NasionalSastra

Intervensi RELIMA Dalam Penyusunan Bahan Bacaan Muatan Lokal Di Gumi Tatas Tuhu Trasna

Muatan Lokal merupakan salah satu mata pelajaran pada jenjang sekolah dasar, khususnya di Gumi Tatas Tuhu Trasna Kabupaten Lombok Tengah. Mata pelajaran tersebut tercatat sebagai mata pelajaran yang wajib diajarkan bagi siswa kelas rendah maupun tinggi.

Bahkan, hal tersebut telah diatur dalam Permendikbud Nomor 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013 dan didukung oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Bunyinya menerangkan bahwa, Muatan lokal wajib diajarkan di setiap satuan pendidikan dasar sebagai bagian dari proses pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk mengenal, mencintai, serta melestarikan lingkungan alam, sosial, dan budaya di daerahnya.

Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak sejalan dengan hadirnya sarana yang mendukung jalannya proses pembelajaran Muatan Lokal. Salah satu permasalahan yang muncul selama ini adalah guru bidang studi yang mengampu mata pelajaran tersebut mengalami kesulitan untuk mengakses bahan ajar yang dapat digunakan sebagai penunjang dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil identifikasi yang Saya lakukan, minimnya bahan ajar bermuatan lokal menyebabkan proses pembelajaran Muatan Lokal di sekolah dasar tidak berjalan maksimal.

Sebagai Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional, kondisi tersebut turut menjadi aspek utama yang saya perhatikan. Saya berusaha mencari solusi untuk mengatasi salah satu permasalahan dalam dunia pendidikan ini.

Wawasan yang saya miliki dalam dunia pendidikan dan penulisan, menjadi semacam peluang bagi saya untuk menghadirkan buku bermuatan lokal, sekaligus mewujudkan cita-cita bagi para pihak yang terlibat dalam pembelajaran Muatan Lokal.

Saya bersyukur karena adanya jalinan komunikasi yang baik dengan Dewan Kesenian Kabupaten Lombok Tengah, memberikan kemudahan untuk dapat melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Lombok Tengah.

Audiensi ini bertujuan agar Pemerintah Daerah—dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, membuat program penyusunan bahan ajar bermuatan lokal yang melibatkan penulis maupun ilustrator lokal.

Bahan ajar tersebut nanti akan dapat digunakan pihak sekolah dalam pelajaran Muatan Lokal. Kebahagiaan saya memuncak ketika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengapresiasi dan menyetujui usulan tersebut. Tidak sampai di situ, saya sebagai Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional juga dilibatkan sebagai tim yang bertugas untuk menyusun bahan bacaan dengan konten lokal Sasak.

Tepat pada hari Rabu, 2 Juli 2025, saya bersama Lalu M. Gitan Prahana—perwakilan Penulis lokal, dan Mashur Hadi—perwakilan illustrator, melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah untuk menemui kepala dinas dan kepala bidang, sekaligus menyamakan persepsi mengenai model bahan ajar yang akan disusun sebagai pedoman dalam pembelajaran Muatan Lokal pada jenjang sekolah dasar.

Pertemuan tersebut bermuara pada satu kesepakatan tentang penyusunan bahan ajar berjenjang dengan konten lokal (berbahasa daerah Sasak) yang dilengkapi dengan ilustrasi untuk memperkuat daya ingat siswa di masing-masing jenjang, persis dengan bahan bacaan bermutu yang selama ini telah didistribusikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Keputusan tersebut mengantarkan kami bertiga untuk membagi tugas. Saya bertugas untuk menyusun bahan bacaan muatan lokal jenjang B3 (pembaca awal untuk usia 8—10 tahun) dan C (pembaca semenjana untuk usia 8—10 tahun).

Lalu M. Gitan Prahana menyusun bahan bacaan muatan lokal jenjang A (pembaca dini untuk usia 0—7 tahun), B1 (Pembaca awal untuk usia 6—8 tahun), dan B2 (pembaca awal usia 7—9 tahun); sedangkan Mashur Hadi memoles setiap halaman pada masing-masing buku dengan ilustrasi.

Saya, Lalu M. Gitan Prahana dan Mashur Hadi diberikan tenggat waktu sekitar tiga minggu untuk menuntaskan tugas masing-masing. Dengan waktu yang cukup singkat tersebut, saya berupaya semaksimal mungkin untuk mencari referensi—literatur, yang menunjang pemahaman, baik terhadap penjenjangan buku maupun budaya lokal Sasak.

Hal demikian Saya lakukan agar buku ini tidak hanya menjadi entitas semata, tetapi dapat menunjang proses pembelajaran siswa di jenjang sekolah dasar secara berkelanjutan.

Tiga minggu setelah berjibaku dengan waktu dan berkutat dengan tulisan, saya, Lalu M. Gitan Prahana dan Mashur Hadi akhirnya berhasil menuntaskan tugas. Lima buku berjenjang berkonten lokal Sasak—jenjang A, B1, B2, B3 dan C, telah siap untuk disodorkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah.

Adapun gambar salah satu bahan bacaan berkonten lokal Sasak tersebut terlampir dalam tulisan singkat ini. Hasilnya, kelima bahan bacaan berjenjang berkonten lokal Sasak yang telah berhasil kami susun, direviu pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama 40 peserta yang berasal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, kepala sekolah, serta guru bidang studi Muatan Lokal.

Kegiatan tersebut diagendakan di Hotel Grand Royal Batujai. Pada FGD kali ini, kami tidak sekadar bertindak sebagai penulis, tetapi narasumber yang memfasilitasi dan menerima masukan dari peserta, baik mengenai kedalaman materi, diksi, grafika, hingga ilustrasi dalam masing-masing jenjang.

Setelah diperbaiki berdasarkan hasil review pada saat FGD, bahan bacaan berjenjang dengan konten lokal Sasak tersebut kini telah masuk ke meja penerbitan pada awal September 2025 , dan siap untuk didistribusikan ke beberapa sekolah pada akhir tahun 2025 mendatang.

Bahan bacaan berjenjang dengan konten lokal Sasak, akan menambah khazanah peserta didik, serta alternatif untuk menjaga eksistensi kebudayaan lokal Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sebagai Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Saya memiliki harapan bahwa kegiatan serupa perlu dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas bacaan, baik bagi sekolah maupun masyarakat umum.

Penulis: Randa Anggarista; (Relawan Literasi Masyarakat Lokus Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat)

Postingan terkait

Spektakuler! Apel Tahunan 2025 Santri Al-Ikhlas Taliwang Siap Terbangkan Pesawat Raptor F-22

Sofian Hadi

Resensi Buku Jalan Nabi 1: Mengungkap Tabir Zaman Keemasan

Sofian Hadi

Resensi buku “AYAH… Kisah Buya Hamka”

Sofian Hadi

Ketika Perpustakaan Kuno Alexandria Menyumbang Inspirasi Bagi Keilmuan Dunia  

Sofian Hadi

Bunda Literasi NTB Perkuat Gerakan Literasi Melalui Peran Perpustakaan Desa, Kelurahan, TBM Serta Komunitas Baca di Nusa Tenggara Barat

Sofian Hadi

Sumbawa: Sebuah Filsafat Tentang Asal Mula Keberadaan

Yadi Surya Diputra (Bung Suryo)

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page