Hikmah

Manusia Rusak Oleh Pikiran Sendiri: Hidupkan Jiwa, Buang Segala Problema

Manusia hidup di dunia akan selalu dihadapkan pada persoalan dan tantangan yang datang secara bergantian. Satu problema teratasi, seribu masalah kembali menghampiri. Di satu sisi, manusia dituntut berjibaku dengan masalah yang dihadapinya.

Masalah adalah takdir hidup, siapapun akan di datangi. Tidak peduli dengan kondisi apapun. Pastinya, persoalan mustahil menghampiri tanpa kompromi, tanpa permisi. Adakalanya memaksa, mencipatakan ruang perdebatan lahir-batin.

Perdebatan lahir, akan dicerna oleh kondisi fisik manusia yang tergambar dalam kemurungan. Wajah yang sumrigah, berubah. Sikap bersahabat, melonggar. Semangat berbicara, pudar. Paras senyum, hingar-bingar, menyusut dan kusut. Demikian, masalah jika menyapa manusia.

Pada sisi berbeda, ruang perdebatan batin juga terbaca. Jiwa yang tenang, dapat runtuh berantakan. Hati lapang mengguncang, bimbang tak ada riak teduh. Gejolak hati, jiwa terombang-ambing tidak ada dermaga berlabuh. Kosong  seperti cahaya pendar memudar redup.

Dalam gejolak ini, pikiran adalah pemegang kendali-kontrol. Pikiran dibutuhkan untuk memecah persoalan dan masalah. Manusia butuh pikiran dan akal untuk terus hidup. Pikiran adalah proses menuju kepada akal. Akal adalah produk dari pikiran. Pikiran memberikan proses bagi pemecahan persoalan.

Pikiran mempunyai batasan. Khsususnya, dalam menemukan kebenaran dalam menyelasaikan persoalan/problema hidup manusia. Untuk itu, kebenaran dalam pemikiran, keputusan-tindakan, apalagi jalan hidup yang dihasilkan oleh pikiran murni manusia, merupakan benenaran relative, yang dapat mengandung kesalahan atau bisa jadi gegabah.   

Gagasan dan pikiran yang tidak disertai dengan kensultasi terhadap jiwa/hati, akan menciptakan sebuah masalah baru. Karenanya, kontemplasi batin sangat dibutuhkan. Tidak sekadar menyerahkan sepenuhnya kepada pikiran yang dangkal. Sebab, akan memicu kehancuran, baik kehancuran jasmani maupun kehancuran rohani.

Jika pikiran belum mampu mengatasi masalah dan persoalan hidup, ajak hati untuk berpikir. Hati mampu mencari solusi dengan tenang. Bukan hanya mampu menenangkan pikiran, kerja hati dapat meredam pesoalan yang rumit sekalipun. Persoalan yang pelik sekalipun.

Percikan cahaya-cahaya kebaikan muncul dari dalam hati atau jiwa yang bening. Di dalam al-Qur’an Allah membagi jiwa ke dalam 3 (tiga) kategori. Pertama, jiwa Ammaratun bis-sû. Inilah jiwa yang selalu mengajak kepada kejelekan. Kedua, jiwa Lawwâmâh. Jiwa yang selalu mencela pemiliknya. Jika pemilik melakukan dosa, ia akan mecelanya. Jiwa ini butuh pengingat.

Ketiga, jiwa Muthmainnâh (jiwa yang tenang). Jiwa ini adalah wadah iman dan cahaya. Jiwa ini dicintai Allah Swt. Ia adalah jiwa yang khusyu’ lemah-lembut dan mulia. Allah Menamakan jiwa ini dengan “jiwa ketenangan”. Setiap manusia akan bingung, bimbang, gelisah dengan persoalannya. Kecuali yang memiliki jiwa ini.[1]

Kesimpulannya, tanyakan kepada pikiran dan hati setiap insan. Pada pasisi jiwa yang mana kita berteduh? Apakah pada posisi jiwa pertama, jiwa yang yang selalu mengajak kepada kejelekan, keburukan? Atau pada posisi jiwa kedua yang selalu melakukan maksiat, dosa. Dan mungkin pada posisi jiwa ketiga jiwa yang selalu membawa ketenangan.

Pikiran manusia bergantung kepada kondisi jiwa yang dialaminya. Menciptakan pikiran yang selaras dengan jiwa, akan menemukan solusi setiap persoalan hidup. Pikiran tidak datang dari jiwa dan hati orang lain, namun pikiran datangnya dari hati dan jiwa sendiri.

Wallahu’â’lam bish shawâb


[1] Amru Khalid, Islahul Qulûb (Hati Sebening Mata Air), (Solo:Aqwâm: Jembatan Ilmu, 2006), hlm. 183-187.  

Postingan terkait

Hikmah dari Alam: Belajar Ketangguhan dari Pohon

Sofian Hadi

Keyakinan sosok Abu Darda Uwaimir al-Anshari

Sofian Hadi

Taliwang Kembali Diterjang Banjir: Sabar atau Pasrah?

Sofian Hadi

Agar Dosa Diampuni Di Hari Arafah

Lalu Wawan Febriyanto

Refleksi Hari Raya Idul Fitri 1447 H: Memaafkan adalah Kemuliaan

M. Syarif Hidayatullah

Hikmah di Balik Perubahan Iklim: Menemukan Pelajaran dari Tantangan Global

Sofian Hadi

1 komentar

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page