Ilmu

Merangkai Sunyi, Menyulam Rindu dan Mengukir Munajat dalam I’tikaf

Ada satu kata dalam Al-Qur’an, yang Allah pilih untuk menggambarkan aktivitas berdiam diri di masjid, sebuah kata yang menyimpan sejarah panjang pergulatan spiritual manusia. Kata itu adalah, ya‘kifūn (يَعْكُفُونَ), terambil dari akar kata (ع-ك-ف) yang berarti menetap, terus-menerus melakukan sesuatu, atau berkonsentrasi penuh tanpa berpaling. Dalam Surah Al-A‘raf, ayat 138, Allah berfirman:

وَجاوَزْنا بِبَني إِسْرائيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلىٰ أَصْنامٍ لَهُمْ قالُوا يا موسَى اجْعَلْ لَنا إِلٰهًا كَما لَهُمْ آلِهَةٌ قالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلونَ

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tekun menyembah berhala-berhala mereka, berkatalah Bani Israil: ‘Wahai Musa! Buatlah untuk kami sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (mengagungkan Allah).'”

Perhatikan kata ya‘kifūn di sana. Inilah i’tikaf versi jahiliyah: berdiam dengan penuh konsentrasi, khusyuk, bahkan mungkin sampai larut dalam bisikan-bisikan, tapi bisikan itu tertuju kepada patung. Di tempat lain, dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 52-53, Nabi Ibrahim mendapati ayah dan kaumnya tengah melakukan hal serupa. Beliau bertanya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya”.

Ini potret tragis: rindu spiritual manusia begitu dalam hingga mereka rela berdiam diri, berkonsentrasi penuh, menghabiskan waktu—tapi ditujukan kepada yang tak layak disembah. Lalu, datanglah para nabi membawa obor tauhid. I’tikaf tidak dihapus, karena kebutuhan manusia untuk “berdiam” dan “berkonsentrasi” pada Yang Maha Tinggi adalah fitrah. Yang diubah adalah arahnya. Dari ya‘kifūna ‘alā asnām (berkonsentrasi pada berhala) menjadi ‘ākifūna fī al-masājid (berkonsentrasi di masjid-masjid) menghadap Allah semata.

Allah menegaskan ulang kemurnian ini dalam firman-Nya:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

Ayat ini begitu tegas. Masjid adalah wilayah bebas dari segala bentuk “tandingan”. Saat kaki melangkah masuk ke masjid untuk i’tikaf, sejatinya kita sedang memasuki “zona larangan” di mana segala sesuatu selain Allah diminta menyingkir. Di sinilah letak inti tauhid: memurnikan konsentrasi, memurnikan bisikan, memurnikan harapan, hanya untuk-Nya.

Maka, bayangkanlah suasana sepuluh malam terakhir Ramadhan. Masjid yang hening, lampu temaram, sajadah terbentang, dan di sudut-sudut sana, orang-orang duduk bersandar, membaca Al-Qur’an, atau sekadar merenung. Tapi jangan salah, mereka tidak sekadar “duduk”. Mereka tengah berbisik. Dalam bahasa Arab, bisikan yang penuh kerinduan kepada Allah disebut munajat, dari kata najwā. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana para Nabi pun berbisik dalam kesunyian. Nabi Yunus dalam perut ikan, di tengah tiga kegelapan, berbisik:

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

Nabi Ayyub dalam derita sakitnya berbisik: “Rabbi annī massaniya ad-durru wa anta arhamur rāhimīn” (QS. Al-Anbiya’: 83). Nabi Adam, setelah tergelincir, berbisik: “Rabbana zalamnā anfusanā…” (QS. Al-A‘raf: 23) . Mereka semua sedang ‘beri’tikaf’ dalam versi mereka sendiri: menyendiri dengan Allah, memusatkan jiwa hanya kepada-Nya.

I’tikaf adalah sekolah tauhid intensif. Ia mengajarkan bahwa Tuhan kita tidak butuh riuh tepuk tangan atau puja-puji publik yang seremonial. Dia justru dekat ketika hamba-Nya menyendiri dan berbisik pelan. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pernahkah kita membayangkan bahwa kita bisa menjadi “topik pembicaraan” di langit? Malaikat mungkin bertanya satu sama lain: “Tahukah kamu, di masjid bumi sana, ada hamba yang sedang merendah, menangis, memohon?” Dan Allah menjawab: “Dia sedang mengingat-Ku, maka Aku pun mengingatnya.” Inilah keintiman yang tak bisa dibeli dengan harta. Ini adalah “khalwat” dengan Sang Maha Cinta.

Para ulama sufi sering menyebut i’tikaf sebagai syahwat al-mu’minīn (syahwatnya orang-orang beriman). Jika orang biasa terbuai oleh gemerlap dunia, orang beriman justru merindukan saat-saat sunyi di mana ia bisa duduk bersimpuh, menatap mimbar, atau melihat lembaran Al-Qur’an, sambil hatinya melayang menyaksikan keagungan-Nya. Di luar sana, dunia mungkin menawarkan hiburan, tapi tak satu pun hiburan bisa menandingi kedamaian saat hati tersambung kepada-Nya. Di luar sana, orang sibuk mengejar sesuatu, tapi di dalam masjid, seorang mu‘takif sedang dikejar oleh Rahmat yang tak terlihat.

I’tikaf juga mengajarkan kita tentang istiqamah dan konsistensi. Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan i’tikaf sejak beliau tiba di Madinah hingga wafat. Aisyah meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

“Bahwasanya Nabi ﷺ biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, sepuluh hari terakhir setiap Ramadhan selama bertahun-tahun, beliau habiskan di masjid. Ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah cinta yang tak pernah pudar. Ketika cinta sudah bersemayam, maka berpisah dengan yang dicinta-walau hanya sehari-terasa berat. Karena itu, di penghujung Ramadhan, saat waktu perpisahan dengan bulan mulia hampir tiba, beliau justru semakin mendekat, semakin menguatkan bisik, semakin dalam merendah. Inilah puncak tauhid: menjadikan Allah sebagai tujuan akhir yang tak pernah membosankan.

Di tengah keheningan i’tikaf, kita juga diajak merenungi hakikat Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana para malaikat turun, mengamini doa, dan mengatur urusan dengan izin-Nya. Tapi bukankah ini menarik? Malam semulia itu, oleh Allah, disembunyikan di sepuluh malam terakhir. Ia tidak diumumkan dengan terompet, tidak diberi tanda terang benderang. Ia hadir dalam sunyi. Ia hanya bisa diraih oleh mereka yang mau bersusah payah mencarinya dalam diam. Dan diam dalam i’tikaf adalah bahasa cinta yang paling fasih.

Renungan yang paling dalam dari i’tikaf adalah kesadaran bahwa kita ini hanyalah pengembara yang sedang singgah. Di dalam masjid, kita tidur di atas sajadah tipis, makan seadanya, bahkan kadang harus rela dinginnya lantai. Semua kemewahan dunia ditinggal di luar. Ini adalah simulasi kematian yang sempurna. Ketika ruh benar-benar berpisah dari raga, kita tidak akan membawa apa-apa selain amal. Di liang lahat, hanya ada kita dan Allah. Tidak ada gengsi, tidak ada jabatan, tidak ada rekening. Di dalam i’tikaf, kita berlatih untuk itu.

Seorang yang beri’tikaf sedang “pulang”. Pulang dari hiruk-pikuk dunia palsu, menuju ketenangan hakiki. Pulang dari kesibukan melayani makhluk, menuju waktu khusus melayani Khaliq. Dan saat Ramadhan berakhir, kita keluar dari masjid bukan sebagai pribadi yang sama. Kita keluar dengan membawa bekal bisikan yang telah didengar oleh Allah. Kita keluar dengan hati yang sedikit lebih bersih, sedikit lebih ringan, karena kita telah menitipkan segala beban kepada Yang Maha Memikul.

Selamat berbisik, selamat bermunajat, selamat pulang. Semoga di setiap sujud panjang malam itu, ada air mata yang jatuh, dan di setiap air mata itu, ada dosa yang ikut luruh. Karena tak ada yang lebih indah dari bisik yang tak terdengar siapa pun, kecuali oleh Dia yang tak pernah tidur.

Allahumma ja‘alnā min al-‘āakifīina al-muttaqīin. Aamiin.

Wallahua’lam bish shawaab

Postingan terkait

Harga Sebuah Keyakinan (Telisik Kemenangan Khabib Nurmagomedov)

Sofian Hadi

Wajah Munafik dan Mukmin Sejati Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 204-207

M. Syarif Hidayatullah

Menyelami Samudra Silaturahim dalam Cahaya Al-Qur’an dan Hadits 🤝

M. Syarif Hidayatullah

Menafsir Makna Kata ‘Berkah’ Dalam Al-Qur’an

Sofian Hadi

Ketika Mereka Ingin Mengucapkan “Syahadat” Jangan Kau Tunda !

Lalu Wawan Febriyanto

Pajak: Sebuah Tinjauan Kritis Dalam Perspektif Islam

Lalu Wawan Febriyanto

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page