“Hingga pada awal abad ke-20 kemunculan gerakan orientalisme semakin tidak terbendung yang disatukan oleh misi liberalisasi oleh bangsa Barat terhadap Islam dengan agen-agennya yaitu misionaris, orientalis dan kolonialis”_Mustofa Maufur
Terdapat beberapa pendapat ahli yang menyatakan asal muasal kemunculan gerakan orientalisme yang mengguncang dunia Islam. Pendapat lain mengatakan, bahwa kemunculan gerakan orientalisme dapat ditarik dari abad pertengahan di mana abad tersebut merupakan zaman kegelapan (dark ages) bagi bangsa Barat.
Banyak rahib-rahib Kristen awal yang datang ke negeri-negeri Islam seperti Andalusia untuk mempelajari Islam termasuk juga budaya Arab dan Persia beserta ilmu-ilmunya. Pendapat ini mungkin diamini oleh kebanyakan ahli, namun kita akan moncoba menganalisah secara beragam kemunculan gerakan orientralisme dalam pemaparan berikut.
Seperti telah disinggung, bahwa sejarah gerakan orientalisme menurut Ensiklopedia Islam, Juan E. Campo, studi orientalisme telah dimulai dari abad ke 19 hingga abad ke 20. Adapun pendapat lain mengenai ketertarikan Barat pada Islam sejak abad ke-12. Pada saat itu, beberapa rahib pernah mendatangi Andalusia di masa kejayaan Islam di Timur.
Mereka belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh masyarakat Islam, kesempatan itu kemudian dimanfaatkan untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Setelah mereka kembali ke daerah asal, mereka menegajarkan ilmu yang diperolah sehingga dalam beberapa tahun universitas di Barat sangat bergantung kepada buku-buku dalam bahasa Arab. Hal ini kemudian semakin menguatkan mereka untuk kembali menggali lebih dalam mengenai disiplin ilmu yang lain.[1]
Pandangan berbeda, bahwa gerakan orientelisme bergerak dengan resmi dimulai dengan dikeluarkannya ijin secara resmi berdasarkan keputusan dewan Gereja Viena pada tahun 1312 M, yang di tandai dengan berdirinya universitas untuk memepelajari Bahasa bangsa Timur. Terutama bahasa Arab Ibriyyah dan Suryaniayah.
Keputusan itu merupakan hasil dari usulan yang diajukan oleh seorang pembaptis Reymond Lull (1235-1316), yang disinyalir sebagai orang yang sangat gigih dan keras menyuarakan kepada umat Masehi untuk memepelajari bahasa Arab secara serius.
Bagi Reymond, hal tersebut dipandang sebagai cara efektif dalam mengalihkan kaum Muslim untuk menjadi pemeluk Masehi. Dengan diterimanya usulan Reymond, menunjukkan bukti adanya gerakan Kristenisasi di Barat, khususnya setelah kegagalan mereka dalam perang Salib. Pada posisi ini mereka ingin mewujudkan angan dan cita-cita mereka yang pokok yaitu memurtadkan umat Islam.[2]
Cendekiawan Muslim, Qosim Nurseha Dzulhadi, dalam makalahnya menerangkan beberapa teori mengenai kemunculan gerakan orientalisme. Pertama,orientalisme dipicu oleh penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Latin. Jika ini patokannya, maka gerakan ini dimulai di Barat sejak abad ke-12 M. Pandangan ini dikemukakan oleh Rudi Paret.[3]
Adapun teori kedua,orientalisme dimulai oleh seorang pendeta Perancis, Jerbert, yang dipilih sebagai Paus Roma pada tahun 999 M, setelah belajar di berbagai sekolah yang ada di Andalusia. Kemudian, dilanjutkan oleh Petrus Venerabilis atau Pierrele Vénéré (1092-1156) dan Gérard de Grémona (1114-1187).[4]
Kemudian teori ketiga, gerakan orientalisme dimulai sejak pertemuan kaum Muslimin dengan orang Romawi dalam Perang Mu’tah dan Tabūk.[5] Teori keempat, lahirnya orientalisme disebabkan oleh perang Salib (al-Íurūb al-Îalībiyyah).[6]
Adapun yang kelima, gerakan orientalisme lahir karena kebutuhan Barat untuk menghujat Islam, dan mengetahui kekuatan yang membangkitkan kaum Kristen-Eropa, terutama setelahnya jatuhnya Konstantinopel tahun 857 H/1453 M, yang ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih
Karena pasukan Turki Utsmani merayap masuk hingga perbatasan Viena, sehingga Islam dianggap sebagai ‘benteng’ yang amat kokoh dalam menghambat laju penyebaran Kristen. Sementara yang keenam,orientalisme lahir dari rahim gereja dan biara-biara Kristen Romawi-Barat.
Pada teori ini dapat dibuktikan dengan banyak fakta, mengapa orientalisme lahir dari gereja dan biara Kristen Romawi-Barat. Secara jelas, misalnya, dijelaskan oleh Norman Daniel dalam karyanya Islam and the West (London, 1963) dan karya Southern, Western Views of Islam in the Middle Ages (Harvard, 1962).[7]
Hal ini juga, tentunya, dapat dibenarkan dengan tokoh-tokoh orientalis yang secara mayoritas berasal dari sarjana atau pemikir Yahudi dan Kristen. Maka sangat mafhūm jika gereja memiliki kepentingan untuk mempelajari Islam dan ajarannya, terutama al-Qur’an.[8]
Intinya, sejarah kemunculan orientalisme menggema sejak abad ke -12 hingga pada puncaknya menjelang abad ke-19 dan abad ke-20 sebagaimana telah disinggung di awal. Bahwa literature Barat menghantang Islam hingga ke akarnya, dalam upaya mempertentangkan ideologis, historis, budaya antara Kristen dan Islam.
Hingga pada awal abad ke-20 kemunculan orientalisme semakin tidak terbendung yang disatukan oleh misi liberalisasi oleh bangsa Barat terhadap Islam dengan agen-agennya yaitu misionaris, orientalis dan kolonialis.[9] Selanjutnya, perkembangan orientalisme di belahan Timur mendatangkan dampak yang signifikan bagi dunia pemikiran Islam dengan menyoal beberapa otentisitas al-Qur’an, hadits dan Islam itu sendiri.
Wallahu’alâm bish shawââb
[1] Mustafâ al-Sibâ’i, Akar-akar Orientalisme, terj. Ahmadie Thaha, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983), hal. 21. Baca, Arina Haqan, Orinetalisme dan Islam Dalam Pergulatan Sejarah, dalam Mutawâtir, Jurnal Keilmuan Tafsir Hadits, (Volume 1, Nomor 2 Desember 2011), hlm. 156-157
[2] Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Ru’yah Islamiyyah Lil Istisyrâq, hlm. 49-50. Lebih lanjut, diterangkan, Reynald Lull mengatur siasat dengan memanafaatkan bangsa Tartar berpihak kepadanya dengan memeluk agama Masehi sehingga Reymond mampu menyerang kaum Muslim. Namun, siasat Reymond pupus, bangsa Tartar sebaliknya memeluk Islam. Dari peristiwa ini kemudian semangat Kristenisasi yang dipimpin Reymond Lull semakin membengkak, berbagai upaya dilakukan. Hingga pada tahun 1636 M. Fakultas khusus bahasa Arab didirikan di Universitas Cambridge. Fakultas ini dikelola oleh Simon Ockley sekaligus pengarang buku History of Saracens. Tujuannya adalah mengembangkan ruang lingkup gerak langkah Gereja serta menyebarkan Kristen di kalangan umat Islam yang mulai luntur nilai keislamannya.
[3] Lihat, ‘Abd Allāh al-Syarqāwī, al-Istishrāq wa al-Ghārah ‘alā al-Fikr al-Islāmī (Kairo: Dār al-Hidāyah, 1989), hlm. 6-7.
[4] Muṣṭafā al-Sibā‘ī, al-Istisyrāq wa al-Mustasyriqūn: Mā Lahum wamā ‘Alayhim (Sūriah: al-Maktab al-Islāmī, ttp), hlm. 18.
[5] Husayn Haykal, Hayāt Muhammad (Kairo: Dār al-Maʻārif, 1977), hlm. 29.
[6] Lihat, al-Syarqāwī, al-Istisyrāq fī al-Fikr al-Islāmī al-Muʻāṣir: Dirāsah Taḥlīliyyah Taqwīmiyyah (Kairo: Dār al-Hidāyah, ttp), hlm. 7, 7-10.
[7] al-Syarqāwī, al-Istisyrāq: Dirāsah, hlm. 10-11.
[8] Lebih lengkap baca, Makalah Qasim Nurseha Dzulhadi, Mengkaji al-Qur’an dan Orinetalisme: Kritik terhadap Framework Studi al-Qur’an Orientalis, hlm. 2-3
[9] Mustofa Maufur, Orientalisme Serbuan Ideologis dan Intelektual, hal. 23-24. Baca juga, Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, hlm. 45-65