Sastra

Mereka Dikubur oleh Sebongkah Keserakahan

Sebuah realitas hidup yang jengah. Manusia dikejar hantu-hantu keserakahan. Empati tersisihkan oleh bertumpuk-tumpuk kepentingan. Telah terjadi di negeri antah berantah ini, harapan seperti nyaris tak berpihak. Nihil tak terperi. Membekap pikiran, menipiskan kejujuran. Memasung kebahagiaan.

Demikian asa dikubur dalam sunyi malam tanpa riak suara. Kehilangan nyawa seperti bukan sebuah bencana. Melainkan dipandang biasa. Sebuah realita keangkuhan, kesombongan, kenpongahan dan keserakahan dipertontonkan. Kebenaran, kebaikan seolah lenyap dari pandangan.

Mungkinkah hukum kebenaran benar-benar tergadai dengan penghianatan? Penghianatan yang mengundang bencana, kehancuran, dan malapetaka. Telah habis kesabaran tertumpuk dalam jiwa. Tumpah ruah tak tersisa. Mengalir, tergerus bersama nyawa-nyawa tak berdaya, tak berdosa.

“Wahai jiwa yang tenang, berpulanglah kepada Tuhan-mu dengan hati puas yang diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalamsyurga-Ku”. (QS. Al-Fajr ayat 27-30). Dalam gelap, senyap do’a-do’a lirih itu dilangitkan. Kalian syahid dengan tenang.  

Rasanya, secepat kilat keserakahan itu merampas sekam bahagia yang mereka rawat erat. Merenggut segenap pucuk harapan. Kering, layu, berkerut ganjil, tirus merekam wajah getir mereka.

“Kamu tahu segala cerita dari orang-orang yang berada di ambang maut? Kamu tetap tahu segalanya, kamu mendengar segalanya! Begitu, sindir Milan Kundera dalam novelnya, Identitas.  

Manusia adalah petaka bagi manusia lain. Berselisih kemudian saling sisih. Kekuasaan saling binasa. Alam diseret ke liang kehancuran. Gaduh, riuh, dengan mesin-mesin penggusur. Alam berteriak, ranting-ranting terserak.

Pohon lenyap, roboh, tak ada riak. Rimba belantara, tempat berkicau manja se-ekor Tokhtor langka. Poksai, Paok, yang ramai bercengkrama. Sempidan, Perkit, lenyap tanpa hingar bingar.

Kini alam menjawab lantang. Membalas kuat menerjang. Dendam, tak ubah boomerang. Dilepar balik menyerang. Gemuruh riuh menggulung, menunjang. Bagai kilat melaju pesat. Gumpalan pembalasan menghantam kepongahan. Pekat, padat menyapu kesombongan. Manggilas keserakahan.

Wahai manusia-manusia serakah. Padamu kesumat geram ditimpakan. Kau saksikan hari ini, dalam diam periuk alam membalas. Manyapa-mu dengan kekuatan-nya. Menghampiri-mu dengan keperkasaan-nya.

Mungkin, hari ini kau selamat wahai manusia serakah. Tapi langit akan bersaksi, alam akan bicara, kelak kamu akan dipaksa, disiksa hingga, raga-mu meronta-ronta.

Untuk kalian para pembuat kerusakan, siapa pun kalian. Alam akan akan membalas perbuatan kalian dengan cara-nya.

Semoga, saudara-saudara kami yang dilanda banjir di Sumatra dan di mana pun bencana melanda, diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan oleh Allah Swt.

Semoga Allah membalas jasa para donatur dan para relawan dengan balasan setimpal. Amiin yaa rabbal alamiin

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Sebuah Buku Hadir Dalam Ungkapan Kegirangan

Sofian Hadi

Kehidupan Keagamaan Di Sumbawa Tahun 1847 Dalam Laporan Zollinger

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Resensi: Kebiasaan Sederhana Mampu Menciptakan Letupan (Atom) Perubahan

Sofian Hadi

Filosofi Air: Kita Air Bukan Api

Sofian Hadi

Tentang Menjadi Penikmat Sastra dan Penikmat Baca

Sofian Hadi

Jempang Mendoak

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page