Mencintai Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban setiap Muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir. Sebagian Muslim mengekspresikan cintanya kepada Nabiyullah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memperingati hari kelahiran beliau setiap tahunnya. Para ulama berbeda pendapat terkait peringatan hari lahir Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam;
Pertama, apabila dalam peringatan tersebut disertai dengan hal-hal yang dilarang dalam syariat Islam, seperti adanya ikhtilat yang melanggar syariat atau terdepat konser musik yang dilarang dalam syariat. Untuk peringatan jenis ini maka seluruh ulama sepakat akan keharamannya[1].
Kedua, apabila dalam peringatan tersebut tidak disertai hal-hal terlarang yang dicontohkan sebelumnya, melainkan hanya berisi syair-syair pujian yang tidak melampaui batas kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam, atau di dalamnya berisi majlis zikir dan membahas sirah Nabi. Untuk peringatan hari lahir Nabi seperti ini maka kebanyakan ulama membolehkannya dan tidak sedikit juga yang memakruhkannya[2].
Adapun ulama yang membolehkan diantaranya : Al-Imam Abu Syamah guru dari Imam Nawawi, Al-Imam Al-Hafiz Al-Iraqi, Al-Imam Ibnu Katsir, Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Imam Ibnu Al-Jazari, Al-Imam As-Suyuthi, Al-Imam Ibnul Jauzi dan banyak lagi ulama lainnya[3]. Adapun ulama yang melarang atau memakruhkannya diantaranya : Al-Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Al-Imam Al-Faqihi Al-Asy’ari, Al-Imam Ibnul Haj Al-Maliki[4], serta ulama lain terutama dari kalangan ulama Najd.
Para ulama yang disebutkan namanya di atas, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya memiliki dalil dan sandaran masing-masing. Penulis sendiri lebih condong kepada pendapat yang membolehkan peringatan hari lahir Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tetap menghormati adanya pendapat para ulama yang melarang.
Namun, bagi yang mengikuti pendapat bahwa hal itu dibolehkan, ketahuilah bahwa cinta bukanlah hanya pengakuan, ia tidak cukup hanya sebatas seremonial, cinta butuh untuk dibuktikan. Ibnu Al-Mubarak berkata :
تعصي الإله وأنت تظهر حبه هذا لعمري في الفعال بديع
لو كان حبك صادقا لأطعته إن المحب لمن يحب مطيع
Kau mendurhakai Tuhan
Lalu kau mengaku mencintai-Nya?
Demi hidupku, sungguh pengakuanmu
Dalam pandangan nalar sangatlah aneh
Jika memang kau jujur mencintai-Nya
Pastilah kau patuh kepada-Nya
Karena pecinta selalu patuh kepada yg dicintainya[5]
Perkataan ini menunjukkan bahwa, cinta tidak cukup hanya sebatas pengakuan namun perlu untuk dibuktikan, dan bukti terbesar cinta adalah patuh kepada yang dicinta.
Maka setiap muslim yang mengaku mencintai Nabi, yang menyatakan bahwa “seremonial” Maulid ia lakukan atas dasar cinta kepada sang Nabi, namun ia tidak pernah patuh dan tunduk kepada aturan dan ajaran Nabi maka sejatinya pengakuan cintanya hanyalah pengakuan dusta –na’udzubillah-.
Buktikan cintamu dengan menjaga sholat!
Buktikan cintamu dengan lantunan al-Qur’an!
Buktikan cintamu dengan menjaga lisan dari ucapan kasar dan keji!
Buktikan cintamu dengan mendukung dan membantu saudara-saudara Muslim mu di Gaza (Palestina)
Buktikan cintamu dengan menjauhi riba!
Buktikan cintamu dengan menjauhi judi!
Buktikanlah cintamu dengan tunduk dan patuh, serta setia untuk selalu mengikutinya.
Dengan pembuktian itu semoga kita termasuk orang-orang yang kelak mendapatkan syafa’at Beliau, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam .
Wallahu’alam bi As Shawaab
[1] Hukm Al-Ihtifal bi Al-Maulid An-Nabawi, Abdul Fattah Al-Yafi’I, hal. 1
[2] Ibid
[3] Ibid, hal. 3
[4] Ibid, hal. 10
[5] Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin, Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi, VIII, hal. 618
1 komentar