IlmuIsu Kontemporer

Membumikan Wahyu Menghidupkan Akal: Warisan Pemikiran Intelektual KH. Ahmad Dahlan

Beragama bukanlah sekadar mengulang doa, melafalkan ayat-ayat, atau melakukan ritual semata. Dalam pandangan KH. Ahmad Dahlan, beragama adalah sebuah ikhtiar untuk menghadirkan Islam di setiap denyut nadi kehidupan. Islam, menurut beliau, bukanlah agama yang ‘jumud’ atau kaku dan terikat pada bentuk luar atau agama yang hidup, dinamis, dan senantiasa rasional.

Keyakinan inilah yang melahirkan sebuah gerakan  besar bernama Muhammadiyah dengan jargon Islam berkemajuan, yang hingga kini masih menyalakan lentera pembaharuan di Indonesia bahkan dunia. Berikut diulas beberapa argumnetasi beliau yang menghidupkan akal menggerakkan pikiran.

Pertama, KH. Ahmad Dahlan menegaskan pentingnya rasionalitas dalam beragama. Rasional di sini bukan berarti mengesampingkan wahyu demi akal semata, melainkan menempatkan akal sebagai alat untuk memahami dan menghayati wahyu. KH. Ahmad Dahlan menyadari, tanpa akal, umat hanya akan terjebak dalam kejumudan, mengulang-ulang ritual tanpa makna, bahkan mengekalkan tradisi yang tidak sesuai dengan spirit al-Qur’an.

Bagi KH. Ahmad Dahlan wahyu dan akal tidak pernah saling meniadakan, justru saling menguatkan. Al-Qur’an memanggil manusia dengan kata “afalâ ta’qilûn”  apakah kalian tidak berpikir? Pertanyaan retoris ini menunjukkan bahwa berpikir adalah ibadah, dan berpikir adalah bagian dari iman.

Kedua, beliau mengajarkan bahwa Islam harus dinamis. Dinamika agama bukan berarti mengubah esensi, melainkan menghidupkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Islam bukanlah monumen beku yang berdiri di tengah padang pasir sejarah, melainkan aliran sungai yang terus bergerak, memberi kehidupan bagi siapa saja yang bersentuhan dengannya.

Dalam praktiknya, KH. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah yang memadukan ilmu agama dengan ilmu modern. Ia tahu, tanpa ilmu pengetahuan, umat akan terus terpinggirkan. Dinamika ini pula yang melahirkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)  sosial: rumah sakit, panti asuhan, hingga pemberdayaan perempuan melalui organisasi ‘Aisyiyah. Semua itu adalah manifestasi dari iman yang bergerak, bukan iman yang tidur.

Ketiga, beragama menurut KH. Ahmad Dahlan harus sesuai dengan konteks zaman. Ajaran Islam tidak hadir dalam ruang hampa ia selalu berjumpa dengan realitas sosial. Pada zamannya, realitas itu adalah kolonialisme, kemiskinan, dan keterbelakangan umat. Jika Islam hanya dipahami sebatas ritual, maka umat akan terus menjadi korban.

Karena alasan demikian, KH. Ahmad Dahlan mempraktikkan tafsir kontekstual. Ketika mengajarkan surat al-ma’ûn, beliau tidak berhenti pada hafalan, tetapi mendorong murid-muridnya untuk mencari anak yatim dan memberi mereka makan. Tafsir bukan hanya bacaan, tetapi tindakan bukan hanya lafâz, tetapi gerakan sosial. Inilah Islam yang sesuai dengan konteks memberi jawaban atas kebutugan zaman, bukan lari dari kenyataan.

Secara filosofis, gagasan KH. Ahmad Dahlan dapat dipahami sebagai sintesis antara wahyu dan realitas. Agama tidak berdiri di menara gading yang terpisah dari dunia, tetapi hadir dalam denyut masyarakat. Rasionalitas menjadi jembatan antara teks suci dengan realitas hidup.

Dinamika menjadi cara agar ajaran Islam tetap relevan di segala waktu. Konteks menjadi ladang tempat benih ajaran itu ditanam agar tumbuh subur. Maka, beragama tidak lagi dipandang sebagai pengulangan dogmatik semata, tetapi sebagai gerak kreatif manusia untuk menghadirkan Tuhan dalam sejarah.

Pandangan ini menolak dua pandangan ekstrem. Di satu sisi, ia menolak agama yang kaku, yang hanya mengulang tradisi tanpa makna. Di sisi lain, ia menolak modernitas yang tercerabut dari nilai-nilai spiritual. KH. Ahmad Dahlan mencari jalan tengah: Islam yang murni secara akidah, tetapi terbuka secara sosial, Islam yang kembali pada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi tidak alergi pada ilmu pengetahuan dan pembaruan.

Saat ini, seratus tahun lebih setelah beliau wafat, gagasan KH. Ahmad Dahlan tetap relevan. Dunia kita tengah dihadapkan pada disrupsi teknologi, krisis lingkungan, dan jurang sosial-ekonomi yang makin lebar.

Pertanyaannya, apakah umat Islam hanya akan sibuk memperdebatkan ritual, ataukah akan menghadirkan iman yang bekerja bagi kemanusiaan? Jawaban KH.Ahmad Dahlan jelas, agama harus rasional, dinamis, dan kontekstual. Tanpa itu, agama hanya akan menjadi seremonial kosong, bukan cahaya yang menerangi zaman.

Demikian, beberapa argumentasi pemikiran dalam kaca mata KH. Ahmad Dahlan. Menghidupkan wahyu dalam akal, menggerakkannya dalam amal, dan menanamkannya dalam realitas sosial. Itulah agama yang rasional, dinamis, dan sesuai zaman. Sebuah pelajaran abadi, bahwa Islam tidak hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi.

Wallahu’lâm bish shawaââb

Postingan terkait

Perbuatan Ghîbah Dan Kiat Menghindarinya

Sofian Hadi

Tradisi Keilmuan dalam Islam [2] selesai

Sofian Hadi

Beramal Juga Perlu Selingan antara Dunia dan Akhirat: Rahasia Hidup Tanpa Kepalsuan

M. Syarif Hidayatullah

Tiga Kerugian yang Menghinakan : Renungan bagi yang Baru Saja Melewati Ramadhan

M. Syarif Hidayatullah

Menuju Kesempurnaan Ibadah Bagian dua

Sofian Hadi

Sang Surya dan Sang Angin: Menyelami Samudra Kemudahan Syari’at dalam Ibadah Puasa

M. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page