Hikmah

Refleksi Pengembara: Alam adalah Kitab, Gunung adalah Ayat-Ayat-Nya

Setiap orang memiliki kitab hidupnya masing-masing. Ada yang menulis di lembar-lembar buku harian, ada yang menyulam dalam pengalaman perjalanan. Bagi saya, alam adalah kitab yang terbentang luas, dan gunung adalah ayat-ayat-Nya.

Mendaki, bukan sekadar menaklukkan ketinggian, tetapi membaca pesan Tuhan yang tersembunyi di balik kabut, awan, hutan, sunyi, dan puncak. Dari Buthak, Lawu, hingga Rinjani, setiap langkah yang ditaklukkan telah menuliskan banyak  makna yang berbeda.

Gunung Buthak, 2018: Langkah Pertama Membaca Kitab Alam

Pendakian pertama saya pada tahun 2018. Lokusnya, di Gunung Buthak. Sebagai pemula, tubuh dan mental saya belum terbiasa. Jalan menanjak, tebing menantang, udara dingin, dan beban ransel terasa seperti ujian awal. Disiram hujan dan petir di tengah gelapnya malam. Namun, justru di situlah saya belajar, bahwa gunung tidak hanya menguji fisik, tetapi juga menuntut kesabaran.

Di Buthak, saya merasakan bagaimana kebersamaan tumbuh. Teman-teman seperjalanan menjadi keluarga dadakan. Saling menyemangati, berbagi air minum, hingga tertawa di sela-sela lelah membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Saat akhirnya mencapai puncak, saya melihat hamparan hijau yang luas. Di sana-lah saya sadar, pendakian pertama itu tidak hanya perjalanan ke atas, tetapi juga perjalanan ke dalam diri: mengalahkan ego, menaklukkan rasa putus asa, dan menemukan arti syukur.

Gunung Lawu, 2020: Lautan Awan di Tengah Pandemi

Tahun 2020, dunia sunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Hampir semua aktivitas dibatasi, termasuk pendakian. Namun ketika kesempatan mendaki gunung Lawu datang, saya merasa seperti menemukan ruang bebas di tengah kesemrawutan. Lawu, menyambut saya dengan lautan awan yang menakjubkan.

Di tambah dengan 5 sahabt yang berasal dari Malang. Ada  Mas Rudy, Mas Arif, dan Mas Diki, dan tak lupa ada penakluk selebgram, Mbak Mely sebagai penunjuk arah dari pendakian. Suka duka kami rasakan bersama saat pendakian, apalagi saat kami di terima di rumah Mas Bima beserta keluarga, semoga semuanya sehat selalu. Baik-baik kalian di sana.

Momen itu begitu simbolis, di saat dunia dicekam ketakutan, di puncak Lawu, saya justru menyaksikan bentangan awan putih yang seolah menjadi permadani surgawi. Rasanya seperti melempar pesan: di balik kesulitan selalu ada keindahan yang menanti.

Pendakian Lawu, membuat saya merenung tentang kehidupan yang fana. Banyak mitis mistis melekat di gunung ini. Tetapi bagi saya, yang paling mistis adalah, betapa kecilnya manusia dibanding cakrawala. Di tengah pandemi, pendakian ini menjadi ruang kontemplasi: bahwa kesehatan, kebersamaan, dan kebebasan adalah nikmat yang sering terabaikan.

Rinjani, 2023: Eksotisme yang Menyihir

Jika Buthak adalah awal perjalanan, dan Lawu adalah ruang renungan, maka Rinjani adalah puncak keindahan, singgasana kemewahan. Tahun 2023, saya berkesempatan menjejakkan kaki di gunung ini, Rinjani. Dari lisan-lisan orang bercibir, gunung ini terindah di Indonesia. Dan benar adanya, Rinjani adalah lukisan Tuhan yang nyaris sempurna. Rinjani adalah potongan syurga di hamparan dunia.

Danau Segara Anak, dengan biru tenangnya, padang savana yang luas, serta jalur terjal menuju puncak, membuat perjalanan terasa seperti membaca babak baru dari kitab kehidupan. Rasa lelah terbayar ketika sinar Surya pagi perlahan naik dari balik horizon Utara, menyinari pulau Lombok dengan cahaya emasnya. Saat itu, saya benar-benar merasa kecil. Di puncak Rinjani, saya hanyalah satu titik di antara jutaan ciptaan-Nya.

Rinjani mengajarkan saya arti keteguhan. Pasir liar menuju puncak seakan menguji derap langkah. Satu langkah naik, setengah langkah tergelincir turun. Tetapi, di situlah arti perjuangan: bahwa mencapai puncak tidak pernah mudah, dan setiap tetes peluh akan berbuah manis.

Membaca Ayat-Ayat Alam Raya

Dari Buthak hingga Rinjani, saya menyadari satu hal: gunung bukan sekadar batu dan tanah yang menjulang tinggi. Gunung adalah ayat-ayat yang mengajarkan kesabaran, kebersamaan, syukur, dan keteguhan. Alam adalah kitab yang hanya bisa kita baca dengan mata, rasa, dan jiwa.

Setiap pendakian adalah dialog sunyi, antara manusia dan Tuhannya. Di Buthak, saya belajar arti permulaan. Di Lawu, saya menemukan harapan di tengah keterbatasan. Di Rinjani, saya melihat eksotisme yang membungkam kata-kata. Semua itu adalah ayat-ayat yang meneguhkan iman saya, bahwa alam adalah kitab terbuka yang selalu menuntun manusia untuk mengenal Sang Pencipta.

Kini, setiap kali melihat gunung dari kejauhan, saya tidak lagi melihatnya sekadar sebagai puncak yang menjulang. Saya melihatnya sebagai huruf-huruf besar dalam kitab alam. Dan saya tahu, selama kaki ini mampu melangkah, saya ingin terus membaca ayat-ayat itu, menuliskannya dalam pengalaman, dan meresapinya dalam kehidupan.

Demikian refleksi pengembara, sebuah perjalanan yang tidak akan pernah terlupakan.

Wallahu’alam bish shawââb

Postingan terkait

Tren Generasi Milenial: Telisik Kegersangan Jiwa

Sofian Hadi

Sebait Nasehat Membendung Maksiat

Sofian Hadi

Idul Fitri: Tentang Memaafkan, Melupakan, dan Menjaga Hati

Batuter

Sebait Doa Untuk Saudaraku di Bumi Palestina

Sofian Hadi

Perhatikanlah Nasihat Yang Indah Ini: Sabar Adalah Sumber Segala Kebaikan

Sofian Hadi

Jika Kau Sayang Dirimu, Jangan Biarkan Dendam Bertahan: Nasihat Bijak Badiuzzaman Said Nursi

Sofian Hadi

1 komentar

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page