Pembaca yang budiman. Berikut adalah pembahasan definisi ‘character’ dari beberapa literature dan sumber ensiklopedia beserta tokoh-tokoh di dunia Barat.
Untuk memperjelas pengertian character dan tidak terfokus oleh pengertiankamus dictionary atau ensiklopedia filsafat.Pendefinisian karakter harus dirujuk kepada pendapat para tokoh Barat. Charles E. Germane mendefinisikan karkater sebagai berikut;
“One’s way of reacting to life situation, sum total of one’s ways of responding that have become fairly well established or set.”[1]
Salah satu cara bereaksi terhadap situasi kehidupan, cara seseorang menanggapi yang telah menjadi cukup mapan atau yang telah ditetapkan.
Pengertian yang diberikan Germane, sangat dipengaruhi oleh situasi awal kemunculan karakter. Lebih kepada respon atau reaksi terhadap suasana yang berkembang pada masa awal kemunculannya.
Pengertian ini masih belum dipengaruhi oleh hal bersifat religious. Meskipun Germane mencoba mendefinisikan “character” lebih awal sekitar tahun 1929. Terdapat dua hal yang ditekankan Germane dalam membuat definisinya. Pertama, reaksi dan situasi kehidupan masyarakat. Kedua, total respon terhadap keadaan yang merata.
Adapun maksud Germane pada point pertama adalah, bersifat historis pada masa di mana karakter benar-benar belum menjadi perhatian masyarakat Barat (Eropa). Dampaknya belum terlihat dan dirasakan.
Boleh jadi, kerena karakter masih sangat asing dan tidak mempunyai nilai apapun bagi pendidikan generasi Barat. Lambat laun, setelah benturan dan beberapa tuntutan masyarakat atas situasi yang semakin kacau, keadaan tersebut merubah pola masyarakat Barat dalam berinteraksi dengan lembaga pendidikan.
Sementara, pada poin kedua yang ditekankan adalah setelah melihat reaksi masyarakat akan kehidupan yang semakin buruk, maka terjadilah respon menuntut agar situasi tersebut ditanggapi serius oleh lembaga pendidikan atau pemerinatah, guna membangun sistem pendidikan yang lebih mementingkan persoalah karakter. Karenanya, Germane menyebut sebagai one’s way of reaction to life situation dan one’s way of responding become fairly well established.
Sementara, definisi berbeda serta lebih mendekati kepada nilai etika dan sebagainya diberikan oleh Persatuan Pendidikan Karakter Amerika yang mendefinisikan karakter sebagai:
“Knowing, caring about and upon core ethical values such as caring, honestly, fairness, responsibility, and respect for self and others”[2]
Tentunya, definisi yang diberikan oleh proponen kelompok di atas telah bergeser kepada nilai religiusitas. Apa yang disebut dengan religiousitas di sini terkait dengan pemahaman kode etik nilai sebagai kepedulian, kepatuhan, kejujuran dan sikap hormat terhadap orang lain.
Pengertian di atas, menurut pendukung karakter sesuai dengan nilai dan tradisi yang dimaksudkan oleh para pengusung karakter, seperti yang diungkap oleh Kavin Ryan yang mendeskripsikan karakter bermuatan etika, perilaku dan bentuk nilai dalam atribut karakter.[3]
Jika mengacu kepada rekam historis pendidikan karakter, terdapat arti spesifik yang di dalamnya berkaitan dengan pendekatan tradisi dan pendekatan nilai yang diajarkan kepada peserta didik. Lebih jelasnya, disebut dengan fostering of virtues dan traditional virtues, pendidikan nilai dan nilai-nilai dari sebuah tradisi atau budaya yang mana kedua nilai-nilai tersebut terakumulasi dalam terma atau istilahn yang disebut dengan ‘moral’.
Moral di sini dipandang sebagai budaya/tradisi dan nilai yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik. Jika budaya dan nilai tidak diperkenalkan sesuai budaya dan nilai dipastikan mempengaruhi karakter dan hasilnya akan pasti bermasalah.
Kemudian, karakter merupakan “the extension of personality. Whereas others see it as mainly behavior” karakter merupakan perpanjangan dari kepribadian. Sedangkan orang lain melihatnya sebagai perilaku.
Definisi tersebut secara umum digunakan oleh para penganut pendidikan karakter. Hunter dalam bukunya The Death of Character mengeluhkan pendekatan psikologi terhadap karakter, kemudian menyatakan bahwa karakter adalah “very much social in its constitution. Character reflects ‘incarnate’ moral culture.”[4]
Hunter kembali menegaskan bahwa karakter merupakan refleksi budaya moral, sebab moral erat kaitannya dengan konstitusi sosial yang ditemukan dalam masyarakat dan individu. Karenanya karakter memiliki definisi yang ragam serta memantik diskursus dengan pendefinisian lebih berkelanjutan.
Demikian definisi karakter menurut para pakar, semoga menjadi tambahan wawasan bagi pembaca yang budiman.
Wallahu’alâm bish shawââb
[1] Charles W. Germane and Edith Gaytone Germane, Character Education: A Program for the School and the Home, (New York: Silver, 1929), hlm. x.
[2] Marvin W. Berkowitz, Esther F. Schaffer & Melinda C. Bier. “Character Education in the United States” Education in the North 1, no.9 (2001), 3.
[3] Kevin Ryan, in Defense of Character Education. Moral Development and Character Education: A Dialogue, ed. Larry P. Nucci (Bakeley, CA: McCutchan Pub. Corp, 1989), 17.
[4]James Davison Hunter, The Death of Character: Moral Education in an Age without Good and Evil, (New York: Basic Book, 2000,15.
1 komentar