari esok, di bawah pimpinan Musa dan Harun.

Bani Israil telah meninggalkan Mesir, menuju tepi laut Qulzum, mengangkut segala barang yang dapat diangkut. Padahal, apalah yang akan dapat diangkut, selain dari keyakinan akan hidup, di bawah pimpinan seorang pemimpin keras hati, Musa. Dibantu oleh saudaranya Harun”. (Baca HAMKA, Tafsir Al-Azhar, hlm. 5109)

Sementara, domba-domba digiring tergopoh-gopoh dalam pelarian diam-diam. Namun intelijen Fir’aun berhasil mendeteksi pelarian ini. Segera, 600 kereta perang terbaik Mesir dengan kuda-kuda pilihan dikerahkan untuk mengejar. (QS. Asy-Syu’ara’: 52-53).

Situasi berubah menjadi krisis ketika mereka sampai di tepi Laut Merah. Jebakan sempurna: di depan laut membentang, di belakang pasukan elit Mesir mendekat dengan senjata lengkap. Kepanikan mulai melanda. ” Kita pasti terkejar!” teriak seorang lelaki.

Tapi Nabi Musa as bukanlah agen biasa. Dengan ketenangan agen spesial yang terlatih, beliau menatap laut itu dengan keyakinan intelijen ilahi.Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk,” bisiknya(QS. Asy-Syu’ara’: 62). Inilah saatnya operasi rahasia ini meminta bantuan langsung dari ‘Markas Besar Tertinggi’.

Tepat saat pasukan khusus Fir’aun hampir menangkap barisan terakhir, komunikasi ilahi terhubung: “Pukullah laut itu dengan tongkatmu!” (QS. Asy-Syu’ara’: 63)

Musa Mengayunkan Tongkatnya. DUM!

Laut yang bergelombang itu tiba-tiba terbelah menjadi dua seperti operasi militer presisi tinggi. Setiap belahan menjulang tinggi bagaikan tembok pertahanan yang tak tertembus. (QS. Asy-Syu’ara’: 63). Sebuah jalan besar terbentuk di dasar laut. Dengan perintah komando, Bani Israil segera menyebrangi koridor darurat ini.

Hamka mengatakan, “Tiba-tiba sesampai di tengah lautan, air lautan yang telah menggunung tadi mencair kembali. Amatlah hebatnya pertautan kembali dari dua unggunan air membeku, sehingga kecillah manusia-manusia gagah perkasa yang tidak tahu diri itu di dalam gulungan air.

Alangkah dahsyatnya! Mereka berpakaian lengkap, bersenjata, berbaju zirah, berkuda berpelana, beribu-ribu pula banyaknya di bawah pimpinan Fir’aun sendiri tenggelam karam ke dasar laut. Dan laut pun tenang kembali, seperti tak terjadi apa-apa”. (Ayat 66). HAMKA, Tafsis Al-Azhar, hlm. 5110)

Di kejauhan, Firaun memantau melalui kereta komandonya. Meski melihat keanehan ini, kesombongannya membuatnya mengabaikan semua tanda bahaya. “Ikuti mereka! Kita pasti bisa menguasai jalan laut ini juga!”

Tepat, ketika seluruh pasukan khususnya masuk ke dalam koridor laut, sementara seluruh Bani Israil sudah menyebrang tiba-tiba…

Operasi penutupan dimulai! Allah memerintahkan laut itu kembali menyatu (QS. Asy-Syu’ara’: 66). Tembok air yang menjulang tinggi itu runtuh menyapu bersih seluruh pasukan elit Mesir. Firaun yang sedang mengenakan baju kebesarannya dari emas itu baru tersadar:

“Aku percaya kepada Tuhan yang dipercayai Bani Israil!” teriaknya” (QS. Yunus: 90).

Tapi sudah terlambat. Ombak besar menelan seluruh pasukannya, mengubur penguasa sombong itu beserta seluruh kekuatan militernya di dasar laut untuk selama-lamanya.

Di seberang laut, Bani Israil bersorak sorai. Tapi Musa as tahu – misi sesungguhnya baru dimulai. Empat puluh tahun training di padang gurun sedang menanti, dengan ujian yang lebih berat dari sekadar menyebrangi laut…

Pelajaran penting untuk kita semua :

1. *Intelijen Ilahi tidak pernah gagal* – ketika manusia mengatakan “impossible”, Allah berfirman “I’m possible”.

2. *Kesombongan adalah kelemahan terbesar musuh* – Fir’aun memiliki semua sumber daya, tapi kekurangan kerendahan hati.

3. *Misi terbesar membutuhkan keyakinan tertinggi* – bukan teknologi canggih atau senjata mutakhir, tetapi iman yang menjadi senjata pamungkas.

Pesan Untuk kita semua :

Ketika semua exit route tertutup, Allah membuka jalan rahasia yang tidak terdeteksi oleh sistem manapun. Trust The Ultimate Planner.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

Sematan “Asing” pada Islam

Sofian Hadi

Resensi Buku “Islam dan Diabolisme Intelektual”

Sofian Hadi

Kajian Kritis Buku “Liberalisasi Pemikiran Islam”

Sofian Hadi

Sains dan Kacamata Einstein

Sofian Hadi

Menakar Dampak Sains Modern dan Respon Saintis Muslim

Sofian Hadi

Eksistensi Agama di Masa Kekinian

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page