HikmahIlmu

Do’a Agung Rasulullah: Jangan Biarkan Dunia Menjadi Kesedihan Terbesar Kita

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, bahagiakanlah kami dengan rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang antara kami dan kemaksiatan kepada-Mu, dan dengan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu, dan dengan keyakinan yang Engkau jadikan sebagai pelipur bagi kami dalam menghadapi musibah-musibah dunia. Berilah kami kenikmatan dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau hidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai pewaris dari kami. Jadikanlah balasan atas orang yang menzalimi kami, tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai kesedihan terbesar kami, juga jangan Engkau jadikan dunia sebagai batas akhir pengetahuan kami. Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami.”

Begitulah do’a yang tak pernah lepas dari bibir mulia Rasulullah ﷺ ketika suatu saat beliau hendak bangkit dari sebuah majelis. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Fallama kāna Rasūlullāhi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaqūmu min majlisin hattā yad‘u bihā’ulā’il-kalimāti li-ashābihī”-sangat jarang Rasulullah ﷺ berdiri dari suatu majelis kecuali beliau berdoa dengan kalimat-kalimat ini untuk para sahabatnya.

Bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan berharga yang beliau tinggalkan untuk umatnya-sebuah paket lengkap kebahagiaan dunia dan akhirat yang dirangkai dalam untaian kata yang singkat namun membumi hingga ke relung jiwa.

Bayangkan, ketika para sahabat duduk bersama Nabi, sebelum mereka beranjak dan berpencar membawa kesibukan masing-masing, beliau menyempatkan diri memanjatkan doa ini untuk mereka. Subhanallah, betapa cinta beliau kepada umatnya hingga detik-detik perpisahan pun diisi dengan kebaikan yang terus mengalir.

Mari kita renungi satu per satu permohonan dalam doa agung ini, karena sesungguhnya kita sedang diajak berdialog langsung dengan Allah tentang perkara-perkara terpenting dalam hidup.

Dimulai dengan “Allahummaqsim lana min khashyatika ma yahulu baynana wa bayna ma‘ashik”-اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ. Khashyah bukan sekadar takut biasa, ia adalah rasa takut yang lahir dari pengenalan yang mendalam. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita takut kepada-Nya, dan rasa takut itu akan menjadi tembok yang kokoh, menahan tangan, lisan, dan hati dari melanggar batas-batas-Nya.

Kemudian do’a itu mengalir pada permohonan yang kedua: “Wa min tha‘atika ma tuballighuna bihi jannatak” وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ. Ketaatan adalah jalan, dan surga adalah tujuannya. Tapi jalan itu takkan ditempuh jika kita tak diberi kekuatan untuk melangkah. Maka kita memohon langsung kepada Allah agar dianugerahi ketaatan itu sendiri-bukan sekadar ketaatan, tapi ketaatan yang sampai kepada-Nya.

Lalu kita memohon yang ketiga: “Wa minal-yaqini ma tuhawwinu bihi ‘alaina mushibatid-dunya” وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا. Ini adalah obat penenang bagi jiwa yang selalu dilanda cemas. Yaqin adalah puncak keimanan, ketika seorang hamba meyakini sepenuh hati bahwa apa pun yang menimpanya telah diatur oleh Dzat Yang Maha Bijaksana. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

Dengan keyakinan inilah, musibah terasa ringan, bahkan menjadi pelebur dosa dan pengangkat derajat. Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, keresahan, kesedihan, gangguan, atau duka, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)

Doa ini kemudian beralih pada nikmat-nikmat lahiriah yang sering kita anggap biasa: “Matti‘na bi asma‘ina wa absharina wa quwwatina ma ahyaitana”—وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا. Dan kemudian beliau memohon: “Waj‘alhul-waritsa minna”—وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا.

Maksudnya, jadikanlah pendengaran, penglihatan, dan kekuatan ini tetap lestari dan bermanfaat hingga akhir hayat, sehingga ia menjadi “ahli waris” yang paling setia menemani kita hingga pintu kematian. Atau sebagaimana sebagian ulama memaknainya: jadikanlah kenikmatan ini terus mengalir manfaatnya pada keturunan kami sepeninggal kami.

Kemudian doa ini memasuki babak hubungan dengan sesama: “Waj‘al tha’rana ‘ala man zhalamana” وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا. Ini bukan ajaran dendam, melainkan penyerahan mutlak kepada Allah. Karena doa orang yang terzalimi adalah doa yang mustajab. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah pada do’a orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 2448, Muslim no. 2613)

Dan kita memohon: “Wanshurna ‘ala man ‘adana”-وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا. Musuh yang paling nyata adalah setan, yang Allah sendiri perintahkan agar kita memusuhinya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)

Setelah urusan dengan manusia, kita kembali pada urusan paling krusial: “Wa la taj‘al musibatana fi dinina”-وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا. Inilah titik nadir. Segala musibah dunia masih bisa diobati, harta bisa dicari lagi, kesehatan bisa dipulihkan, bahkan kehilangan orang tercinta masih bisa disabari. Tapi musibah pada agama tersesat, ragu, syirik, atau mati dalam kekufuran itulah petaka yang tiada taranya. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan satu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Apabila ia meninggalkannya, beristigfar, dan bertobat, maka hatinya akan bersih. Namun jika ia kembali (melakukannya), titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-ran yang disebutkan Allah: ‘Sekali-kali tidak, bahkan apa yang selalu mereka perbuat telah menutupi hati mereka.” (HR. Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih)

Lalu kita memohon: “Wa la taj‘alid-dunya akbara hammina wa la mablagha ‘ilmina”-وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا. Betapa indah do’a ini. Dunia jangan menjadi puncak kegelisahan, dan jangan pula menjadi batas cakrawala berpikir. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ، جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah jadikan kekayaan dalam hatinya, kumpulkan urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah jadikan kefakiran di hadapan matanya, cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih)

Akhirnya, kita memohon perlindungan dari kehinaan terbesar: “Wa la tusallith ‘alaina man la yarhamuna”-وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا. Ini adalah do’a agar kita tidak berada di bawah kekuasaan orang-orang zalim, penguasa yang kejam, atau siapa pun yang tak memiliki belas kasih. Karena ketika yang zalim berkuasa, maka rusaklah tatanan, dan yang lemah akan tersiksa.

Ini adalah do’a untuk keselamatan dari fitnah kepemimpinan yang buruk, sekaligus do’a agar kita sendiri tidak menjadi pemimpin yang zalim ketika diberi amanah. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa perlindungan dari kekuasaan orang yang tidak menyayangi, karena sesungguhnya kezaliman penguasa adalah salah satu ujian terbesar bagi umat.

Betapa jarang kita memohon seperti ini dalam do’a-do’a kita. Kita sibuk meminta harta, rumah mewah, jabatan tinggi, atau kesembuhan dari sakit. Tapi Rasulullah justru mengajarkan kita meminta yang lebih hakiki: rasa takut yang menghalangi dari dosa, ketaatan yang mengantarkan ke surga, keyakinan yang meringankan musibah, kebermanfaatan indra hingga akhir hayat, keadilan dari kezaliman, kemenangan atas musuh, keselamatan agama, jiwa yang tidak terikat dunia, ilmu yang tak berhenti pada keduniaan, dan perlindungan dari kekuasaan orang tak berperikemanusiaan.

Lalu di mana posisi kita? Apakah do’a kita selama ini hanya berputar pada permintaan-permintaan kecil yang bersifat sementara, sementara yang hakikatnya kekal justru luput dari kesadaran kita?

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma-yang meriwayatkan doa ini-hidup menyaksikan bagaimana Rasulullah ﷺ tak pernah bosan mengajarkan kebaikan. Dan kini, do’a yang sama sampai kepada kita melalui sanad yang bersambung. Bukan kebetulan kita mendengarnya hari ini. Ini adalah undangan dari Sang Kekasih Allah agar kita tidak hanya hidup, tapi hidup dengan arah yang jelas.

Mulai hari ini, jadikanlah doa agung ini sebagai wirid yang tak pernah lepas dari lisanmu. Bacalah dengan penghayatan, karena setiap kata di dalamnya adalah peta perjalanan seorang mukmin sejati.

Ketika kelak, engkau berdiri di hadapan-Nya, semoga semua yang pernah engkau panjatkan dalam do’a ini menjadi saksi bahwa engkau telah berusaha menjadi hamba yang paham akan skala prioritas kehidupan. Karena sesungguhnya, do’a bukan hanya tentang apa yang kita minta, tetapi tentang siapa diri kita ketika kita meminta.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

Inilah Cara Membuktikan Cintamu Kepada Sang Nabi

Lalu Wawan Febriyanto

Pendapat Para Ulama Tentang Malam 27 Ramadan

Lalu Wawan Febriyanto

Perbanyaklah Mengingat Kematian!

Lalu Wawan Febriyanto

Al-Qur’an Sumber Mata Air Kebahagiaan

Sofian Hadi

Ikhlas: Rahasia Suci Antara Hamba dan Tuhannya

M. Syarif Hidayatullah

Mensyukuri Kemerdakaan Dengan Benar: (Fiqih Lomba-lomba Menyambut Kemerdekaan)

Lalu Wawan Febriyanto

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page