Nasional

Akibat Manusia-Manusia Serakah, Indonesia Dilanda Musibah dan Bencana

“Hari ini, alam berseru membawa jeritan. Gunung menguap, asap mengepul. Angin menerjang, membelah. Laut merangkak menerkam. Hutan mengirim pesan mengerikan. Apakah manusia mengira mereka hidup seenaknya saja di dunia?”_ Fadhil Sofian Hadi


Tahun 2001, terbit buku judulnya Lâ Tahzân (Jangan Bersedih). Buku karya ulama Timur Tengah ini menjadi best sellers di Indonesia. Sepertinya, Sang Penulis Dr. Aid Abdullah al-Qarni mengirim pesan tersirat untuk dunia dengan mengatakan “jangan putus asa! Masih ada Allah.” Jangan bersedih Allah bersama kita.” 

Waktu terus berputar, roda hidup kian erat berkelindan. Manusia menyaksikan betapa dunia ini seolah-olah tidak dihiraukan. Manusia satu merasa superior dari manusia lain. Satu bangsa merasa berkuasa atas bangsa lainnya. Pesan dan peran Tuhan seolah termarginalkan.

Manusia tidak sadar, akan kekuatan pada dirinya. Merasa super, padahal tidak punya daya upaya. Kesombongan timbul, kemudian menjadi keserakahan. Keserakahan menjelma menjadikan manusia melakukan apapun untuk kepuasan dan nafsu dalam dirinya.

Saat ini, belahan dunia terguncang. Perang berkecamuk. Pembunuhan, pembantaian, perebutan kekuasaan kian tidak terbendung. Saling bunuh tak terhindarkan. Korban perang berjatuhan. Jerit kepedihan, penderitaan menggema di sudut-sudut negeri. Keserakahan dan kekuasaan benar-benar membuat manusia seperti ‘binatang’ buas yang mengerikan.

Sungguh tidak dapat dibayangkan, betapa manusia benar-benar telah menjadi liar. Akal, sebagai pembeda antara dirinya dan binatang melata, tidak lagi dipandang sebagai ‘anugerah’ pemberian Tuhan. Sebaliknya, akal dipakai untuk menipu serta melupakan Tuhan. Naû’zubillah  

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”

Demikian bait lirik lagu Ebit G. Ade. Pesan singkat sarat makna. Sindiran untuk manusia yang lupa dengan tingkah pongah-nya. Sumringah dengan dosa-dosa-nya. Hak hidup dipakai untuk kesombongan, penindasan, dan keserakahan.

Di Indonesia, negeri kaya raya, subur makmur, aman tentram. Riak kesombongan segelintir manusia telah sampai pada puncaknya. Alam muak menyaksikan. Laut, gunung, bukit, hutan juga muak, melihat ke-pongah-an manusia. Alam hendak menghancurkan kepongahan itu.

Hari ini, alam berseru membawa jeritan. Gunung menguap, asap mengepul. Angin menerjang, membelah. Laut merangkak menerkam. Hutan mengirim pesan mengerikan. Apakah manusia mengira mereka hidup seenaknya saja di dunia.? Apakah mereka mengira makhluk diam itu lemah?

Sungguh mereka salah besar. Air memang tak bertulang. Angin memang tak terbaca. Gunung memang tak bersuara. Tapi, jika Tuhan memberikan perintah, mereka akan menggulung, menerjang, meluluhlantakkan bumi dan se-isinya. Suara mereka bahkan lebih keras dari teriakan apapun. Gema yang menakutkan dan gemuruh yang mengerikan.

Kemudian datanglah seruan Tuhan:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum Ayat 41)

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, menerangkan makna ayat ini bahwa; Telah tampak kerusakan di berbagai hal seperti kegersangan, kekeringan, kebakaran, banjir, penyakit, kegelisahan dan ditawan oleh musuh akibat kemaksiatan dan dosa manusia. Supaya Allah membuat mereka merasakan balasan dari sebagian perbuatan mereka di dunia sebelum dihukum di akhirat dan supaya mereka bisa kembali dari kemaksiatan mereka dan bertaubat atas dosa-dosa (mereka). 

Saat ini,  sudut pulau di Indonesia ‘banjir’ dengan ungkapan doa dan harapan.

Pray  for Sumatera.

Pray for Lumajang.

Pray for Jakarta.

Pray for Sulawesi.

Namun, adakah kita pahami bahwa ungkapan tersebut merupakan rintihan akibat keserakahan. Buah kezaliman dan puncak ketamakan manusia. Mereka mengeruk bumi. Membabat hutan.  Kini, gunung, bukit, laut beserta bala tentaranya siap berbalik menghancurkan keserakahan manusia. Deminkian peringatan Allah, untuk menyadarkan manusia-manusia congkak dan pongah itu.

Atas maraknya mara bahaya dan mala petaka yang melanda Indonesia, kini sesal tiada guna. Ratapan pun mampu mencegah. Hanya do’a-doa dalam diam terpanjat untuk kebaikan negeri ini. Pada saatnya nanti manusia serakah itu akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Kembali kita memohon dan menguatkan asa, bahwa masih ada harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Masih ada celah berbaik sangka kepada Allah. Laa Tahzan (jangan bersedih) Allah bersama kita.

Semoga Indonesia lekas sehat. Para pemimpin dan pejabat berbenah memperbaiki diri dari kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

,Para korban banjir, korban letusan merapi, korban gempa dan sunami semoga dikuatkan hati dan iman mereka. Diberikan ketabahan dan kesabaran atas musibah yang menimpa mereka. Amiin ya rabbal alamîîn

Wallahua’lâm bish shawââb   

Postingan terkait

Hari Santri: Manifesto Jihad Ulama dan Santri

Sofian Hadi

Jangan Lewatkan! Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Meraih Lailatul Qadar

Sofian Hadi

Mengulik 3 Dimensi Spiritual Dzulhijjah: Arafah, Nahar (Qurban) dan Tasyriq

M. Syarif Hidayatullah

Refleksi: Hari Jadi Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Ke-22

Sofian Hadi

Sejarah Singkat Kerajaan Tambora (Abad ke-16 – 1816)

Sofian Hadi

Nasihat Ibadah dan Akhlaq Grand Syekh Al-Azhar: Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page