HikmahIlmu

Pendapat Para Ulama Tentang Malam 27 Ramadan

Ramadan semakin mendekati akhir, dan bagi setiap muslim yang berakal akan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Di akhir Ramadhan ini terdapat malam yang sangat mulia, yaitu malamlailatul qadar. Lailatul qadar adalah malam yang sangat mulia, ia menjadi malam diturunkannya Al-Qur’an. Malam ini, menurut mayoritas ulama adalah, malam khusus yang hanya Allah berikan untuk umat nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada pada umat-umat sebelumnya[1] [2].

Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa malam ini, lebih mulia dari 1000 bulan. Menurut Al-Imam An-Nakha’i, maksudnya adalah siapa yang beribadah pada malam lailatul qadar, maka ibadahnya pada malam itu lebih mulia dari pada ibadah selama 1000 bulan.[3].

Masyaallah, sungguh kesempatan langka yang sudah sepatutnya kita tidak membiarkannya berlalu begitu saja, karena begitu mulianya malam ini. Maka, para ulama generasi salaf telah berusaha untuk mendapatkan kemuliaan malam ini, dengan mencari pada malam apakah lailatul qadar ini akan terjadi. Tentu, terdapat banyak sekali pendapat para ulama terkait kapankah lailatul qadar terjadi, dan diantara malam yang dianggap kuat terjadi lailatul qadar adalah malam ke-27 Ramadan.

Beberapa sahabat Nabi menegaskan, bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27 Ramadan diantaranya adalah Ubay bin Ka’ab, Umar, dan Hudzaifah[4]. Bahkan, diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengatakan :

والله إني لأعلم أي ليلة هي، هي الليلة التي أمرنا رسول الله بقيامها، هي ليلة سبع وعشرين

Demi Allah, sungguh aku tahu pada malam apakah ia (lailatul qadar)terjadi, sungguh ia terjadi pada malam yang kami diperintahkan Rasulullah untuk melaksanakan qiyamul lail, yaitu malam ke-27[5].

Demikian pernyataan dari Ubay bin Ka’ab, dan terdapat banyak riwayat dari sahabat Nabi yang lain seperti Ibnu Abbas, Mu’awiyah, dan Ibnu Mas’ud, yang mengindikasikan bahwa malam ke-27 Ramadan adalah malam yang sangat besar kemungkinan lailatul qadar terjadi. Mengingat, begitu banyaknya riwayat dari para sahabat sehingga Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menguatkan pendapat ini, sebagaimana dalam kitab beliau lata’iful ma’arif.

Adapun amalan yang dapat kita lakukan pada malam ini adalah, memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir serta berdoa dengan doa yang Nabi ajarkan kepada Aisyah Radiyallahu ‘anha. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Siapa yang melaksanakan qiyamullail pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan harapan kepada Allah, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu[6].

Amalan ini dapat dilakukan baik bagi orang yang i’tikaf di masjid ataupun yang berada di rumah.

Selain itu dianjurkan juga menggunakan pakaian-pakaiannya yang bagus, menggunakan wangi-wangian serta mandi dengan bersih, sebagaimana perkatan Ibnu Rajab :

فتبين بهذا أنه يستحب في الليالي التي ترجى فيها ليلة القدر التنظف والتزين والتطيب بالغسل والطيب واللباس الحسن كما يشرع ذلك في الجمع والأعياد

“…….berdasarkan hal ini, maka pada setiap malam-malam yang diharapkan lailatul qadar terjadi padanya, setiap Muslim dianjurkan untuk membersihkan diri dan berhias dengan mandi, menggunakan parfum, serta mengenakan pakaian bagus sebagaimana hal ini dilakukan pada setiap jumat dan hari raya[7].

Semoga Allah mudahkan kita untuk mendapatkan kemuliaan malam lailatul qadar, serta semoga Allah ampuni setiap dosa-dosa kita. Amiin yaa rabbal Alamiin

Wallahu a’lam bi as-Shawab


[1] Umar bin Muhammad Al-Uwaidhi, Italatul Badr Bi Fadha’il Wa Asrari Lailatil Qadr, hal. 52.

[2] Sebagian ulama berpendapat bahwa lailatul qadar juga Allah berikan pada umat nabi-nabi terdahulu. Diantara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Imam Ibnu Katsir.

[3] Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’iful Ma’arif, hal 269.

[4] Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’iful Ma’arif, hal 276.

[5] Riwayat Imam Muslim, no. 762.

[6] Muttafaq alaih

[7] Ibnu Rajab Al-Hanbali, Latha’iful ma’arif, hal. 266.

Postingan terkait

Ikhlas: Rahasia Suci Antara Hamba dan Tuhannya

M. Syarif Hidayatullah

Pajak: Sebuah Tinjauan Kritis Dalam Perspektif Islam

Lalu Wawan Febriyanto

Jika Kau Sayang Dirimu, Jangan Biarkan Dendam Bertahan: Nasihat Bijak Badiuzzaman Said Nursi

Sofian Hadi

Jadilah Seperti Tsauban

Sofian Hadi

Idul Fitri: Tentang Memaafkan, Melupakan, dan Menjaga Hati

Batuter

Kiai Amal dan Kami

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page