Pendidikan

Membaca Definisi “Character” Dalam Berbagai Literatur, Bagian 1 (Satu)

Menurut The New International Webster’s Comprehensive Dictionary of English Language, kata ‘character’ mempunyai banyak definisi, namun di sini akan diambil dua pengertian saja. Makna pertama dari ‘character’ the combination of qualities distinguishing any person or class of persons.

Sementara, makna kedua adalah, high qualities; moral force.[1]. Jika melihat pada definisi pertama yang bermakna ‘kombinasi kualitas yang membedakan setiap orang atau kelas seseorang’ hal ini menunjukkan minim relevansi antara karakter atau pesan moral seseorang dengan nilai kebaikan yang dimaksudkan oleh pendidikan karakter tersebut.

Definisi menurut Webster’s ini lebih condong kepada kualitas, derajat atau kelas seseorang. Nilai moral yang baik dalam atau sikap hormat tanggung jawab tidak dipesankan dalam makna yang pertama.

Dari pengertian karakter ini, dapat diidentifikasi “tidak ditemukan” aspek ke-shalehan atau ketinggian akhlaq. Karakter hanya dipahami sebagai kombinasi dari kualitas-kualitas yang membedakan seseorang atau kelas seseorang.

Adapun makna kedua, dari definisi di atas, adalah ‘kualitas yang tinggi dan kekuatan moral’. Makna karakter dalam definisi ini, walaupun tidak sepenuhnya mencakup kebenaran secara religiousitas, namun sedikit berkaitan dengan moral yang mana lebih awal didefinisikan sebagai kualitas tinggi.

Kualitas tinggi, dalam artian yang masih bias, belum terlalu jelas ketinggian kualitas apa yang dimaksud. Apakah kualitas sosial seseorang atau kualitas individu seseorang atau kualitas sikap, tindakan dan perbuatan seseorang.

Hal ini masih ditafsirkan sebagai pengertian yang belum final. Sebab, boleh jadi kualitas yang dipahami berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh pengertian karakter. Selanjutnya, arti karakter yang merujuk kepada ‘kekuatan moral’ dalam definisi kedua, di sini bisa dimaklumi memberikan keterkaitan dengan karakter.

Padahal asumsinya adalah, pendidikan karakter dan moral education berangkat dari krisis moral. Seharusnya, definisi yang pertama di dalam Webster’s menekankan makna moral education bukan kombinasi atau kualitas dan kelas seseorang.

Kemudian, definisi berbeda terangkum dalam kamus Collin Cobuild English Dictionary. Di sini dikatakan, character adalah kepribadian seseorang yang bisanya diakui dalam kaitannya  dengan bagaimana mereka dapat dipercaya jujur.

Selain itu, seseorang dianggap berkarakter apabila ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi keadaan sulit, tidak menyenangkan atau berbahaya.[2] Sementara, menurut The Cambridge Dictionary of Philosophy, character di definisikan sebagai:

“The comprehensive set of ethical and intellectual dispositions of a person. Intellectual virtues- like carefulness in the evaluation of evidence- promote, for one, the practice of seeking truth. Moral or ethical virtues- including traits like courage and generosity, dispose persons not only to choices and action but also to attitude and emotions.[3]

Terjemahan bebasnya adalah “Seperangkat disposisi etis dan intelektual seseorang yang komprehensif. Keutamaan intelektual seperti kehati-hatian dalam mengevaluasi suatu petunjuk misalnya, praktik mencari kebenaran. Kebajikan moral atau etis, termasuk sifat-sifat seperti keberanian dan kemurahan hati, menempatkan orang tidak hanya pada pilihan dan tindakan tetapi juga pada sikap dan emosi.”

Selanjutnya, definisi menurut The Oxford Dictionary of Philosophy menerangkan istilah karakter merupakan:

“A person’s character is the sum total of dispositions to action (including thinking and saying). An action is (apparently) out of character it it does not conform to the pattern the person has so far exhibited, although it may be then hitherto appeared. Actions are derivatively good or bad, right or wrong in so far as they would have been the actions of a virtuous person”.[4] 

Artinya, “Karakter seseorang adalah jumlah dari disposisi untuk bertindak (termasuk berpikir dan berkata). Suatu tindakan (tampaknya) di luar karakter itu, tidak sesuai dengan pola yang telah ditunjukkan orang. Meskipun mungkin kemudian muncul sampai sekarang. Tindakan turunannya baik atau buruk, benar atau salah sejauh tindakan itu menjadi tindakan orang yang berbudi luhur.”  

Demikian beberapa definis karakter dalam berbagai kamus (dictionary). Definisi character selanjutnya, akan diurai dari para tokoh Barat pada bagian dua..

Wallahua’lâm bish shawââb


[1] The New International Webster’s Comprehensive Dictionary of English Language. Deluxe Encyclopedic Edition (Florida: Trident Press International, 1996), “character” p. 223

[2]  Collin Cobuild English Dictionary, The University of Birmingham, Colin Cobuild, (London: Harper Collin Publisher, 1996). “character” 

[3]Robert Audi, The Cambridge Dictionary of Philosophy, (United Kingdom: Cambridge University Press, Second Edition, 1995), “character”, 130. 

[4] Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, (Great Britain: Oxford University Press, second Edition, 2005). “character”,  59.

Postingan terkait

Menimbang Sistem Pendidikan Dînîyah dan Sistem Pendidikan Aqlîyah

Sofian Hadi

7 Perbedaan Kehidupan di Pesantren dengan Dunia Luar: Renungan Jiwa dan Perjalanan Makna

Sofian Hadi

Manajemen Asrama Universitas Pesantren

Batuter

Edukasi Moral: Pondasi Membangun Generasi Berakhlak

Sofian Hadi

Membaca Ulang Definisi ‘Character’ Bagian 2 (Dua)

Sofian Hadi

Konsep Ta’dib (adab) yang Diajarkan Rasulullah Saw (Bag.1)

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page