Aktivitas membaca memungkinkan kita mendapatkan informasi yang lebih akurat, ketimbang mendapatkan informasi dari aktivitas lain. Kita mungkin tidak akan tahu sebuah informsi lebih dalam selain dengan aktivitas membaca. Boleh jadi, informasi dari pengalaman, obeservasi, realitas sebuah fenomena, memberikan informasi tambahan. Namun, pengalaman membaca, mampu mendatangkan informasi yang lebih.
Lakon pengetahuan literasi baca yang kita miliki, bersumber dari aktif-nya pancaindra kita. Setiap orang paham dan tidak dapat menafikan hal itu. Bahwa, aktivitas membaca selalu menjadi pengetahuan utama bagi manusia sebagai makluk yang diberikan akal atau intelek.
Dalam satu ungkapan sederhana, tradisi literasi masyarakat adalah jantung sebuah peradaban. Namun faktanya, tradisi literasi belum mampu mendatangkan candu bagi pelakunya. Kebiasaan ini lumrah kita temui di sebuah komunitas, bukan juga hal yang tabu di tengah-tengah masyarakat. Padahal, tradisi literasi merupakan sebuah keniscayaan. Keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar.
Saya tidak sedang menghakimi atau menilai rendahnya minta masyarakat kita dalam hal ‘mlek lierasi’ khususnya literasi baca. Akan tetapi, ini menjadi sebuah penghakiman dari beberapa sumber data, tentang minat dan tingkat literasi baca masyarakat kita yang rendah.
Mengutip data yang di release oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) (meski sumber spesifiknya bervariasi, seringkali mengacu pada survei lama atau PISA), minat baca Indonesia sangat rendah, dengan angka yang menyebutkan hanya 1 dari 1.000 orang (0,001%) yang rajin membaca, menempatkan Indonesia di peringkat bawah global dalam literasi (urutan ke-60 dari 61 negara).
Namun ironisnya, masyarakat Indonesia menghabiskan banyak waktu di gadget. Data lain dari PISA 2022 menunjukkan skor literasi Indonesia 359 (OECD rata-rata 476) dan peringkat ke-62 dari 70 negara, jauh di bawah negara ASEAN lain seperti Singapura dan Vietnam, menunjukkan tantangan besar dalam kemampuan membaca dan pemahaman teks. (Sumber google.com)
Hal yang menarik adalah, data yang di realise UNESCO itu, dibantah oleh seorang kurator JILF 2025, Evi Mariani, pada tanyangan wawancara-nya dengan Wisnu Nugroho (Pimpinan Redaksi Kompas.com) di sebuah podcast, Evi Mariani menyampaikan kalau data yang dipakai oleh UNESCO tidak bersumber dari data valid.
‘Minat baca orang Indonesia itu rendah. Salahnya itu, satu, data yang dipakai itu salah. Karena yang sering di kutib itu UNESCO bilang, dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 (satu yang minat baca).Ngak ada itu. Nggak ada. Nggak ada risetnya (penelitiannya). Ironisnya adalah data yang disebar-sebarkan oleh orang yang literasi-nya rendah’ Demikian bantahan Evi Mariani.[1]
Terkait ini, penting untuk diselidiki lebih dalam apakah benar literasi masyarakat Indonesia benar-benar rendah? Kemudian, sumber data dari mana rendahnya minat literasi masyarakat kita diperoleh atau sumber mana yang menjadi acuan ENESCO? Sehingga menyimpulkan tingkat literasi masyarakat Indonesia rendah.?
Pada objek ini, hemat saya, apa yang dikritisi oleh Evi Mariani ada benarnya. Sebab, Paradoks-nya, apabila dirunut secara berimbang, literasi baca pendiri bangsa ini sangat tinggi. Sebagai contoh, sebutlah Ir. Seokarno Presiden pertama Indonesia. BJ. Habibi, Susilo Bambang Yudoyono dan Prabowo Subianto. Tokoh pejuang dan tokoh kemerdekaan mereka adalah orang-orang yang ‘mlek literasi’.
Belum lagi para tokoh sastrawan, pengarang roman, novel, para kritikus sastra dan sebagainya. Mereka banyak menyumbang pengetahuan literasi khususnya kepada masyarakat Indonesia. Dan ini datanya ada, para tokoh-tokoh sastra Indonesia mereka punya karya dan diakui dunia.
Pertanyaannya, kenapa UNESCO tidak mengambil sumber riset dari para tokoh tersebut? Sebaliknya menyoroti realitas masyarakat yang hidup di tempat-tempat yang tidak punya, atau bahkan kurang mendapatkan akses dunia literasi. Atau UNESCO mengacu kepada trend hidup masyarakt yang notabene-nya senang ber-handphone dari pada memegang buku. Seperti sebuah ketimpangan penelitian.
Apabila demikian, maka bisa dikatakan hasil riset UNESCO dapat persoalkan dan semestinya memperbaiki indikator penelitian dan penilaian terhadap object literasi. Masyarakat Indonesia pada satu sisi memang masih belum terlalu bersahabat dengan dunia literasi. Namun itu bukan ukuran secara holistik untuk menghukumi secara umun atas fenomena yang tidak baik ini.
Sebagai informasi, Gerakan literasi di Indonesia saat ini sedang trend-nya yaitu; mengajak masyarakat untuk ‘mlek literasi’ secara sadar. Gerakan literasi sekarang sedang marak digalakkan, mungkin karena sindiran UNESCO, sehingga dihakimi sebagai sebuah kebenaran yang nyaris dapat diterima.
Pada sudut pendang berbeda, masyarakat kita memang perlu berbenah dalam hal literasi. Sehingga dimungkinkan akan mnenjadi bangsa yang mampu bersaing dari bangsa-bangsa maju sepert bangsa lainnya. Semoga Gerakan literasi semakin marak digalakkan ditengah krisis literasi yang melanda generasi Indonesia saat ini.
Lakon pengetahuan literasi masyarakat Indonesia itu tinggi. Bukan sekadar menampik acuan UNESCO, untuk memberikan argumentasi penolakan. Sebaliknya, sebagai sebuah fakta real yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Bahwa literasi kita adalah maju bukan mundur atau rendah.
Semoga menjadi bahan bacaan yang bermanfaat. Amiin
Wallahu’alam bish shawaab
[1] Silakan akses; https://www.youtube.com/watch?v=0M0661VTBCo&t=611s