Sastra

Ketika Perpustakaan Kuno Alexandria Menyumbang Inspirasi Bagi Keilmuan Dunia  

Tidak terbayangkan, digitalisasi buku yang digagas oleh raksasa Google dan Amazone menjadi rujukan utama dalam kancah digital. Digitalisasi buku dalam bentuk e-book (buku elektronik) tanpa disadari, kini telah menjadi opsi kunci dalam dunia modern. Tidak hanya untuk konsumsi kaum intelektual, kebutuhun buku digital yang dipelopori Google dan Amazon, kini eksis sebagai referensi khalayak yang tak terbantahkan.

Namun, tahukan kita bahwa gagasan atau ide digitalisasi buku yang dipelopori raksas Google dan Amazon ini ternyata terinspirasi dari perpustakaan kuno Alexandria yang berada di Mesir. Konon, pendiri Amazone Jeff Bezos, membaca peluang ini sebagai sebuah proyek Global Libraries yang akan memberi dampak prositif bagi dunia digital.

Bagi Bezos, ini adalah peluang yang tak terbantahkan. Tidak sampai di situ, para penerbit raksasa menilai proyek Amazone tumbuh dengan sangat cepat, dalam menjawab tantangan era modern literasi digital yang serba cepat. Tidak terbayangkan, dulu, buku dicetak dan didistribusikan hingga ke tangan pembaca oleh penerbit, kini hanya butuh internet untuk bisa mengakses buku-buku tersebut.

Sebagai pusat pengetahuan , Perpustakaan Alexndria punya misi tinggi yaitu menyapa pembaca secara global dipenjuru dunia. Dengan sebaran 1,5 juta pengunjung setiap tahunnya, Alexandria terus berbenah dan membangun relasi literasi untuk pendidikan manusia yang lebih baik. Dalam konteks ini, Alexandria menjadi pusat komunitas literasi tanpa batas.

Dengan koleksi buku kurang lebih 2 juta exemplar, perpustakaan kuno sekaligus modern ini meluncurkan program mengejutkan yang diri nama “Membaca Tanpa Buku.” Hal ini tentu menarik, sebab, memberi kemudahan kepada pelanggan baca dalam mengakses buku tanpa harus berkunjung ke perpustakaan secara fisik.

Program Membaca Tanpa Buku maksudnya adalah, para pegiat literasi, ‘kutu buku’ maupun akademisi tidak perlu repot-repot memegang buku secara fisik. Mereka hanya butuh paket internet untuk mengakses sekaligus membaca dari gadget (perangkat elektronik) mereka. Dengan cara ini, pembaca akan tetap terlayani dengan maksimal dan optimal.

Melihat manfaat dari program ini, Bill Gates kemudian membuat terobosan langka, Gates mengucurkan dana miliaran untuk perpustakaan yang mau berbenah dalam pelayanan kepada pembaca. Gates, memnyediakan Wi-Fi secara gratis di setiap perpustakaan, sebagai bentuk dukungannya untuk mencerdaskan pembaca.

Awalnya, program Wi-Fi berlaku khusus di beberapa perpustakaan di Amerika. Hingga akhirnya, Gates memperluas jangkauan lokus programnya di 50 negara. Program yang dikenal dengan Global Libraries Foundation menyasar perpustakaan umum sebagai bentuk apresiasi kepada para komunitas literasi dan pegiat pendidikan agar lebih fokus meneliti.

Para komunitas dan pegiat pendidikan butuh sarana dan tempat ‘nyaman’ untuk menyelasaikan masalah literasi dan Pendidikan untuk kemjuan seumber daya manusia dan sumber daya buku. Buku sebagai sumber pengetahuan, harus mendapat tempat istimewa. Bukan sebaliknya, diterlantarkan, ditinggalkan dan dipinggirkan.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa program seperti Global Libraries Foundation mendapat sambutan luar biasa. Program Gates, dipandang sebagai perpanjangan ‘visi’ perpustakaan Alexandria yang ingin menjangkau pembaca di berbagai sudut dunia, serta ingin menyebarkan pengetahuan guna mencerdasakan manusia.

Satu-satunya cara untuk mencapai visi tersebut menurut pendiri Google, adalah dengan digitalisasi buku. Hal yang paling rasional yang dapat dilakukan adalah dengan menyalin buku-buku tersebut dalam dokumen digital. Walaupun, hal ini dalam perhitungan matang, akan tetapi, resikonya belum terpikirkan.

Tahun 2010, Google menghitung terdapat 129.864.800 buku telah diterbitkan sejak zaman Gutenberg. Google bermaksud mendigitalkan semua buku tersebut. Kabar ini diperkuat dengan adanya ‘mitra’ perpustakaan besar yang siap membantu Google merealisasikannya. Seperti; Universitas Michigan, Harvard, Stanford, Oxford dan perpustakaan umum New York, serta perpustakaan besar di Eropa dan Amerika. [1]

Hal ini tentu menjadi prestasi luar biasa dan sangat monumental. Sebab, terdapat lebih dari 20 juta buku dan termasuk buku-buku tua yang akan mudah diakses. Pada satu sisi, mungkin hal ini sebagai sebuah prestasi, namun pada sisi yang lain perlunya tinjauan masalah akibat dari program digitalisasi yang dikembangkan.

Terlepas dari pro dan kontra tentang isu ini, patut diapresiasi bahwa denyut pengetahuan berdetak keras dari perpustakaan Alexandria yang monumental. Bukankah pengetahuan perlu disebarkan seluas-luas-nya sebagai asupan nutrisi positif bagi otak manusia sebagai hayawanun natiq (binatang yang berpikir)?

Karenanya, perpustakaan adalah lambang kebijakasanaan dan membangun kecerdasan pikiran. Kebijaksanaan akal-pikiran terlahir dari renungan para pemikir dan komunitas cerdik terdidik dari balik labirin perpustakaan yang menyimpan permata di lembaran-lembaran buku yang dibaca dan dihayati. Kemudian direnungi dengan kebeningan jiwa yang diasah, dirawat, dijaga oleh pikiran-pikiran sehat pembacanya.  

Begitulah cara perpustakaan menyinari dunia dengan ilmu pengetahuan. Sebuah pencapaian besar yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Saat ini, penikmat buku dan apapun yang berhubungan dengan literasi, dapat mengakses informasi apapun tanpa batas. Sebuah Langkah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dari Alexandria mercusuar ilmu menyapa dunia.


[1] Baca, Andrew Pettegree dan Arthur Der Weduwen, The Library; A Fragile History, hal. 471

Postingan terkait

Hakekat “Kritik” dalam Sastra Indonesia

Sofian Hadi

Mereka Dikubur oleh Sebongkah Keserakahan

Sofian Hadi

Literasi GenRe Desa: Remaja Lotim Diajak Paham Triad GenRe

Sofian Hadi

Ayat-Ayat Cinta: Sebuah Revolusi. Bagian Tiga Selesai

Sofian Hadi

Mengenal Teori Grafologi dalam Literasi Menulis

Sofian Hadi

Resensi Buku Jalan Nabi 1: Mengungkap Tabir Zaman Keemasan

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page