Orientasi dan tujuan pendidikan telah dikeruhkan oleh teori dan aplikasi modern-sekular yang cenderung materialist. Pendidikan pada dasarnya transfer ilmu dan kebaikan, menjadi ajang transfer ilmu palsu dan transfer kebaikan palsu yang mengikis identitas.
Padahal, dahulu para ulama dari guru ngaji di teras rumah, hingga guru pelajaran di sekolah menekankan kepada pentingnya pendidikan, ilmu dan adab (akhlaq). Namun saat ini, mudah ditemukan manusia yang palsu ilmunya, palsu pendidikannya, palsu sertifikat dan ijazahnya buah dari pendidikan modern-sekular.
Pengaruh sekularisasi khususnya dalam dunia pendidikan tanpa disadari telah menjauhkan nilai, makna dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Pergeseran paradigma yang disebabkan oleh sekularisasi di era kontemporer terhadap pendidikan telah menggeser tujuan pendidikan secara total.
Secara umum ada 2 (dua) pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, yang mana tujuan teorits tersebut mempunyai ragam pendapat masing-masing.
Pandangan pertama, bereorientasi kemasyarakatan yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik. Baik untuk sistem pemerintahan demokratis, oligarkis, maupun monarkis.
Adapapun, pandangan teoritas kedua, lebih bereorientasi kepada individu, lebih memfokuskan diri kepada kebutuhan, daya tampung dan minat pelajar.[1]
Terkait dengan pandangan teoritis pendidikan yang berorientasi individual, pandangan ini terpecah menjadi 2 (dua) aliran.
Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar dapat mencapai kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan ekonomi jauh lebih berhasil dari apa yang pernah diraih oleh orangtua mereka. Maksudnya, pendidikan adalah jenjang mobilitas sosial-ekonomi dalam masyarakat tertentu. Ini pendapat panganut aliran pertama.
Dalam pandangan penganut aliran kedua, lebih menekankan pada peningkatan intelektual, kekayaan dan keseimbangan jiwa peserta didik. Walaupun peserta didik memiliki persamaan dengan pesarta didik lain namun pasti terdapat keunikan yang lain dari segi yang berbeda.[2] Masing-masing pendapat ini punya cara pandang tersendiri dalam memaknai tujuan pendidikan.
Sementara, dalam dunia filsafat pendidikan, lebih memprioritaskan pendidikan individu secara perlahan lantas lambat laun berubah kepada tujuan pemenuhan kepada minat masyarakat. Hal ini disebabkan oleh pengaruh pemikiran institisi-institusi Barat.
Pada zaman modern ini, para tokoh-tokoh filsafat pendidikan yang beraliran sosialis dan komunis, dengan terang-terangan menekankan dimensi sosial daripada dimensi liberal yang lebih mengutamakan individu daripada masyarakat.[3]
Para pemimpin yang berjiwa sosialis menganggap negara atau masyarakat sebagai sesuatu yang lebih penting dari individu, sebab mereka melihat pendidikan sebagai investasi (bisnis), sebagai rekayasa sosial yang akan membentuk kembali tatanan sosial-ekonomi yang menyedot keuntungan negara.
Pergeseran paradigma di dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko-sosial, utamanya dikalangan peserta didik atau orangtua siswa. Apa yang disebut sebagai “penyakit diploma” (diploma disease) yaitu, usaha yang di capai dalam meraih gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, melainkan karena nilai ekonomi dan sosial.[4]
Sebagaimana diketahui, di dalam masyarakat miskin, sumber daya alam tidak dilengkapi dengan tatanan okonomi yang baik, sehingga sikap pendidikan seperti ini turut menjadi penyumbang terciptanya situasi sosial-ekonomi-politik yang kacau.
Sehingga, terjadilah situasi pendidikan stagnan di kelas masyarakat miskin ditambah dengan penanganan yang buruk dari pihak terkait dalam masalah ini. Hal inilah yang dikatakan Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai sumber dari ‘kebingungan intelektual’ dan ‘hilangnya identitas’ kebudayaan disebabkan oleh pengaruh program sekularisasi yang berkelanjutan serta pengaruh konsep begara Barat yang cenderung sekuler.[5]
Wallahu’lam bish shawab
[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), 163.
[2] B. Othanel Smith, William O Stanley, dan J. Harlan Shores, Fundamental of Curriculum Development. Edisi revisi (New York, Chicago, San Fransisco, Atlanta: Harcourt, Brace & World, 1957), 548-551.
[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), 165..
[4] Ronald Dore, The Diploma Desease: Education, Qualification, and Development (London: George Allen dan Unwin, 1976);Lihat juga Jandhyala B.G Tilak, Education and Development in Asia, (New Delhi: Sage Publication, 1994), 92, 141. Gembaran kondisi seperti ini terjadi di Pakistan 1970-an. Lebih lanjut lihat, I.H. Qurasyi, Education in Pakistan; an Inquiry into Objective and Achievement (Karachi: Ma’aref Ltd., 1975), 55-56. Dikutib dari
[5] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), 166. Permasalahan mengenai ‘kebingungan intelktual’ ini juga menjadi topic diskusi serius antara al-Attas dengan Nor Wan Daud.
1 komentar