Opini

Buku dan Paham Paradoks Kita: Sumber Pengetahuan Yang Sengaja Dilupakan

“Literacy is the door to knowledge, essential to individual self-esteem and empowerment. Books, in all forms, play an essential role here.“__Irina Bokova


Kita sudah sering dengar ungkapan bijak “Buku adalah jendela dunia” atau “Membaca buku membuka cakrawala pengetahuan.” Dan pepatah Arab mengatakan “Sebaik-baik teman adalah buku.” Narasi dan ungkapan seperti di atas, sangat familiar di telinga kita.

Dan, masih banyak ungkapan serupa yang artinya kurang lebih sama, yaitu mengajak kita agar gemar baca, dan tidak latah dengan ilmu pengetahuan. Tentu hal ini telah menjadi konsesus global yang tidak terbantahkan, bahwa dengan membaca kita menjadi cerdas.

Namun, pada kenyataanya, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan yang paradoks, aktivitas membaca sebaliknya kurang digandrungi oleh masyarakat kita. Padahal, dengan jelas kita sepakati, bahwa aktivitas membaca akan medatangkan pengetahuan baru dalam diri pembaca.

Contoh sederhana, di sekeliling kita, berapa banyak orang yang gemar membaca? Di lingkup keluarga? Teman sekelas? Partner tongkrongan? Teman kantoran? Mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi? Sampai di sekeliling masyarakat yang sehari-hari, kita hidup dan bergaul dengan mereka?

Berapa banyak yang benar-benar punya minat baca? Dapat dipastikan, pasti sebagian besar dari mereka tidak senang dengan buku dan tidak senang membaca. Saya tidak menjastifikasi semuanya, namun sebagian besar, dari masyarak ‘tidak’ gemar membaca.

Padahal, masyarakat kita telah sepakat, dengan jargon atau ungkapan mutiara di atas! Lantas, kenapa masyarakat, terlihat begitu latah, egois, dan skeptis dengan jargon-jargon hikmah itu? Realitas inilah yang disebut dengan penganut paradok pengetahuan.

Tahu keuntungan membaca, tapi tidak mau baca. Membaca, menambah pengetahuan tapi tidak dilakukan. Buku adalah sumber ilmu, tapi enggan mencari tahu. Sama artinya, ingin mendapat uang banyak, tapi tidak mau kerja. Ingin hidup kaya, tapi tidak mau berusaha. Ingin pintar, tapi tidak mau belajar. Dan seterusnya.

Inilah yang disebut dengan paham paradoks. Kecendrungan pada paham ini akan mendatangkan kebiasaaan yang bertolak-belakang dengan realitas. Memilih untuk tidak sejalan dengan kenyataan, kemudian menciptakan pandangan baru yang berlawanan. Hal ini sangat disayangkan, mengingat kita adalah masyarakat ‘awam’ yang butuh dengan ilmu dan pengetahuan.

Setiap tanggal 23 April, diperingati sebagai hari buku sedunia. Buku adalah symbol ilmu pengetahuan yang ingin mengakhiri marakanya penyakit akut kedunguan dan kebodohan. Sudah lama superioritas latah ini tumbuh di kepala dan otak kita. Tidak kah kita ingin membuangnya jauh-jauh dan menggantinya dengan pengetahuan baru?

Saat ini, toko-toko buku tak terhitung gulung tikar. Tutup. Bangkrut. Pelanggannya hilang entah kemana. Pembacanya tiba-tiba ditelan bumi. Buku yang dulunya tumpah-ruah di trotoar-trotoar jalan kini raib, tak kunjung muncul kembali. Penjualnya putus asa, menyerah dan kalah.

Saya menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana dulu, emperan kecil di teras rumah, banyak dijumpai buku-buku beragam judul. Setiap toko grosir, entah penjual sembako, pedagang pecah-belah, perabot rumah tangga, penjual alat-tulis, pasti di sana ada buku, koran, majalah, tabloid, terpampang untuk dijual.

“Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu sunyi, sastra itu bodoh, sains lumpuh, pemikiran dan spekulasi terhenti. Buku adalah mesin perubahan, jendela di dunia, mercusuar yang didirikan di lautan waktu.” _Barbara W. Tuchman. “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali.” _Tan Malaka

Layaknya, sebuah pertarungan, buku hadir sebagai pahlawan. Akan tetapi, pahlawan itu, sengaja dilupakan. Adanya sosok pahlawan dalam sebuah pertempuran, pasti mendatangkan kemenangan dan kejayaan. Sebaliknya, jika pahlawan itu gugur, gugurlah kejayaan dan peradaban.

Di tempat saya, kota kecil Taliwang, Sumbawa Barat para pegiat buku teras rumah dan teras toko sudah tidak lagi terlihat. Dahulu, toko buku tersedia, lengkap dan cukup besar. Kini tutup berganti nama dan lokasi dengan Mini Market Modern. Sebuah realitas paradoks yang tak terbantahkan. Buku pernah hadir dalam wajah klasik, lalu tersingkur dan tersingkir penuh dramatik.

Tempat langganan saya di lampu merah perempatan toko Selex, Taliwang adalah saksi bisu, hilangnya toko buku kecil tempat saya sering membeli majalah Hidayatullah, Risalah, tabloid Femina, majalah bola dan buku-buku ber-genre agama.

Sepuluh meter dari toko Selex, sebelah Timur ada pedagang bakso. Selain melayani pembeli, penjual bakso juga menjual buku-buku aqidah, majalah Islami, buku saku dan jenis obat herbal, seperti minyak zaitun dan habatussauda’.

“Silakan dilihat-lihat dulu bukunya pak” Tawarnya kepada pelanggan yang datang membeli Bakso. Terkadang tak digubris, sekaligus apatis dengan tawaran yang aneh bagi pelannggan. Mereka datang membeli bakso, namun ditawar untuk membeli buku, atau sekadar membaca buku, yang disediakan di rak tempat kerupuk dan peye’ bergelantungan.  

Saya selalu memerhatikan gelagat pemilik warung bakso ini. Ada harapan besar dalam semangatnya untuk mengenalkan literasi kepada masyarakat. Akan tetapi, masayarakat tidak tergiang untuk mengisi amunisi otak, dan lebih mementingkan orientasi perut. Bagi mereka, semangkok bakso adalah kenikmatan sementara membaca adalah penggangu kenyamanan.  

Gaung literasi dari pojok-pojok warung atau teras dan trotoar-trotoar jalan boleh jadi terus digemakan. Orientasi perut memang penting. Tetapi, orientasi otak, jauh lebih penting. Sayangnya, masyarakat kita lebih memilih orientasi pertama, paradok literasi kembali terjadi.

Para pelaku dan pegiat literasi, dahulu pernah menjadi profesi tersembunyi. Hidden profession. Bahkan, mereka sendiri tidak sadar, bahwa sebenarnya mereka-lah pegiat dan pejuang literasi sebenarnya. Zaman di mana orang latah dengan buku dan baca, mereka hadir untuk mengusir kelatahan dan kedunguan itu.

Selamat hari Buku sedunia, 23April 2026. Gaungkan literasi, majukan negeri.    

Postingan terkait

Berani Memilih Bacaan Bermutu dan Berati

Sofian Hadi

Resensi: Kebiasaan Sederhana Mampu Menciptakan Letupan (Atom) Perubahan

Sofian Hadi

Lakon Pengetahuan Literasi Baca di Masyarakat Kita

Sofian Hadi

Sepuluh Mahkota Kemuliaan Untuk Hati Yang Haus Ampunan 🔰

M. Syarif Hidayatullah

Menimbang Kebenaran Dengan Akal Pikiran dan Ilmu Pengetahuan

Sofian Hadi

Meretas Nalar Kedaulatan (Catatan Opini untuk Negeri)

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page