Apa itu Ghibah?
Ghîbah adalah menyebut sesuatu pada diri seseorang yang tidak disukai apabila ia mendengarnya. Baik menyebut dengan lisan maupun tulisan, dengan isyarat mata, tangan dan kepala. Jagalah lisanmu dari ghîbah dan mendengarkan ghîbah. Diam dari mendengarkan ghîbah adalah bentuk persetujuan anda tentang apa yang dibicarakan.
Dalam pengertian lain, ghîbah artinya membuka atau membeberkan aib orang lain tentang kekurangan yang ada pada dirinya, seperti cacat tubuh, nasab, perbuatan, perkataan, agama, atau harta miliknya. Rumah, pakaian, perhiasan, maupun hewan peliharaanya.
Dengan demikian, ghîbah adalah perbautan zalîm meskipun apa yang kau katakan benar adanya. Rasulullah Saw bersabda:
“Jika pada diri terdapat kekurangan seperti yang kau katakan maka engkau telah berbuat ghibah (menggunjingnya) dan jika tidak ada padanya berbarti engkau telah memfitnahnya”
Maka dari itu, jagalah dirimu dari ghîbah yang disertai riyâ’, yaitu nemampakkan aib seseorang secara langsung dengan menyebut nama orang itu, seakan-akan engkau orang shaleh yang merasa berduka atas keadaan orang lain. baik orang itu sudah meninggal atau masih hidup.
Perbuatan ini, termasuk jenis ghîbah yang paling buruk. Termasuk memuji dirimu sendiridengan mencela orag lain. dalam artian, menganggap dirimu lebih baik daripada orang lain dengan cara mencela dan merendahkannya. Ghibah kata Imam Nawawi adalah menyebutkan kejelekan orang lain di saat ia tidak ada saat pembicaraan. (Syarh Shahih Muslim, 16: 129).
Dengan begitu, engkau telah melakukan dua keburukan: ghîbah dan memuji diri sendiri. Bahkan empat keburukan sekligus, yaitu; ghibah, memuji diri sendiri, riyâ’ dan kerena kebodohan engkau mengira dirimu termasuk orang shaleh, seolah-olah engkau yang paling baik.
قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghîbah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).
Oleh karena itu, barang siapa beribadah dalam kebodohan niscaya dia akan dipermainkan oleh setan, sehingga akan menyebut kejelekan dan kekurangnan orang lain, bahkan membawa-bawa nama Allah untuk meyakinkan tentang keburukan orang lain. Na’uzubillâh
Apabila engkau merasa sedih, iba kepada saudaramu, janganlah engkau membicarakannya. Do’akan kebaikan di dalam shalatmu untuknya. Sebarkanlah berita yang baik-baik tentangnnya. Jika perlu, pujilah kebaikannya, sekalipun itu kecil. Jangan rendahkan atau mencari kekurangan dan keburukannya.
Cukuplah bagimu peringatan Allah dalam al-Qur’ân surat al-Hujârât ayat 12.
“Dan janganlah kamu menggunjing satu sam lain. Adakah seseorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Dan tentulah kamu merasa jijik kepdanya” (QS. Al-Hujârât ayat 12).
Allah membuat perumpamaan orang yang melakukan ghîbah seperti orang memakan bangkai manusia. dalam perumpamaan ini, terdapat petunjuk kehormatan manusia seperti darah dagingnya sendiri. Manusia akan sakit hati apabila kehormatannya disakiti. Sebagaimana tubuhnya merasa sakit apabila dagingnya dipotong.
Cara Menjauhi Ghîbah Atau Menggunjing
Cara menghindar dan menjauh dari penyakit ghîbah adalah; hendaklah engkau berpikir dan dan melihat kepada diri sendiri. Pikirkan aib dan kekurangan diri sendiri. Benarkah engkau tidak pernah maksit keapda Allah?
Segera istigfar, berlindung dan berlindung kepada Allah apabila setan mengajak untuk melakukan ghîbah. Apabila rayuan lebih keras merayumu, maka segera memuji kebaikan saudaramu. Jangan larut dalam pembicaraan, pendenganran tantang ghîbah.
Pikrirkan dengan jernih hal yang ingin kau sampaikan. Apakah berpotensi menyinggung atau membuat sakit hati untuk di dengar oleh saudaramu. Hendaklah engkau selalu menyebut nama Allah, karena itu adalah obat.
Terlintas dipikiran untuk melakukan ghîbah adalah langkah awal setan ketika merealisasikannya atau ketika mengerjakannya. Maka, pikiran harus dijaga, agar lintasan untuk maksiat dalam pikiran steril dari dugaan, atau praduga yang membawa kepada perbuatan ghîbah.
Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkâr menyatakan “Apapun yang terlintas dalm pikiranmu seperti ghîbah dan perbuatan maksiat lainnya harus engkau singkirkan dan hilangkan semampumu!”
Kutipan tulisan ini dalam kitab Marâqi al-Ubudiyyâh, Karya Syekh Nawawi al-Bantani, hlm. 232-236
Wallahua’lam bish Shawâb
1 komentar