HikmahIlmu

Tiga Kerugian yang Menghinakan : Renungan bagi yang Baru Saja Melewati Ramadhan

Ada satu hadits yang mungkin sering kita dengar, namun jarang kita renungkan dengan cukup dalam. Ia datang dari lisan mulia Rasulullah ﷺ, seorang yang paling mengasihi umatnya, yang tidak ingin satupun dari kita binasa. Namun dalam hadits ini, beliau menyebut tiga golongan manusia dengan ungkapan yang sangat keras-sebuah peringatan yang seharusnya membuat bulu kuduk kita berdiri. Rasulullah ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ ذُكِرتُ عِندَهُ فَلَم يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انسَلَخَ قَبلَ أَن يُغفَرَ لَهُ، وَرَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ أَدرَكَ عِندَهُ أَبَوَاهُ الكِبَرَ فَلَم يُدخِلَاهُ الجَنَّةَ

“Sungguh celaka(dan hina) seseorang yang namaku disebut di sisinya, namun ia tidak bershalawat kepadaku. Sungguh celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia diampuni. Sungguh celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan tua, namun (keduanya) tidak menjadikannya masuk surga.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)

Ungkapan ragima anfu secara harfiah berarti “hidungnya dilumuri debu” atau “hidungnya terbenam dalam tanah.” Dalam budaya Arab, ini adalah gambaran seseorang yang jatuh tersungkur dengan wajah membentur tanah—sebuah simbol kehinaan, kerugian, dan penyesalan yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ menggunakan ungkapan ini bukan tanpa alasan. Beliau ingin mengguncang kesadaran kita, membangunkan kita dari kelalaian, karena tiga kesempatan yang disebutkan dalam hadits ini adalah tiga pintu rahmat yang tidak boleh kita sia-siakan.

Bulan Ramadhan yang baru saja berlalu adalah salah satu dari tiga kesempatan emas itu. “Sungguh celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia diampuni.” Perhatikan bagaimana hadits ini menggambarkan Ramadhan sebagai tamu agung yang datang, lalu pergi, dan meninggalkan pertanyaan yang menggantung: apakah kita termasuk yang diampuni, atau termasuk yang dibiarkan dalam kehinaan?

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan limpahan rahmat. Di dalamnya, setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka, dan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun semua itu tidak otomatis menjadikan seseorang diampuni. Ampunan harus dijemput dengan kesungguhan, dengan kesadaran, dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang-orang yang Ramadhan datang dan pergi begitu saja, tanpa meninggalkan bekas dalam hidup mereka. Mereka melewati hari-hari puasa seperti melewati hari-hari biasa. Mereka menahan lapar dan dahaga, tetapi hati mereka tidak pernah tersentuh. Mereka shalat tarawih, tetapi hanya sebagai rutinitas fisik tanpa ruh. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi tanpa tadabbur. Dan ketika Ramadhan berlalu, mereka tidak mendapatkan ampunan yang seharusnya menjadi tujuan utama dari ibadah puasa.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman!Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa, dan takwa adalah buah dari ampunan. Jika setelah Ramadhan seseorang masih bergelimang dosa yang sama, masih jauh dari Allah, masih lalai dalam ketaatan, maka sungguh ia telah melewatkan kesempatan terbesar dalam hidupnya. Ia seperti seorang yang memasuki lautan mutiara tetapi pulang dengan tangan kosong. Ia seperti seorang yang diundang ke pesta kerajaan tetapi hanya duduk di pintu gerbang tanpa masuk menikmati hidangan.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya,maka Allah tidak butuh pada usahanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Inilah peringatan bahwa puasa tanpa perubahan perilaku adalah puasa yang kosong. Dan orang yang berpuasa namun tidak kunjung diampuni, seperti yang disebut dalam hadits pertama, adalah mereka yang menjalani Ramadhan secara fisik tetapi hatinya tidak pernah sungguh-sungguh bertaubat.

Nah, bulan Ramadhan baru saja berlalu. Kita masih berada di bulan Syawal, di mana pintu ampunan belum sepenuhnya tertutup. Namun hadits ini mengingatkan bahwa insalakh—bulan itu telah berlalu—adalah batas waktu yang ditentukan. Jika seseorang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan, maka ia termasuk dalam golongan yang disebut celaka.

Ini bukan berarti setelah Ramadhan pintu ampunan tertutup sama sekali. Allah Maha Penerima taubat kapan saja. Namun hadits ini menunjukkan betapa besarnya kerugian jika kita tidak memanfaatkan momen yang penuh berkah ini. Ia seperti seorang petani yang melewatkan musim hujan, lalu harus bertahan dengan tanah kering sepanjang tahun.

Lalu apa hubungannya dengan dua golongan lain dalam hadits ini? Rasulullah ﷺ menyandingkan Ramadhan dengan dua kesempatan agung lainnya: bershalawat ketika nama beliau disebut, dan berbakti kepada kedua orang tua yang sudah tua. Ini adalah tiga pintu rahmat yang sangat mudah dibuka, namun seringkali kita abaikan. Shalawat kepada Nabi hanya butuh satu detik, namun pahalanya luar biasa. Berbakti kepada orang tua di saat mereka renta adalah investasi surga yang sangat besar. Dan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.

Mengapa tiga hal ini disandingkan? Karena ketiganya adalah kesempatan yang datang, lalu pergi, dan mungkin tidak akan kembali. Nama Nabi disebut, lalu berlalu; jika kita tidak bershalawat saat itu, kesempatan emas untuk meraih keutamaan itu telah lewat. Ramadhan datang setahun sekali, lalu pergi; jika kita tidak meraih ampunan di dalamnya, kita harus menunggu setahun lagi, dengan catatan masih diberi umur. Orang tua yang sudah tua, suatu saat akan tiada; jika kita tidak berbakti saat mereka masih hidup, kita mungkin akan menyesal seumur hidup.

Setelah Ramadhan berlalu, kita dihadapkan pada pertanyaan yang sangat jujur: apakah Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan yang membawa ampunan bagi kita, ataukah kita termasuk dalam golongan yang disebut ragima anfuhu—hidungnya terbenam dalam debu karena kerugian yang begitu besar?

Mari kita evaluasi. Apakah kita masih membawa kebiasaan baik yang kita bangun di Ramadhan? Apakah hati kita masih dekat dengan Al-Qur’an? Apakah kita masih menjaga shalat malam? Apakah kita masih menahan amarah dan menjaga lisan? Jika ya, maka itu adalah tanda bahwa kita telah meraih ampunan. Jika tidak, maka inilah saatnya untuk segera kembali, karena pintu taubat masih terbuka. Namun jangan pernah menganggap remeh peringatan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah mengatakan sesuatu yang sia-sia.

Saudaraku yang baru saja melewati Ramadhan, coba tanyakan pada hatimu: apakah engkau termasuk yang celaka, atau yang beruntung? Apakah Ramadhan yang baru berlalu itu menjadi saksi atas ampunanmu, atau menjadi saksi atas kelalaianmu? Ingatlah, hadits ini bukan untuk membuat kita berputus asa, tetapi untuk membangunkan kita dari tidur panjang. Masih ada waktu. Syawal masih menyisakan hari-hari yang bisa kita isi dengan taubat, istigfar, dan komitmen baru. Jangan biarkan Ramadhan pergi tanpa meninggalkan bekas. Jangan biarkan dirimu menjadi orang yang disebut Rasulullah ﷺ dengan ungkapan yang paling keras itu.

Mari kita jadikan Ramadhan yang baru berlalu sebagai titik balik, bukan titik akhir. Mari kita buktikan bahwa kita bukan termasuk orang yang ragima anfuhu, tetapi termasuk orang yang mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Karena sesungguhnya, sebaik-baik Ramadhan adalah yang mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Dan sebaik-baik manusia adalah yang ketika Ramadhan datang, ia menyambutnya dengan tangisan taubat, dan ketika ia pergi, ia melanjutkan perjalanan dengan istiqamah.

Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk golongan yang celaka di hadapan-Nya. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi bulan yang mengampuni dosa-dosa kita. Dan semoga kita termasuk hamba-hamba yang ketika nama Nabi disebut, kita bershalawat dengan penuh cinta; ketika Ramadhan datang, kita meraih ampunan-Nya; dan ketika orang tua masih ada, kita berbakti hingga mereka ridha. Karena ketiga kesempatan itu adalah tiket menuju surga, dan tidak ada yang lebih bodoh selain orang yang membiarkan tiket itu lepas dari tangannya.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

Lebih Dekat dari Urat Leher : Menyelami Samudra Makna Surat Qaf Ayat 16

M. Syarif Hidayatullah

Meningkatkan Hubungan dengan Allah, Makhluk, dan Alam

Sofian Hadi

Menuju Kesempurnaan Ibadah Bagian Empat

Sofian Hadi

Nilai Peradaban Islam yang di Rampas

Sofian Hadi

Refleksi Hari Raya Idul Fitri 1447 H: Memaafkan adalah Kemuliaan

M. Syarif Hidayatullah

“IMAJINER” Untaian Nasihat Badiuzzaman Said Nursi (1)

Fiqri Rabuna

1 komentar

Marvin Malone Maret 30, 2026 di 6:25 pm

Pretty! This has been a really wonderful post. Many thanks for providing these details.

Membalas

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page