Dalam rangka mengoptimalkan keberadaan dan fungsi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Bidang Kebudayaan melakukan upaya dan pola strategis untuk menggiatkan kembali bahan bacaan dengan konten lokal melalui penyusunan modul ajar berbahasa Sasak jenjang Sekolah Dasar.
Terobosan yang diinisiasi Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah ini dipadukan dengan menggandeng para akademisi maupun praktisi di Bumi Tatas Tuhu Trasna Lombok Tengah.
Salah satu pemateri yang ditunjuk mengisi kegiatan Modul ajar berbahasa Sasak adalah Randa Anggarista, yang baru-baru ini terpilih menjadi Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Randa, yang juga sebagai pengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu, tidak hanya ditugaskan untuk menyusun modul ajar, tetapi ikut menjadi pemantik kegiatan Diskusi Terpumpun Penyusun Modul Ajar yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis, 23 dan 25 Juli 2025 bersama guru muatan lokal di Kabupaten Lombok Tengah.

Ketika ditemui di Grand Royal Batujai, Randa mengungkapkan bahwa penyusunan modul ajar yang sebetulnya menitikberatkan kepada bahan bacaan dengan konten lokal ini, menjadi angin segar, untuk memperkenalkan sekaligus menghidupkan kembali lokalitas Sasak bahasa daerah, di tengah minimnya bahan bacaan berbahasa daerah di Kabupaten Lombok Tengah.
Keterlibatan akademisi maupun praktisi seperti Relawan Literasi Masyarakat dalam penyusunan bahan ajar (modul) ini menjadi bentuk kolaborasi antar-lini dalam mewujudkan berbagai langkah strategis yang inovatif, serta memperkaya khazanah referensi buku bacaan.
Randa juga menambahkan bahwa, “Kita punya jargon NTB Membaca, NTB Mendunia, jargon ini hanya akan terwujud melalui berbagai alternatif, seperti penyusunan bahan bacaan konten lokal ini salah satunya.
Terlebih dengan kondisi Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki khazanah kearifan lokal yang bersifat adiluhung. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memublikasikan hal demikian. Sehingga perlu dukungan dan sinergi dengan semua lini, dari akar rumput hingga kegiatan filantropi.” Terang Randa.

Dalam penyusunan bahan bacaan ini, Randa ditemani oleh Lalu M. Gitan Prahana dari Geopark Rinjani dan Bang Ung selaku pendiri UAC Studio. Ketiganya berhasil menuntaskan lima jenjang bahan bacaan berbahasa daerah Sasak.
Dimulai dari jenjang A untuk pembaca dini; B1, B2, dan B3 masing-masing untuk pembaca awal; serta C untuk pembaca semenjana. Setelah melewati tahap diseminasi melalui kegiatan Diskusi Terpumpun yang berlangsung di Grand Royal Hotel Batujai.
Kelima bahan bacaan berjenjang ini selanjutnya akan melalui tahap revisi dan publikasi, setelahnya akan didistribusikan ke sekolah.
Salam Relima. Salam Literasi!