Ilmu

Puasa yang Tak Dilihat Allah: Ketika Lapar dan Haus Tiada Arti

Pernahkah kita membayangkan, selepas seharian menahan lapar dan dahaga, menahan gurun di tenggorokan dan godaan nafsu yang menggelora, lalu Allah berfirman, “Aku tidak butuh semua ini”? Bukan karena kita tidak shalat, bukan karena kita tidak tarawih, tapi karena lisan ini tak mampu menahan diri dari sesuatu yang bernama Qaul az-Zur-perkataan yang melenceng dari kebenaran.

Dalam hiruk-pikuk Ramadhan yang sering kita ukur dengan seberapa lama kita berpuasa atau seberapa banyak kita mengaji, ada dimensi yang lebih dalam yang sering luput dari perhatian: bahwa puasa bukan sekadar ritus kosong, melainkan dialog spiritual antara hamba dan Tuhannya.

Dan dalam dialog itu, Allah mengajarkan bahwa Dia Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dari kita-termasuk rasa lapar kita. Lantas untuk apa kita berlapar-lapar jika yang keluar dari mulut kita masih saja kebohongan, ghibah, namimah, dan kata-kata kotor?

Bayangkan Sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan Imam Bukhari ini menggantung di atas kepala kita setiap kali kita berpuasa: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (qaul az-zur) dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Subhanallah.Kalimat ini bukan sekadar peringatan, ia adalah tamparan halus bagi siapa pun yang mengira puasa hanya urusan perut. Para ulama hadits, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari-nya yang monumental, menangkap makna mendalam dari sabda ini.

Ketika Allah “tidak butuh” pada lapar kita, itu berarti pintu pahala terbuka lebar, namun kita memilih masuk ke ruang kosong. Kita mendapatkan rasa haus, kita mendapatkan letih, tapi amplop pahala itu kembali utuh, tak tersentuh. Yang tersisa hanyalah tubuh yang lemah, tanpa jiwa yang tercerahkan.

Sementara di luar sana, betapa banyak orang yang berpuasa tapi lidahnya masih setajam silet. Ia bisa menahan nasi dan air, tapi tak kuasa menahan diri dari menggunjing tetangga, menebar fitnah di grup kantor, atau bersaksi palsu demi kepentingan dunia.

Padahal Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas Shahih Muslim mengingatkan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang seluruh anggotanya berpuasa: mata puasa dari melihat yang haram, telinga puasa dari mendengar ghibah, danlisan puasa dari segala bentuk qaul az-zur.

Apakah kita pernah merenungkan bahwa setiap kata yang meluncur dari lisan ini adalah doa dan bumerang? Bahwa ketika kita berkata dusta, kita sebenarnya sedang membangun istana ilusi yang kelak akan runtuh menimpa kita sendiri?

Bahwa kesaksian palsu, yang termasuk dalam kategori qaul az-zur, disebut dalam banyak riwayat sebagai dosa besar yang sejajar dengan syirik? Lalu bagaimana mungkin kita yang berpuasa, yang konon sedang berada di “sekolah ketakwaan”, justru lulus dengan nilai nol dalam ujian menjaga lisan?

Imam Al-Ghazali, sang hujjatul Islam, dengan indah membagi puasa menjadi tiga tingkatan dalam Ihya’ Ulumuddin-nya. Ada puasa umum: hanya menahan perut dan kemaluan. Ada puasa khusus: seluruh anggota badan ikut berpuasa dari dosa. Dan ada puasa khususnya khusus: hati berpuasa dari segala yang melalaikan Allah.

Ketika kita masih sibuk dengan qaul az-zur, dengan kata-kata yang menyakiti, dengan prasangka yang kita suarakan, maka kita bahkan belum memasuki pintu gerbang puasa khusus. Kita masih berkubang di level terendah, sementara pahala berlimpah di level atas tak pernah kita raih.

Menariknya, Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengutip pandangan para salaf bahwa menjaga lisan dari perkataan dusta lebih berat daripada menahan lapar. Karena lapar adalah urusan fisik yang bisa dilatih, sementara lisan adalah cermin hati yang kadang tak terkendali. Kita bisa menahan nasi seharian, tapi menahan komentar pedas di media sosial? Menahan ghibah saat ngabuburit? Menahan kebohongan kecil demi keuntungan sesaat? Itu butuh jihad yang lebih besar.

Maka di siang Ramadhan yang panjang ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Untuk apa aku berpuasa? Jika jawabannya hanya karena takut neraka atau sekadar ikut-ikutan, mungkin kita belum menemukan esensi. Tapi jika kita ingin puasa ini diterima, diangkat ke langit, dan dicatat sebagai amal yang bernilai, maka kendalikan lisan. Karena lisan yang tak terjaga adalah perusak pahala yang paling diam-diam. Ia bekerja seperti rayap: tak terlihat, tapi melumat habis kayu dari dalam.

Refleksi Ramadhan

Di bulan yang mulia ini, saat setan dibelenggu dan pintu surga dibuka, ironisnya kita masih bisa menjadi ‘setan’ bagi sesama manusia—cukup dengan lisan ini. Padahal, setiap kata yang kita ucapkan saat berpuasa seharusnya menjadi tasbih, menjadi doa, menjadi dzikir. Namun jika kata-kata itu berubah menjadi qaul az-zur, maka kita sedang menulis surat keputusan bahwa puasa kita tahun ini mungkin hanya akan dikenang sebagai kenangan lapar belaka-bukan sebagai investasi akhirat.

Allah Maha Kaya, tidak butuh lapar kita. Tapi kita, yang fakir dan butuh ampunan, sangat butuh pahala puasa. Jangan biarkan qaul az-zur menjadi tabir yang menghalangi puasa kita naik ke langit. Mari jadikan setiap hela napas di bulan ini sebagai ibadah, dan setiap kata yang keluar sebagai rahmat. Karena jika bukan di bulan Ramadhan ini kita belajar menjaga lisan, lalu kapan lagi?

Allah tidak butuh lapar kita, tapi kita butuh rahmat-Nya. Jangan sia-siakan puasa hanya karena kata-kata yang tak berarti.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

Merangkai Sunyi, Menyulam Rindu dan Mengukir Munajat dalam I’tikaf

M. Syarif Hidayatullah

Jembatan Hikmah: Melintasi Zaman dengan Tafsir Ayat Keringanan Puasa

M. Syarif Hidayatullah

Harga Sebuah Keyakinan (Telisik Kemenangan Khabib Nurmagomedov)

Sofian Hadi

Menuju Kesempurnaan Ibadah Bagian dua

Sofian Hadi

Dari Wadd ke Manat: Riwayat Berhala yang Diabadikan Al-Qur’an dan Pelajaran Untuk Umat

M. Syarif Hidayatullah

Membumikan Wahyu Menghidupkan Akal: Warisan Pemikiran Intelektual KH. Ahmad Dahlan

Fiqri Rabuna

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page