HikmahIlmu

Beramal Juga Perlu Selingan antara Dunia dan Akhirat: Rahasia Hidup Tanpa Kepalsuan

Pernahkah Anda merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh Hanzhalah?

Ketika mendengar ceramah yang menggetarkan, menyaksikan tausiyah yang membakar jiwa, atau berada di majelis ilmu yang membuat hati bergetar-Anda merasa seakan-akan surga dan neraka benar-benar nyata di depan mata. Anda menangis. Anda bertekad bulat untuk menjadi hamba yang lebih baik. Anda merasa iman Anda setinggi langit ketujuh.

Tapi kemudian Anda pulang.

Anak-anak memanggil. Pasangan berbicara tentang keperluan rumah tangga. Pekerjaan menumpuk. Tagihan menanti. Dan perlahan, seperti kabut pagi yang sirna oleh matahari, semangat itu menguap. Anda kembali pada kebiasaan lama. Lalu hati kecil berbisik dengan pedih, “Apa aku ini munafik?”

Hanzhalah bin Ar-Rabi’, sahabat sekaligus juru tulis Rasulullah, pernah mengalami momen yang persis sama. Suatu hari beliau bertemu dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, lantas dengan jujur beliau berkata, “Hanzhalah telah menjadi munafik.”

Abu Bakar kaget. “Subhanallah, apa yang kau katakan?”

“Ketika kami bersama Rasulullah,” jelas Hanzhalah, “beliau mengingatkan kami tentang surga dan neraka, seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tapi ketika kami keluar dari sisi beliau, kami bergumul dengan istri, anak, dan urusan dunia. Kami melupakan banyak hal.”

Lalu Abu Bakar, sahabat yang kelak menjadi khalifah pertama itu, menjawab dengan kalimat yang mengejutkan: “Demi Allah, aku juga merasakan hal yang sama.”

Subhanallah.

Ternyata, bukan Hanzhalah saja yang merasakan kegelisahan ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq-sahabat yang dijamin surga-juga merasakannya. Bahkan mungkin setiap mukmin yang jujur pada dirinya sendiri pernah merasakan hal yang sama.

Lalu mereka berdua mendatangi Rasulullah. Dan disitulah Nabi memberikan obat bagi kegelisahan yang paling dalam.

Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً، سَاعَةً وَسَاعَةً، سَاعَةً وَسَاعَةً

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus berada dalam keadaan seperti ketika kalian bersamaku dan dalam keadaan berzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, satu jam dan satu jam. Satu jam dan satu jam. Satu jam dan satu jam.” (HR. Muslim, Kitab At-Taubah, Bab Fadhl Ad-Dawam ‘Ala Al-‘Amal, no. 2750)

Bayangkan. Jika kita mampu mempertahankan kondisi spiritual puncak itu setiap saat, malaikat akan bersalaman dengan kita. Sebuah kehormatan yang luar biasa. Sebuah pencapaian spiritual yang tertinggi.

Tapi kemudian Nabi melanjutkan kalimatnya. Dan inilah kalimat yang mengubah segalanya: saa’atan wa saa’atan.

Nabi mengulanginya tiga kali. Seolah ingin memahat maknanya ke dalam relung jiwa.

Apa arti saa’atan wa saa’atan?

Artinya: satu jam untuk Tuhan, satu jam untuk dunia. Satu jam untuk beribadah dengan penuh konsentrasi, satu jam untuk bergumul dengan keluarga dan pekerjaan. Satu jam untuk meraih akhirat, satu jam untuk mengurus yang fana.

Bukan berarti kita membagi waktu secara kaku seperti jadwal pelajaran. Tapi ini adalah prinsip keseimbangan: bahwa kehidupan spiritual yang sehat tidak mengenal istilah “semua atau tidak sama sekali”.

Jangan anda kira bahwa anda harus selalu berada di puncak spiritual setiap detiknya. Jangan anda sangka bahwa rasa lelah setelah mengurus anak dan pasangan adalah kemunafikan. Jangan anda duga bahwa kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati dunia yang halal adalah bentuk pengkhianatan pada Tuhan.

Tidak.

Itu adalah sunnatullah. Itu adalah rahmat. Itu adalah cara Allah menjaga hamba-Nya agar tidak patah di tengah jalan.

Karena sesungguhnya, manusia itu lemah. Dan Allah, Tuhan yang Maha Tahu, Maha Paham dengan kelemahan itu. Dia tidak membebani kita untuk selalu berada dalam kondisi spiritual tertinggi setiap saat. Dia hanya meminta kita untuk konsisten, meskipun sedikit.

Satu jam untuk-Nya dengan khusyuk. Satu jam untuk keluarga dengan penuh cinta. Satu jam untuk bekerja dengan amanah. Satu jam untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.

Inilah keseimbangan yang sempurna. Bukan keseimbangan yang menjadikan dunia sama pentingnya dengan akhirat—karena tentu akhirat lebih utama. Tapi ini adalah keseimbangan yang mengakui bahwa untuk mencapai akhirat, kita harus melewati dunia dengan cara yang diridhai.

Ibnu Utsaimin pernah memberikan pelajaran berharga dari hadis ini. Beliau mengatakan bahwa prinsip saa’atan wa saa’atan ini tidak hanya berlaku untuk urusan ibadah dan dunia, tapi juga untuk ilmu. Jika anda bosan mengkaji satu kitab, berpindahlah ke kitab lain. Jika anda merasa jenuh dengan satu disiplin ilmu, selingilah dengan disiplin ilmu yang lain. Karena memaksa diri dalam keadaan jenuh hanya akan membuat anda lari total dari kebaikan.

Begitu pula dalam ibadah. Jika anda merasa lelah dengan shalat malam yang panjang, cukup dengan yang pendek namun konsisten. Jika anda merasa berat membaca Al-Qur’an berjam-jam, cukup dengan beberapa menit tapi istiqamah. Karena Allah lebih mencintai amalan yang sedikit tapi dilakukan terus-menerus, daripada yang banyak tapi putus di tengah jalan.

Coba renungkan sejenak. Mungkin selama ini kita terlalu keras pada diri sendiri. Kita merasa setiap kali iman turun, setiap kali semangat ibadah meredup, setiap kali dunia terasa lebih dekat dari akhira-kita langsung menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan iman kita.

Padahal tidak.

Rasulullah sendiri yang mengajarkan bahwa naik turunnya iman adalah fitrah. Yang penting adalah kita mengatur ritmenya. Ada waktu kita terbang tinggi bersama para malaikat. Ada waktu kita berjalan di bumi bersama anak dan pasangan. Keduanya adalah ibadah selama niatnya benar.

Jangan anda bunuh diri anda dengan rasa bersalah yang berkepanjangan. Jangan anda siksa hati anda dengan tuduhan kemunafikan setiap kali anda sibuk dengan urusan dunia yang halal. Karena justru sikap ekstrem yang tidak seimbang itulah yang sering membuat orang akhirnya meninggalkan agama secara total.

Yang Allah minta dari anda bukanlah menjadi malaikat. Anda bukan malaikat. Anda adalah manusia yang diciptakan dengan segala keterbatasan dan kebutuhan. Yang Allah minta adalah: jadilah manusia yang seimbang. Manusia yang ketika bersama Tuhan, ia hadir dengan sepenuh hati. Dan ketika bersama keluarganya, ia juga hadir dengan sepenuh cinta. Ketika bekerja, ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Ketika beristirahat, ia beristirahat tanpa rasa bersalah.

Karena hidup ini bukan tentang memilih antara dunia atau akhirat. Tapi tentang bagaimana mengelola dunia untuk meraih akhirat.

Saa’atan wa saa’atan.

Satu jam untuk-Nya. Satu jam untuk mereka. Satu jam untuk diri anda.

Maka jadilah manusia yang utuh. Bukan yang terkoyak oleh kegelisahan yang tak bertepi. Karena Rasulullah telah menunjukkan jalannya: keseimbangan yang penuh berkah.

Dan kabar gembiranya? Keseimbangan inilah yang akan membuatmu bertahan lama dalam ketaatan. Bukan dengan sekali terbang tinggi lalu jatuh terpuruk. Tapi dengan langkah kecil yang konsisten, yang pada akhirnya akan membawa kita terbang lebih tinggi daripada yang pernah kita bayangkan.

Wallahu a’lam bish shawaab

Postingan terkait

Sebait Doa Untuk Saudaraku di Bumi Palestina

Sofian Hadi

Perbuatan Ghîbah Dan Kiat Menghindarinya

Sofian Hadi

Perhatikanlah Nasihat Yang Indah Ini: Sabar Adalah Sumber Segala Kebaikan

Sofian Hadi

Hikmah dari Alam: Belajar Ketangguhan dari Pohon

Sofian Hadi

Nasehat Seorang Ayah Kepada Anaknya

Lalu Wawan Febriyanto

Ketika Mereka Ingin Mengucapkan “Syahadat” Jangan Kau Tunda !

Lalu Wawan Febriyanto

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page