Isu Kontemporer

Bahaya Virus Pemikiran Agnostisisme (Kaum Agnostik)

Pertama kali saya mendengar istilah “Agnostik” dalam beberapa kajian literatur lepas, khususnya tema-tema kristologi. Dalam benak saya, istilah hingga pemikiran kaum ini, mendatangkan kegamangan, menciptakan kebingungan. Istilah Agnostik ini, mulai familiar saat mendengar debate dan kuliah yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Deedat (Allahuyarham).

Syekh Ahmad Deedat, pada moment tanya jawab di setiap sesi debat dan kuliahnya, selalu meminta konfirmasi jelas dari sang penanya, tentang keyakinan yang dianut-nya sebelum mengutarakan pertanyaan. Entah ia sebagai sorang, Kristen, Hindu, Atheis dan Agnostik. Dari sini jelas, bahwa penting untuk mengetahui posisi keyakinan seseorang, khususnya keyakinannya tentang Tuhan.

“Are you Christian, Muslim, Atheis or Agnostic? Tell me your position” Terang Syekh Ahmad Deedat kepada si penanya, kala sedang berdiri di depan microphone. Banyak moment “kocak” sekaligus menegangkan bagi si penanya, karena pertanyaan tersebut merujuk kepada keyakinan dasar yang dianut penanya. Dan tidak sedikit yang bingung untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.

Kadang juga si penanya menjawab dengan kalimat simple. “I don’t know!” Dan ini yang membuat Syekh Ahmad Deedad tersenyum sinis, sekaligus bingung mendengar jawaban “I don’t know!” Padahal pertanyaannya jelas dan terukur. Tidak rumble dan ‘belibet’. Paling tidak jawaannya ‘I am Christiant’ atau ‘I am atheis’ simple sekali.

Begitulah gambaran seorang atau penganut atau kaum Agnostik. Penganut aliran Agnostik ini memang membingungkan, membimbangkan, bahkan sejak awal penganut ini mengindentifikasikan diri dengan istilah intelektual murni (pure intellectual). Mencoba dengan gaya rasional dan intelektualitas-nya dalam menyikapi keyakinan.

Entah karena ‘keblinger’ kebablasan mengaktifkan fungsi akal sehingga overload di kepala kemudian mereka menjadi bingung, bimbang atau sangsi. Untuk menunjukkan identitas diri saja kurang cerdas, apalagi untuk menunjukkan identitas kebenaran, akan semakin ‘njilimet’. Baik kebenaran yang dipahami, lebih-lebih kebenaran yang diterangkan.

Sekilas, apabila diterangkan penganut sikap Agnostik ini menurut kampiumnya, sikap Agnostik adalah sikap intelektual yang intinya mengatakan bahwa tak seorangpun dapat memastikan objektif kebenaran. Suatu pernyataan kecuali ia bisa menunjukkan bukti yang secara logis membenarkan keyakinan itu. (Baca, Prof. Syams. Filsafat Kebenaran, hal.48).

Seorang Agnostik akan meragukan tidak hanya kebenaran posisinya sendiri dengan mengatakan “I don’t know!” Akan tetapi, juga mengklaim bahwa kebenaran dapat di cari dan dihampiri, namun Mustahil ditemukan. Ibarat dalam mencari sebuah kebenaran, matahari diumpamakan sebuah kebenaran, begitu terang, besar dan jelas. Namun, kaum Agnostik melihatnya, sambil mengernyit kedua matanya atau bahkan menutup mata untuk melihat matahari yang terang itu.

Setelah itu, mereka akan berspekulasi bahwa kebenaran itu tidak terang. Kabur, sulit diidentifikasi atau diterawang. Padahal sangat jelas kebenaran di depan mata. Namun, mereka menutup mata dari keterangan dan kebenaran yang nampak. Sungguh sebuah ironi dan tragedi.

Demikian sekilas gambaran sederhana tentang penganut Agnostisisme. Tidak tau dia berdiri di mana. Tidak bisa menjawab pertanyaan tantang dirinya apalagi tentang kebenaran dan keberadaannya. Bingung, bimbang dan sangsi dengan diri dan keberadaannya di dunia.

Maka wajar, jika Syekh Ahmad Deedad sering marah ketika bertemu dengan penanya dari penganut Agnostik ini. Tidak punya pendirian yang jelas. Bahkan tidak memberikan kejelasan atas penjelasan yang ingin dijelaskan.

Ideologi agnostik berbeda dengan ateis. Meski sama-sama meragukan adanya konsep Ilahi, namun perbedaannya ialah ateis telah sepenuhnya tidak mempercayai adanya Tuhan, sementara agnostik tidak terlalu peduli apakah Tuhan itu ada atau tidak. Dengan kata lain, seorang agnostik akan menangguhkan penilaian tentang masalah-masalah metafisik dan teologis terutama pertanyaan abadi tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak.[1]

Seorang pemikir abad ke-20 Bertrand Russel yang mengatakan bahwa bagi seorang agnostik, mustahil untuk mengetahui kebenaran yang diajarkan oleh agama-agama seperti kebenaran tentang Tuhan dan hari akhir. Kalaupun bukan mustahil, kata Russel, setidaknya tidak mungkin untuk saat ini (at least impossible at the present time).

Kemuculan ideologi Agnostik ini terbagi dalam 3 (tiga) faktor. Pertama karena modernisme.kemajuan abad modern sebgai hasil ‘rasionalitas’, dan memandang agama sebagai penghambat zaman. Kedua, motivasi keagamaan, doktrin agama. Yang dipadukan dengan temuan sains dan filsafat. Ketiga, cara berpikir instan. Penganut ini tidak mau repot, tidak peduli tentang konsep keberadaan Tuhan, ada atau tidak.

Meneurut mereka Tuhan tidak penting dalam hidup manusia. Ada atau tidak adanya Tuhan dalam hidup, toh mereka kaum (Agnostik) bisa makan,minum, bekerja, menghasilkan uang, hidup enak, tanpa pusing-pusing memikirkan eksistensi Tuhan. Tuhan tidak ada pengaruhnya dalam hidup. Demikian asumsi mereka.  

Karenanya, kita harus menghindari sikap atau virus Agnostisisme. Tuhan memberi kita akal agar dipakai untuk berpikir. Supanya tidak planga-plongo. Bimbang dan bingung dalam hidup. Akal difungsikan dengan baik. Bukan dibiarkan diam, sehingga tidak dapat difungsikan dengan sempurna.

Wallahu’alam bish swawaab


[1] Baca, https://muhammadiyah.or.id/2022/03/mengenal-paham-agnostik-apa-dan-bagaimana/ (Diakses, 31 Maret 2026)

Postingan terkait

Minhaj: Panduan Bagaimana Menjadi Pribadi Muslim, Mukmin dan Muhsin

Fiqri Rabuna

Sains dan Kacamata Einstein

Sofian Hadi

Sejarah dan Dampak Gerakan Orientalisme Terhadap Islam: Sebuah Kajian Kritis

Sofian Hadi

Konsep Tawhid Dalam Pandangan Al-Faruqi

Sofian Hadi

Kritik Terhadap Buku Orientalis Barat “The Truth about Muhammad” Penulis Robert Spencer Bag 2

Sofian Hadi

Argumen Cerdas! Dr. Zakir Naik “Debat Islam Vs Non-Islam”

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page