HikmahNasional

Tentang Keadilan Sosial Yang Terluka

Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan suatu hari bertanya kepada santri-santrinya. “Apakah kalian mengerti dan menghayati makna surat al-Maun?”. Semua santri menjawab mengerti dan membuktikannya melalui hafalan masing-masing dengan begitu fasih dan lancar.

“Itu namanya hafal. Belum tentu ngerti dan menghayati. Ngerti dan hafal itu jauh bedanya” kata Sang Kiai besar itu. Kemudian menjelaskan kepada santri-santrinya. Tanda bahwa jiwa surat itu ada di tangan kita adalah, bila isi pesan utamanya sudah kita wujudkan.

“Maksudnya adalah”

“Sediakan rumah bagi mereka yang tak punya rumah. Beri makan mereka yang kelaparan. Beri juga mereka pendidikan. Pendeknya, dirikan panti asuhan untuk mereka yang terlantar.”

Anak-anak terlantar itu juga berhak hidup. Anak-anak jalanan itu berhak mendapat pendidikan. Hati yang iba serta jiwa yang bertanggung jawab akan mengerti ada yang berhak hidup layak, berhak memiliki rumah, berhak bersekolah, berhak makan soto enak.

Mereka itu, anak yang tidak punya apa-apa. Ayah ibu, bibi paman, saudara famili. Tidak ada! Semua adalah tanggung jawab kita khususnya pemerintah. Demikian realitasnya.

Saat ini, fenomena anak-anak jalanan itu ada karena: Pertama, fenomena demografis. Kedua, tanda keadilan sosial terluka. Dan boleh jadi pemegang saham negara adalah penyebabnya, mengapa? Karena kekayaan negara tidak dibagi adil dan merata.

Konstitusi sudah mengatur keadilan sosial. Pesan Agama berbicara tegas dan lantang. Bahkan terkadang pemerintah fasih menjelaskan dalam kekayaan itu, terdapat hal untuk orang lain. Namun, tak pernah terbayangkan pemerintah akan memberi tanpa ribet, tanpa bersungut-sungut.

Pemerintah, pejabat negara memperkaya diri luar biasa, sementara orang lain, rakyatnya sendiri miskin papa. Merana terluka. Pejabat miliki rumah besar-besar. Harta berlimpah. Mobil-mobil mewah dipajang. Keluarga menikmati. Makan enak setiap hari.

Akan tetapi, rakyat miskin terlunta-lunta. Anak jalanan terluka. Semua miskin, seolah dipaksa menerima takdir. Tak ada yang peduli. Tak ada yang sadar. Gubuk tempat mereka tinggal, adalah jerih payah sementara yang akan kembali disita negara.

Wahai pemimpin, pejabat, jangan lupa, rumah besar kalian, maupun gubuk kecil miskin, hakekatnya sama. Hanya rumah singgah sementara.[1] Semua akan kembali kepada yang punya. Kalian jangan terlena dalam kemewahan, jangan tertawa melihat penderitaan, ingat kemana kamu nanti akan kembali!

Saat ini, Bumi Pertiwi sedang tidak baik-baik saja. Meledak tuntutan di mana-mana. Massa hilang kesabaran, rakyat marah dengan kabijakan. Dalam situasi genting sekarat, para pejabat riang berdendang. Asyik berjoged. Hutang Negara terus meroket. Sementara, rakyat papa direnggut penghasilan, dipaksa berjuang untuk sebuah pekerjaan serabutan.

Ke mana menghilang sila ke-5? Adakah kalian masih mengingatnya? Adakah kalian masih menghafalnya? Adakah kalian ngerti isi dan pesannya? Ingat pesan KH. Ahmad Dahlan, hafal dan ngerti itu berbeda. Namun sayang, seribu-kali sayang, kalian tidak hafal dan juga tidak ngerti. Sungguh naif dan sesal tiada guna.

Para pendiri Bangsa ini, punya figur dan pahlawan besar. Sebagian mereka adalah pejabat, namun mereka tetap merakyat. Bacalah kisah Bung Hatta Sang Wakil Presiden. KH. Agus Salim Sang Diplomat cerdas. Simaklah kesederhanaan Kepala Kepolisian Hoegeng Imam Santoso. Belajarlan dari teladan Pak Muhammad Natsir.    

Wahai para pejabat! dari sosok mereka-lah, kalian bercermin!

Indonesia negeri kaya raya. Tanah kepingan surga. Bumi subur nan makmur. Namun, tak satu pun rakyatnya makmur. Tidur dihamparan emas dan nikel, berselimut batu bara. Tetapi, sekali lagi, rakyatnya menderita, miskin papa.

Semoga suatu saat, negeri ini dipimpin oleh pejabat yang baik, pejabat dan pemimpin yang mencintai rakyatnya, mencintai keadilan, mencintai kejujuran. Amîîn yâ rabbal âlamîîn.

Wallhua’lam bish shawââb


[1] Dalam sebuah catatan essay kebudayaan, Kang Muhammad Sobary. Kemudian dikembangkan oleh Penulis.

Postingan terkait

Sejenak Bertafakkur

Sofian Hadi

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Tiga)

Sofian Hadi

Pentingnya Kenyamanan dan Keamanan dalam Berwisata

Sofian Hadi

Mendidik Anak Berpuasa: Cara Menanamkan Cinta Ibadah Sejak Dini

Sofian Hadi

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Empat, Penutup)

Sofian Hadi

Begini Cara Media Mengendalikan Dunia (Bagian Satu)

Sofian Hadi

1 komentar

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page