NasionalOpini

Sumbawa: Sebuah Filsafat Tentang Asal Mula Keberadaan

“Jejak nama Sumbawa, juga dapat ditelusuri pada peta dan laporan penjelajah Eropa. Peta dunia Ortelius tahun 1570 mencatat pulau Sumbawa dengan nama “Pulau Cambaba”. Beberapa dekade kemudian, kartografer Petrus Plancius dalam peta tahun 1594 menuliskannya sebagai “Cimbiaya”, (Sejarawan penemu istilah Sumbawa)


Dalam Bahasa Sanskerta, sambhava bermakna “kelahiran”, “asal-mula”, atau hakekat keber-ada-an “existence of being”. Kata Sumbawa telah tertulis dalam teks abad ke-14, seperti Hikayat Raja-Raja Pasai yang menyebut “Sumbawa” sebagai wilayah yang ditaklukkan Majapahit. Sementara itu, kakawin Jawa Kuno seperti Kidung Pamancangah merekam nama pulau ini dalam bentuk Cambhawa, misalnya ketika menuturkan ekspedisi seorang raja Bali ke Cambhawa. Hal ini menunjukkan bahwa varian nama yang mirip dengan Sumbawa sudah beredar di Nusantara setidaknya sejak periode Majapahit, ketika Bahasa Sansekerta menjadi Bahasa kaum elit terpelajar di nusantara.

Jejak nama Sumbawa, juga dapat ditelusuri pada peta dan laporan penjelajah Eropa. Peta dunia Ortelius tahun 1570 mencatat pulau Sumbawa dengan nama “Pulau Cambaba”. Beberapa dekade kemudian, kartografer Petrus Plancius dalam peta tahun 1594 menuliskannya sebagai “Cimbiaya”, dan Willem Lodewijcksz pada peta 1598 menyebutnya “Çambawa”. Menariknya, sebuah peta Portugis dengan tahun lebih awal lagi yang dibuat oleh Francisco Rodrigues.

Francisco Rodrigues pada 1513 sudah menyebut nama serupa, yakni “Ssimbaua” yang tampaknya merupakan transkripsi Portugis untuk Sambhava. Setelah akhir abad ke-16, berbagai peta kuno cenderung menggunakan ejaan Cambaba sebagai nama pulau ini. Data peta kuno menunjukkan metamorfosis nama pulau: Ssimbaua, Cambaba, Cimbiaya, Çambawa, hingga akhirnya konsisten menjadi Sumbawa dalam ejaan modern. Perubahan ejaan ini sejalan dengan interaksi lintas bahasa.

Secara etimologis, sumber kolonial dan kajian modern mendukung keterkaitan nama pulau ini dengan istilah Sanskerta. Pakar seperti J. Noorduyn dan F.H. van Naerssen berpendapat Sumbawa merupakan korupsi (oleh lidah Portugis) dari nama asli Sambawa. Lebih lanjut, Van Naerssen mengaitkannya dengan kata; Sanskerta śāmbhawa (berarti “yang berhubungan dengan Śambhu”). Śambhu adalah salah satu nama Dewa Siwa yang bermakna “Yang Maha Mengabulkan atau Yang Maha Pengasih”. Dalam khazanah bahasa Sanskerta umum, sambhava memiliki arti leksikal yang luas meliputi “asal mula, kelahiran, terwujudnya sesuatu, eksistensi”. Maka, secara linguistik, nama Sumbawa dapat dimaknai selaras dengan konsep “asal-usul” atau “keberadaan yang terlahir”. Interpretasi inilah yang membuka ruang refleksi filosofis lebih mendalam.

Kata sambhava, yang berarti “kelahiran” atau “asal-usul eksistensi” mengandung muatan filosofis tentang eksistensi (wujud atau keberadaan). Makna ini dapat dijembatani dengan pemahaman tentang “eksistensi” dalam berbagai tradisi filsafat, khususnya filsafat Islam serta filsafat India (Hindu dan Buddhis). Menariknya, meskipun lahir dari konteks budaya berbeda, ada benang merah pemikiran bahwa kata Sumbawa berkaitan dengan pertanyaan tentang asal-mula keberadaan, realitas sejati di balik keberadaan, dan hubungan antara yang mutlak dengan yang fenomenal.

Dalam filsafat Islam, terutama tradisi filsafat iluminatif dan tasawuf, konsep wujud (eksistensi) memainkan peran sentral. Tokoh seperti Ibnu Sina (Avicenna) membedakan antara wujud wajib (Wājib al-wujūd, eksistensi yang niscaya ada dengan sendirinya, yaitu Tuhan) dan wujud mumkin (eksistensi mungkin, yaitu makhluk yang keberadaannya bergantung pada sebab). Bagi Ibnu Sina, seluruh keberadaan di alam raya mesti bermula dari Wujud Wajib sebagai sebab pertama . Hal ini selaras dengan gagasan sambhava sebagai “asal mula eksistensi”, bahwa semua yang ada bersumber dari satu Prinsip asal-mula yang keberadaannya tidak dilahirkan oleh apa pun (Tuhan sebagai asal-usul segala yang maujud).

Pandangan ini berkembang lebih jauh dalam tasawuf falsafi oleh Ibnu ‘Arabi. Melalui doktrin wahdat al-wujūd (kesatuan wujud), Ibnu ‘Arabi menegaskan bahwa hakikat wujud yang sejati hanyalah satu, yakni Tuhan (al-Ḥaqq). Segala sesuatu selain Tuhan pada dasarnya bukan wujud yang hakiki. Alam semesta beserta makhluk di dalamnya hanyalah manifestasi atau tajalli dari wujud Tuhan yang tunggal.

Dalam ungkapan Ibnu ‘Arabi, “Lā maujūda illā al-Wujūd al-Wāḥid” (tiada yang benar-benar ada kecuali Wujud Yang Esa). Konsekuensinya, keberagaman makhluk dipandang sebagai bayang-bayang atau ilusi relatif yang muncul dari keterbatasan persepsi manusia. Ini bukan berarti dunia sepenuhnya tidak ada, melainkan keberadaannya “dipinjamkan” atau diciptakan dari wujud Allah. Realitas makhluk hanyalah pancaran dari realitas Tuhan sebagaimana cahaya bulan hanyalah pantulan dari cahaya matahari.

Konsep ini, menggemakan ide bahwa sambhava (kelahiran atau wujudnya segala hal) bersumber dari Yang Esa. Secara filosofis dan spiritual, Tuhan adalah sumber eksistensi (asal mula segala sesuatu). Sementara eksistensi makhluk adalah kontingen dan tidak kekal. Suhrawardi, filosof Illuminasi, turut memperkaya diskursus ini dengan memandang cahaya sebagai metafor fundamental wujud. Allah adalah Cahaya segala cahaya, dan seluruh maujud tersusun dalam hierarki cahaya dari yang tertinggi hingga tergelap (materi).

Meski, Suhrawardi lebih menekankan esensi ketimbang eksistensi, gagasannya tetap mengakui Sumber Tunggal yang menerbitkan “cahaya eksistensi” kepada alam ciptaan. Dengan demikian, dalam tradisi Islam, nama Sambhava yang berarti asal keberadaan seakan menunjuk kepada hakikat Ketuhanan sebagai sumber segala wujud, serta mengandung hikmah bahwa eksistensi manusia dan alam hanyalah derivatif (tajalli) dari Eksistensi Yang Maha Tunggal.

Dalam filsafat Hindu, terutama aliran Advaita Vedānta yang digagas Ādi Śaṅkara, realitas tertinggi disebut Brahman, yang ditunjukkan dengan sifat sat-cit-ānanda (Ada/Kebenaran, Kesadaran, dan Kebahagiaan Abadi). Sat berarti keberadaan atau eksistensi mutlak. sat-cit-ānanda di Sumbawa kemudian di kenal dengan nama Satonda, sebuah pulau gunung api yang diyakini oleh orang Bima dan Dompo sebagai asal muasal dari raja-raja mereka.

Brahman, dipandang sebagai asal mula dan esensi seluruh yang ada. Semua fenomena muncul dari Brahman, ibarat gelombang muncul di atas lautan. Advaita menyatakan bahwa hanya Brahman yang satu dan nyata sepenuhnya (ekam eva advitiyam), sedangkan dunia fenomenal adalah māyā (Pulau Moyo), semacam ilusi atau kenyataan relatif. Dunia bukan tidak ada, tetapi keberadaannya tidak kekal dan tidak memiliki hakikat sendiri, melainkan tergantung pada Brahman.

Konsep sambhava, sebagai “kelahiran” dapat dikaitkan di sini: alam semesta lahir atau bermula dari Brahman, namun pada tingkat tertinggi, Brahman itu sendiri tidak dilahirkan, ia ada dengan sendirinya. Chandogya Upanisad menjelaskan, “Pada awalnya hanya ada Sat (Ada) yang tunggal tanpa duanya”. Artinya, eksistensi murni (Sat) adalah asal segala sesuatu. Sat atau keberadaan mutlak ini kekal, tidak berubah, dan tanpa batas, sedangkan entitas-entitas duniawi adalah nama dan rupa belaka yang terus berubah dan akhirnya melebur kembali ke sumbernya.

Dengan demikian, dalam Advaita Vedanta, asal-usul eksistensi (sambhava) dikembalikan pada Brahman yang abadi. Realitas sejati diri manusia (Ātman) identik dengan Brahman. Artinya, esensi eksistensi manusia adalah satu dengan asal-mula tertinggi itu. Pemahaman ini selaras dengan konsep wahdatul wujud dalam Islam: kedua tradisi mengajarkan satu sumber keberadaan yang transenden sekaligus imanen dalam segala.

Filsafat Buddhis, di sisi lain, menawarkan pandangan yang kontras namun melengkapi pemahaman eksistensi. Buddhisme menolak gagasan ātman atau esensi tetap, sebaliknya ia memandang bahwa semua fenomena dikatakan muncul karena sebab-akibat (pratītya-samutpāda) dan tidak memiliki svabhāva (inti yang berdiri sendiri). Konsep sambhava (“kemunculan” atau “keberadaan yang terlahir”) dalam Buddhisme dapat dipahami melalui doktrin 12 (dua belas) nidāna (mata rantai sebab musabab keberadaan). Salah satu mata rantai itu adalah bhava (proses eksistensi atau menjadi) yang kemudian melahirkan jāti (kelahiran). Artinya, keberadaan makhluk (eksistensi dalam samsara) selalu merupakan proses yang tergantung pada kondisi sebelumnya, tidak ada eksistensi yang muncul tanpa sebab.

Buddhisme menegaskan bahwa semua hal kosong dari keberadaan independen. Sunyata mengajarkan bahwa tiada suatu pun (baik “diri” maupun fenomena luar) yang memiliki eksistensi mutlak atau permanen. Segala sesuatu bersifat saling bergantungan dan selalu berubah, sehingga tidak pernah ada “makhluk” yang tetap ada sejak awal waktu, yang ada hanyalah aliran kontinuitas yang senantiasa terlahir dan lenyap sesuai kondisi.

Pandangan ini, bukan menihilkan realitas, melainkan menunjukkan cara keberadaan itu ada: yaitu relatif, saling terkondisi, dan tanpa inti abadi. Dengan memahami kekosongan (tiadanya esensi tetap dalam eksistensi), seorang insan dapat melepaskan kemelekatan dan menghentikan rantai sambhava (kelahiran berulang dalam samsara). Pencerahan (nirvāṇa) dalam Buddhisme justru dicapai ketika seseorang menyadari hakikat kosong tersebut, mematahkan siklus sebab akibat yang menimbulkan kelahiran kembali, dan dengan demikian membebaskan diri dari lingkaran eksistensi (samsara) yang penuh derita.

Dalam kerangka ini, sambhava sebagai “asal mula eksistensi” dapat diartikan sebagai munculnya kehidupan akibat avidyā (ketidaktahuan) dan tṛṣṇā (kemelekatan). Sementara pelenyapan ketidaktahuan akan menghentikan kemunculan (kelahiran) berikutnya. Maka, filsafat Buddhis memberikan perspektif eksistensial bahwa sejatiya asal-usul keberadaan bersifat non-linear (tidalektis) dan tanpa yang pertama dan bermula sebagai Existence of Being yang independen. Keberadaan kita saat ini adalah mata rantai dari sebab-akibat yang tak berpemula, dan pemahaman ini menuntun pada kesadaran akan kekosongan semua hal.

Jika dikomparasi, maka baik Advaita Vedanta Hinhduisme, tasawuf Islam, maupun Buddhisme, sama-sama menyoroti dualitas antara realitas mutlak dan fenomena. Advaita dan tasawuf menekankan kesatuan (unity), entah itu kesatuan wujud dalam Tuhan atau identitas Atman-Brahman sebagai makna terdalam eksistensi. Sedangkan Buddhisme menekankan kekosongan (non-dualitas tanpa esensi) sebagai kebenaran hakiki di balik penampakan. Meski berbeda terminologi, keduanya mengarahkan pada wawasan spiritual bahwa apa yang tampak sebagai keberadaan lahiriah (dunia material dan ego individual) bukanlah Realitas terakhir.

Dalam konteks ini, kata sambhava yang bermakna “asal mula keberadaan” memperoleh bobot filosofi. Ia mengajak kita merenungkan dari mana sesungguhnya keberadaan ini berasal dan apa hakikatnya. Apakah ia bersumber dari Yang Tunggal nan Abadi (seperti Siwa atau Tuhan dalam pengertian mistik), ataukah ia hanyalah percikan fenomenal tanpa inti, bergantung pada rangkaian kondisi? Pertanyaan inilah yang menyatukan telaah etimologis Sumbawa dengan perenungan metafisis lintas budaya.

Setelah menelusuri asal-usul nama Sumbawa dan konsep sambhava dalam berbagai tradisi, muncul pertanyaan: bagaimana makna “asal-mula eksistensi” ini tercermin dalam simbol, budaya, atau karya spiritual? Salah satu jembatan menarik ialah lagu Jayamangala Gatha yang mengiringi video ini. Sebuah gatha (syair pujian) Buddhis yang masyhur dalam tradisi Theravada. Jayamangala Gatha berarti “Syair Kemenangan yang Membawa Berkah”.

Lagu ini, berisi delapan bait yang masing-masing mengisahkan kemenangan Buddha Gautama dalam mengatasi rintangan besar sepanjang perjalanan spiritualnya. Seperti menaklukkan Māra (dewa penggoda), menjinakkanAlavaka (yaksha yang beringas), menundukkan gajah Nalagiri yang mengamuk, mengubah hati si pembunuhAngulimāla, membungkam kecaman jahat Ciñcā, memenangkan debat melawan Saccaka si filsuf keras kepala, serta menaklukkan kesombongan naga Nandopananda dan kesesatan Brahma Baka.

Setiap kisah ditutup dengan do’a, agar “melalui kekuatan kemenangan tersebut, semoga keberkahan kemenangan dilimpahkan kepadamu” (“… bhavatu te jaya-maṅgalāni”). Syair ini dipercaya mujarab untuk menghalau hal-hal negatif dan mendatangkan auspisi atau berkah kemenangan spiritual. Bahkan tradisi menyebut Buddha sendiri menganjurkan pelafalan Jayamangala Gatha untuk mengatasi marabahaya batin dengan aura kemenangan dan kebajikan.

Lirik dan makna Jayamangala Gatha, menyimpan simbolisme mendalam tentang eksistensi dan pembebasan. Secara tersurat, gatha ini merayakan kemenangan (jaya paruwa/yang pertama) Buddha atas berbagai personifikasi kejahatan, nafsu, dan kebodohan. Namun secara tersirat, setiap kemenangan tersebut melambangkan penaklukan aspek-aspek batin atau “musuh internal” yang mengikat makhluk dalam samsara (lingkaran keberadaan duniawi).

Sebagai contoh, kemenangan atas Māra dan pasukannya melambangkan terkalahkannya godaan dan nafsu yang menjadi asal penderitaan; kemenangan atas Angulimāla melambangkan dihentikannya siklus kekerasan dan karma buruk; kemenangan atas debat Saccaka melambangkan unggulnya paññā (kebijaksanaan) atas ego dan pandangan salah. Dengan kata lain, Buddha mencapai pencerahan dengan menaklukkan hal-hal yang mengondisikan kelahiran kembali dan penderitaan.

Ketika syair itu didendangkan, pendengar diajak menghayati bahwa puncak kemenangan spiritual adalah terbebasnya diri dari belenggu eksistensi yang sarat dukkha. Terbebas dari sambhava dalam arti kelahiran ulang yang terus-menerus. Jayamangala Gatha mengingatkan bahwa eksistensi di dunia (lahir, tua, sakit, mati berulang kali) penuh mara bahaya, namun melalui praktik kebajikan (dana, metta, khanti, dll. yang diuraikan sebagai “senjata” Buddha dalam kisah-kisah tersebut), seorang pencari kebenaran dapat memenangkan perjuangan batin melawan penderitaan eksistensial dan meraih kemenangan agung berupa Nirvana.

Secara simbolis, terdapat korespondensi indah antara makna nama Sumbawa dengan semangat Jayamangala Gatha. Sumbawa sebagai Sambhava dapat dimaknai “asal mula ada”, suatu titik pijak eksistensi. Sementara Jayamangala Gatha merayakan transformasi eksistensi: dari keadaan terbelenggu oleh “asal-mula nafsu dan kebodohan” menuju keadaan bebas di mana tiada lagi kelahiran baru yang penuh derita. Dalam konteks spiritual, asal-mula keberadaan bisa ditafsirkan sebagai Benih Ilahi atau Hakikat Penciptaan dalam diri manusia.

Dalam sufisme, hal itu kerap disebut fitrah atau Nur Muhammad yang jika disadari akan menuntun pada Yang Maha Asal (Tuhan). Syair Buddhis itu, meski lahir dari tradisi berbeda, menggemakan nilai universal bahwa hidup manusia mencapai makna tertinggi ketika mampu memahami asal-usulnya (siapa diri kita, dari mana kita “datang”) dan lalu mengatasi segala rintangan duniawi untuk kembali pada Sumber seluruh keberadaan. Di sinilah Sumbawa sebagai Sambhava memperoleh tafsir filosofis: Sumbawa adalah pengingat akan eksistensi kita yang bersumber dari Yang Tunggal dan akan kembali pada-Nya setelah menaklukkan “Māra-Māra” kehidupan.

Lebih konkret lagi, Jayamangala Gatha mengandung nilai-nilai spiritual yang dapat direfleksikan dalam budaya Sumbawa. Masyarakat Sumbawa (Tau Samawa), yang sejak berabad silam dipengaruhi oleh kebudayaan agama-agama besar (Hinduisme, Buddhisme di masa Majapahit, kemudian Islam), memiliki khazanah kearifan lokal yang sejalan dengan ajaran moral universal. Dengan demikian, Jayamangala Gatha merepresentasikan nilai spiritual dan eksistensial yang selaras dengan makna mendalam nama Sumbawa: mengajak manusia kembali merenungi asal-usulnya, mensyukuri anugerah eksistensi, dan berjuang menuju kesempurnaan (moksha atau insān kāmil), yaitu kembali pada Sang Sumber dengan jiwa yang tenang dan menang.

Secara historis, nama pulau ini terekam dalam berbagai bentuk di sumber kuno, dari Ssimbaua, Cambaba, Sambava hingga Sumbawa. Hal tersebut mencerminkan interaksi lintas bahasa dan pengaruh Hindu-Buddha serta kolonial di Nusantara. Penamaan pulau ini memiliki muatan religio-kultural sejak masa silam. Secara filosofis, sambhava berarti “asal mula keberadaan”, dan ide ini bergema dalam berbagai tradisi. Dalam Islam, Allah dilihat sebagai Wujud Mutlak, sumber segala yang ada dan alam semesta hanyalah bayangan eksistensi-Nya.

Dalam Vedanta, Brahman sebagai sat (ada) adalah realitas tunggal yang melahirkan dunia fenomenal. Dalam Buddhisme, setiap keberadaan muncul bergantung sebab dan kondisi, tanpa inti mandiri, sehingga memahami kekosongan dan memutus rantai kemunculan itulah kunci pembebasan. Inti pemahaman ini menekankan bahwa keberadaan kita bukan suatu kebetulan tanpa makna, melainkan terjalin dengan prinsip agung entah itu dimaknai sebagai Tuhan, hukum kosmis, ataupun rangkaian sebab-akibat yang moral.

Melalui simbolisme lagu Jayamangala Gatha, kita melihat bagaimana nilai “asal-mula eksistensi” dipadu dengan pesan kemenangan spiritual. Jayamangala Gatha mengandung pesan bahwa mengatasi rintangan duniawi dan menyadari hakikat eksistensi (lepas dari belenggu nafsu dan ego) adalah kemenangan tertinggi yang menghadirkan kebahagiaan dan pembebasan. Ini selaras dengan makna filosofis nama Sumbawa/Sambhava: bahwa di balik penamaan suatu tempat pun tersirat pengakuan akan asal usul yang sakral dan ajakan untuk menemukan jati diri dalam konteks kosmis.

Pada akhirnya, penggalian budaya dan filsafat ini memperkaya pemahaman kita tentang Sumbawa bukan hanya sebagai pulau secara geografis, tetapi sebagai ide, sebuah locus di mana sejarah dan spiritualitas bertemu. Nama Sumbawa mengandung warisan toponimi kuno dan butir kearifan: mengingatkan kita akan pentingnya menengok asal-mula (origin) kita, memahami makna eksistensi yang dianugerahkan, serta berjuang meraih “jayamangala” atau kemenangan yang penuh berkah dalam perjalanan hidup menuju Sang Ada.

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Bukan Karena Nasab! Tetapi Karena Amal Shaleh

Sofian Hadi

Islamophobia, Isu yang Terus Digoreng

Sofian Hadi

Kamuflase Abdul Ghaffar: Bagaimana Snouck Hurgronje Menipu Kaum Muslim di Nusantara

Sofian Hadi

Sejarah Singkat Kerajaan Tambora (Abad ke-16 – 1816)

Sofian Hadi

Penyimpangan Seksual Dalam Masyarakat (Sebuah Analisis Kritis)

Sofian Hadi

Miris, Keserakahan Pelaku Buku Bajakan: Sebuah Catatan Observasi  

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page