Sastra

Periplus dan Sumbangsih Kepada Dunia Literasi Indonesia?

Sekitar bulan April 2017, saya dalam perjalanan menuju kampus Unida Gontor, Ponorogo. Perjalanan menggunakan pesawat terbang. Sebab, jika saya menggunakan kendaraan sejenis bus akan menyita waktu kurang lebih dua hari dua malam untuk tiba di Pulau Jawa.

Sebaliknya, jika menggunakan jasa transportasi udara hanya butuh estimasi waktu satu hari, dari Taliwang, Lombok hingga Surabaya. Di hari keberangkatan, saya berkemas menuju bandara ‘Bandara Internasional Lombok BIL (saat itu). Sekarang berubah menjadi ‘Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid’ (BIZAM).

Penerbangan pesawat terjadwal pukul 09:00 pagi. Saya tidak mau berlama-lama di Kota Mataram, memilih chek in lebih awal, dengan pertimbangan diruang check in bisa sejenak melepas penat sembari menunggu pengumuman take off. Setelah memegang kartu boarding pass saya berbegas menuju lantai dua Bandara BIZAM tempat ruangan check in berada.

Malangnya, ruang chek in penuh, sesak. Sepertinya tidak ada seat kosong lagi tersisa, semua terisi. Bahkan di dalam ruangan, tidak sedikit calon penumpang yang berdiri sambil menenteng tas dan koper mereka. Saya menghela napas sejenak, niat untuk rehat di sana pupus, akhirnya saya memutuskan duduk di sofa luar ruangan.

Di luar ruangan ramai, tidak hanya saya yang terjebak dalam situasi ini, beberapa penumpang lain meradang lantas memilih lunjuran di atas lantai. Ada juga yang berdiri santai. Sebagian lainnya asik ngobrol satu sama lain. Saya meraih handphone di saku kiri celana, hendak mengambil moment untuk dijadikan status story Whatsapp.

Pernak-pernik sejenis souvenir, gantungan kunci, tas, cangkir marmer dan lain-lain, termasuk batik khas Indonesia terpajang exclusive tepat di depan sofa yang saya duduki. Beberapa saat kemudian, mata saya menyoroti sebuah plang bertuliskan PERIPLUS, persis disebelah kiri souvenir pernak-pernik tadi. Di bawah tulisan Periplus tersebut ada poster buku berjudul ‘A Brief Story of Indonesia’ Available Now.

Rasa penasaran memaksa saya beranjak menghampiri poster itu seketika. “Ini buku baru ya mbak?” tanya saya kepada seorang perempuan rapi dengan seragam bercorak batik. “Iya pak, sebenarnya sudah terbit beberapa tahun lalu, namun barus tersedia di Periplus pak” jawabnya sopan. “Penulisnya orang luar negeri ya mbak?” saya bertanya balik “Iya pak”  jawabnya singkat.

Sejenak saya tertegun. Terpaku beberapa sesaat. Tapi sejujurnya saya merasakan seperti ada telisik kejanggalan menyelinap dalam pikiran. Entahlah, kejanggalan itu munyelinap begitu saja. Tapi, mungkin hanya sebatas pikiran dan perasaan liar setelah mengetahui pengarang asli buku itu bukan dari Indonesia. Tim Hannigan dari Inggris itulah nama pengarangnya.

Sebenarnya, bukan hanya Tim Hannigan dengan cover bukunya yang gagah terpampang besar, ada sederet nama penulis ‘asing’ dengan karyanya berjejer melengkapi rak-rak Periplus dalam posisi vertikal dan horizontal itu. Herannya, semua penulis itu menulis tetang Indonesia. Saya tambah ‘bengong’ berdiri dengan tatapan kosong.

Degan penasaran, saya bergegas masuk ke dalam toko buku ‘asing’ itu berkeliling luar-dalam. Dan benar saja, hampir tidak saya jumpai penulis buku-buku di rak Periplus itu berasal dari Indonesia. Mungkin mata saya yang tidak jeli, atau karena buku yang dikarang oleh orang Indoensia tertutup buku-buku asing. Saya hanya bisa ber-husnuzan. 

Saya mengerti, pasti pembaca sedang menghakimi saya dengan kata-kata ‘katrok’ atau ‘ndeso’. “Wong Periplus itu toko buku milik asing. Ya.. jangan cari penulis Indoensia di sana.” Kira-kira demikianlah satire yang pembaca pakai menyindir saya. Dan semuanya saya terima.

Namun izinkan saya bertanya, apakah anda tidak malu jika anda lahir di Jakarta atau di tanah Lombok, Sumbawa, lantas biography tanah kelahiran anda ditulis oleh orang lain? Jika anda tidak merasa malu, mungkin tulisan ini tidak diperuntukkan kepada tipe pembaca seperti anda, akan tetapi tulisan ini ditujukan kepada tipe pembaca yang ‘merasa malu’ dan terpanggil hatinya, tergerak pikirannya untuk mulai menulis historis budayanya sendiri.

Setelah berkeliling luar-dalam Periplus, ada beberapa judul buku dan pengarang yang masih saya ingat seperti; A Brief Story of Bali ditulis oleh Willard A. Hanna. Journey Through Bali & Lombok oleh Paul Greenway, kemudian Island of Bali karya Miguel Covarrubias. Selanjutnya Lonely Planet Indonesia karangan Ryan Ver Berkmoes, Indonesia Etc. Exploring the Improbable Nation oleh Elizabeth Pisani.

Pisani adalah seorang peneliti asal Amerika namun tinggal di London. Cover buku ini agak beda, nampak sang Proklamator Ir. Soekarno sedang membacakan naskah ‘teks’ dihadapan ragam suku masyarakat. Beserta ratusan judul lainnya. Gambaran budaya, adat-istiadat, keindahan pulau, pesona pantai negeri ini dikarang lengkap oleh penulis ‘Mancanegara.’

Saya masih tidak habis pikir, “Kenapa para ‘pelancong’ rela menulis tentang Indonesia?” pertanyaan itu hingga sekarang masih tersimpan. Dan, saya tidak tahu kemana saya harus ‘meminta jawaban’. Mungkinkah saya harus bertanya kepada penjaga toko Periplus tadi? Rasanya tidak mungkin. Sebab mereka bukanlah penulis, mereka hanyalah pekerja buku yang ‘masa bodoh’ dengan penulis-penulis asing tersebut.

Apalagi baku yang ditulis dalam bahasa asing atau bahasa Inggris. Semakin “ruwet, ruwet” meminjam kata mantan presiden ke-7 dalam salah satu pidatonya mengenai izin investasi asing di Indonesia. Sejujurnya, saya tidak  sedang menghakimi Tim Hannigan penulis Inggris yang berprofesi sebagai travel journalist dan penulis lepas. Bukan juga sedang menghakimi para penulis, budayawan, sejarawan dan tokoh Indonesia.

Namun, saya sedang menghakimi diri saya sendiri. “Kenapa bukan saya yang menulis sejarah ringkas tanah tanah tumpah dara saya? Kenapa harus orang lain yang menulis tentang Indonesia?” Dua pertanyaan ini mengguncang pikiran saya, namun menggugat dan menuntut jawaban dari para pembaca dan manusia Indonesia yang telah dirampas ide dan gagasannya oleh para ‘pelancong!.’

Sebuah kebanggaan memang, jika orang asing menuliskan tentang budaya kita (Indonesia) dengan segala keajaibannya. Namun, bagi saya jauh lebih megah jika kisah, sejarah, memoar Indonesia ditulis oleh penduduk pribumi sendiri. Bukan tanpa alasan, saya ingin generasi Indonesia mengenal bangsanya seperti ia mengenal dirinya sendiri.  Jangan sampai orang lain lebih mengenal Indonesia ketimbang kita yang punya tanah.

Rasanya kita sebagai warga negara +62 harus cemburu kepada Peter Carey yang lebih apik pengetahuannya mengenai sejarah Pangeran Diponegoro ketimbang orang Jawa atau kita yang hidup puluhan tahun buah dari perjuangan dan jihad Sang Panegeran. Jika Carey butuh waktu 40-50 tahun  meneliti tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia khususnya tentang Pengeran Diponegoro.

Tentunya, hal ini menjadi sebuah pertanyaan. bukankah kita sejak lahir hingga akhir hayat mendengar, membaca sejarah hidup sang Pangeran dan menikmati jerih payah sang Pengeran? Seharusnya, generasi kita lah yang lebih layak dan apik menulis tentang baliau. Adalah Ust. kondang Salim A. Fillah penulis cerdas yang mampu membaca fenomena itu. Hingga lahirlah novel ‘Sang Pangeran dan Janissary Terakhir’ sebuah novel perjuangan Sultan Abdul Hamid Diponegoro saat melawan penjajah. Contoh yang patut ditiru.

Terlepas dari realita di atas, baru-baru ini kabar-nya Periplus membuka peluang untuk memajang karya penulis lokal di gerai toko bukunya. Akan sangat menarik, apabila kabar ini benar adanya. Semoga bukan kabar sempalan. Tidak untuk ‘nyinyir’ namun keputusan ini saya rasa sangat ‘klasik’ meskipun harus tetap diapresiasi.

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Hakekat “Kritik” dalam Sastra Indonesia

Sofian Hadi

Ayat-Ayat Cinta: Sebuah Revolusi. Bagian Tiga Selesai

Sofian Hadi

Tentang Menjadi Penikmat Sastra dan Penikmat Baca

Sofian Hadi

Ayat-Ayat Cinta: Sebuah Memoar Bagian Satu

Sofian Hadi

Mereka Dikubur oleh Sebongkah Keserakahan

Sofian Hadi

Kehidupan Keagamaan Di Sumbawa Tahun 1847 Dalam Laporan Zollinger

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page