OpiniPendidikan

Nasihat Penting Untuk Orang Tua: Jangan Biarkan Anak Keturunanmu Menjadi Manusia Lemah!

Bagi orang tua Muslim jangan sekali-kali terkecoh dengan pernyataan-pernyataan ‘sampah’ di atas. Pernyataan sampah yang dimaksud adalah sebuah kefatalan apabila orang tua ‘lemah’, ‘lengah’, ‘kalah’ dalam mendidik anak. Apabila orang tua ‘lengah’ maka dari sinilah awal mula kehancuran tarbiyah dalam keluarga kita(Fadhil S. Hadi)


Gempuran budaya asing seperti; kehidupan hedon, materialistik, flexing (pamer), pergaulan bebas (free live, free love, free sex) saat ini adalah hal biasa disaksikan dalam kehidupan masyarakat modern. Hantaman budaya masyarakat modern, yang di transfer ke dalam budaya masyarakat Muslim, memaksa masyarakat Muslim sebagai objek gempuran untuk bersikap.

Tentunya, gempuran budaya ini telah dirancang dengan matang, guna menghacurkan dan melemahkan generasi umat Islam. Tidak bisa dipungkiri, gempuran dan hegemoni budaya asing digencarkan untuk melonggarkan kungkungan “orang tua” dalam mendidik, mengasuh, menjaga, menasehati anak-anaknya, agar tidak terlalu all out (mati-matian).

Banyak pernyataan seperti; “Tidak usah mendidik anak dengan kasar, harus lemah lembut. Tidak boleh memberi hukuman kepada anak, cukup nasehati. Orang tua tidak boleh marah apabila anak salah, cukup diamkan, agar anak belajar dari kesalahannya. Pahami kondisi dan mental anak apabila sudah beranjak remaja. Biarkan anak bebas mencari jati diri. Jangan dikekang”. Dan sebagainya.

Pernyataan-pernyataan di atas, sering kita saksikan di televisi, diskusi, seminar, acara parenting dan dibisikkan halus ke telinga orang tua. Secara tidak sadar, mamancing orang tua, merenung ulang pola-asuh yang selama ini diterapkan kepada anaknya. Pada akhirnya, orang tua akan menyesal, sedih, meratapi kesalahannya dalam mendidik anaknya.

Pada satu sisi, pernyataan di atas memang benarnya. Akan tetapi, ditekankan kepada orang tua yang lalai dan tidak memperhatikan pola-didik sama-sekali kapada anaknya. Untuk mulai mambangun komunikasi baik maka orang tua yang ‘lalai’ tadi silakan menggunakan cara-cara di atas. Sebagai gerbang pembukaan perhatian kepada anak.

Dalam kondisi berbeda, bagi orang tua Muslim jangan sekali-kali terkecoh dengan pernyataan-pernyataan ‘sampah’ di atas. Pernyataan sampah yang dimaksud adalah sebuah kefatalan apabila orang tua ‘lemah’, ‘lengah’, ‘kalah’ dalam mendidik anak. Apabila orang tua ‘lengah’ maka dari sinilah awal mula kehancuran tarbiyah dalam keluarga kita.

Jika anak salah, maka orang tua harus menghukum sang anak dengan bijaksanaan. Hukumlah sang anak dengan setimpal. Jangan menghukum menggunakan tangan, atau kaki. Akan tetapi, carilah benda yang tidak keras dan tidak lunak. Kemudian, bacalah Bismillah saat memberi hukuman. Niatkan hukuman itu untuk memberinya pelajaran atas kesalahan yang dilakukan.

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan). (HR. Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187)

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan, “Yaitu ajarkanlah adab dan ilmu kepada mereka.[1] Dalam riwayat lain, Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) berkata, “Wajib bagi para bapak dan ibu untuk mendidik dan mengajarkan adab kepada anak-anak mereka, dan wajib mengajarkan cara bersuci (berwudhu, mandi, dan lainnya) dan (tata cara) shalat. Boleh orang tua memukul anak-anak mereka bila sudah paham (tentang wajibnya shalat). Anak laki-laki yang sudah bermimpi basah (baligh) dan anak perempuan yang sudah haidh atau genap berusia lima belas tahun, maka mereka sudah wajib mengerjakannya.[2]

Allah juga memberikan peringatan kepada orang tua dalam hal apa yang akan diwarisan kepada anaknya.

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa, ayat 9)

Pengertian ‘lemah’ dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual (ilmu) dan lemah ekonomi. Karena itu, selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka harus memperhatikan 4 (empat) hal yang disinyalir dengan frasa anak yang lemah itu. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan secara jiwa dan raga anak

Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian “lemah” pada ayat ini, memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin.[3] Dan terbukti, berapa banyak kaum Muslimin yang rela meninggalkan aqidah-nya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi sang anak yang di bawah garis kemiskinan.

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu “enggan, berat”.Padahal, aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak.

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha ‘mencerdaskan’ anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh.

Namun, dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya. Untuk memasukkan anaknya belajar agama, fiqih, aqidah dan sejenisnya terasa sebagai beban besar. Terlalu menyayangkan materi, jika anaknya belajar agama dan belajar Islam. Sungguh sebuah bencana besar!

Karena itu, sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Tidak ada yang sia-sia dalam mendidik, pastinya akan terbalas dengan kebaikan amal jariah.

Mulai saat ini, hindarilah terpengaruh oleh pemikiran dan gempuran budaya asing dalam hal mendidik anak-anak kita. Kita, kaum Muslimin bahkan punya konsep matang dan telah berhasil melahirkan generasi terbaik yang dikenal di dunia Barat dan Timur.

Semoga Allah Swt memberikan kita paraorangtua petunjuk dan kekuatan dalam mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anak kita, sesuai dengan pendidikan, konsep dan metode Islam. Agar supaya, anak-anak kita nantinya tidak menjadi manusia lemah, fisik, lemah akal, lemah iman dan lemah ekonominya. Amiin ya rabbal alamiin.

Wallahua’lam bish shawaab     


[1] Tafsîr Ibni Katsîr, VIII/167 dan Fat-hul Qadîr, V/254

Referensi : https://almanhaj.or.id/32265-perintahkan-keluargamu-untuk-mendirikan-shalat.html (Diakses, 9 Februari, 2026) Pukul 10:00 WITA.

[2] Syarhus Sunnah, II/407, karya Imam al-Baghawi.

[3] Baca, Tafsir Ibnu Katsir: Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim (تفسير القرءان العظيم), I, hlm. 432.

Postingan terkait

Konsep Ta’dib (adab) yang Diajarkan Rasulullah Saw (Bag.1)

Sofian Hadi

Mengenang Tragedi dan Tirani Muslim Rohingya

Sofian Hadi

Tiga Langkah Melatih Minat Baca Peserta Didik di Sekolah Dasar

Sofian Hadi

7 Perbedaan Kehidupan di Pesantren dengan Dunia Luar: Renungan Jiwa dan Perjalanan Makna

Sofian Hadi

Pentingnya Pendidikan dalam Islam: Mencetak Generasi Berwawasan dan Berakhlak Mulia

Sofian Hadi

Perkembangan Minat Baca di Indonesia

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page