Nasional

Sejarah Singkat Kerajaan Tambora (Abad ke-16 – 1816)

Ilmuwan dan budayawan Amerika Serikat dalam bukunya Tambora: The Eruption That Changed the World,” memperkirakan sekitar 1 juta orang yang meninggal ketika itu. _Gillen D’Arcy Wood[1]


Mendengar kata Tambora, kita akan dibawa kepada memori besar tentang dahsyat-nya sebuah letusan Merapi. Para ahli menyebut, letusan Tambora merupakan letusan terbesar sepanjang sejarah. Diperkirakan tragedi terdahsyat terpanjang 10.000 tahun. Begitulah tragedi Tambora digambarkan oleh para sejarawan.

Dengan kekuatan ledakan sekitar 1.000 megaton TNT, ledakan Tambora diperkirakan empat kali lipat lebih dahsyat dari letusan Gunung Karakatau dan enam juta kali letusan bom atom di Hirosima dan Nagasaki, Jepang. Saking dahsyat-nya, letusan Tambora terdengar sejauh 2.500 kilometer dan abu vulkanik-nya jatuh sejauh 1.300 kilometer.

Tidak hanya itu, sejarawan mencatat bahwa lemparan-nya mencapai Afrika. Kegelapan terlihat sejauh 600 kilometer dari puncak. Dengan kekuatan sebesar itu, Tambora mengubah iklim dunia.[2] Bukan-lah sebuah metapora berlebihan untuk digaungkan, tentang letusan Gunung Tambora. Namun, demikianlah fakta dan realita ahli sejarah mencatat-nya.

Kendati demikian, apabila berbicara Tambora tidak hanya terkenal dengan letusannya yang mengubah Iklim dunia. Ada serpihan puzzle sejarah yang tidak kalah penting, yaitu tentang sejarah Kerajaan-nya yakni, Kerajaan Tambora. Sekilas, akan dikisahkan tentang Kerajaan Tambora, sebuah Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-16.

Sekilas Tentang Tambora (Kerajaan)   

Tulisan ini dikutip dari buku “Fakta-Fakta Tentang Lombok dan Sumbawa” karya Manggaukang Raba dan Asnawati. Buku ini terbit tahun 2002, dan pertama kali diterbitkan oleh Yayasan Pembangunan Insan Cita, NTB. Buku ini menjadi rujukan penting, tentang sejarah Kerajaan-Kerajaan yang ada di Nusa Tenggara Barat. Berikut sepintas kisah Kerajaan Tambora.

Kerajaan Tambora, terletak di sebuah Jazirah yang ketiga penjurunya dibatasi oleh laut. Seluruh wilayah kerajaan berada di daerah Gunung Tambora (Gunung Arun).

Kerajaan ini tidak diketahui dengan pasti kapan berdirinya. Namun, dari catatan yang ada, ketika Majapahit runtuh, Tambora sudah mulai dikenal. Dalam perang Buton melawan VOC, Tambora juga ikut bagian, yang menyebabkan rajanya dibuang ke Maluku tahun 1665.

Catatan berbeda, menyebutkan bahwa Tambora pernah merampas sebuah kapal VOC pada tahun 1675. Akibatnya, Holsteijn menghukum Raja Tambora, Kalongkong dan pembesar kerajaan menyerahkan keris pusaka kepada Belanda. Untuk menghadang kekuasaan Tambora, Belanda menjadikan Pekat sebagai kerajaan yang berdaulat dibawah pimpinan Raja Insshied.

Tahun 1687, Raja Tambora, Jamaluddin meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, Bernama Nita-Anuddin. Tahun 1726 Raja Tambora meninggal dunia dan digantikan Abdurrachman yang diambil sumpahnya pada tanggal 27 Desember 1726.

Tahun 1687, Terjadi perang memperebutkan perbatasan antara Dompu dengan Tembora, yang menyebabkan Tambora, harus menyerahkan sebagai wilayah kerajaan kepada Dompu.

Sepeninggal Abdurrachman, diangkat putranya yang Bernama Raja Kadinding. Raja ini diusir oleh Raja dari Makasar yang mengakui dirinya Abdul Said dan mengangkat dirinya menjadi Raja Tambora. Tahun 1750 terjadi juga perang antara Tambora melawan Pekat yang berlanjut kembali pada tahun 1757.

Tahun 1799, terjadi perselisihan antara Dompu dengan Tambora, yang menyebabkan Kompeni harus memerintahkan Dompu untuk memaatuhi keputusan tahun 1748. Yaitu, Dompu harus menyerahkan sepertiga dari tanah sengketa kepada Tambora.

Tahun 1799 Raja Tambora, Abdul Rasyid meninggal dunia dan diganti oleh anak angkat Abdul Said yang kemudian  seteleh menjadi Raja Tambora begelar Abdul Gafur.

Kerajaan Tambora merupakan sebuah kerajaan yang maju. Banyak hasil pertanian dan ternak terutama kuda di datangkan dari Tambora pada tahun 1806-1807. Pendudukan Tambora tahun 1808 berjumlah 4000 jiwa dan pada tahun 1815 menjadi 8000 jiwa.

Waktu gunung Tambora Meletus pada tahun 1815, korban meninggal dari penduduk Tambora sekitar 30 jiwa. Sedangkan sisanya menemui ajal seluruhnya tahun 1816 dilanda banjir lahar. Sejak saat itu,bekas wilayah Tambora itu masuk ke kerajaan Dompu.

Demikian sekilas sejarah Kerajaan Tambora dan semua kisah tentangnya. Banyak spekulasi tentang Tambora. Dan tidak akan pernah lekang oleh masa.

Wallahu’alam bish shawaab


[1]Silakan rujuk, https://www.dw.com/id/apa-hubungan-letusan-tambora-cerita-frankenstein-dan-penemuan-sepeda/a-18365068

[2] Baca, Agung Pribadi, Gara-Gara Indonesia: Dari Sejarah Kita Belajar Untuk Masa Depan. (Depok: AsmaNadia Publishing House, 2013), hlm. 23-25.

Postingan terkait

Nasihat Ibadah dan Akhlaq Grand Syekh Al-Azhar: Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb

Sofian Hadi

Mengulik Sejarah: Tirani Penjajahan Masyarakat Pribumi

Sofian Hadi

Momentum Tahun Baru Masehi: Refleksi Muhasabah dan Tazkirah Agar Menjadi Pribadi Lebih Baik

Sofian Hadi

Darul Arqam Dasar (DAD) Gerbang Kaderisasi IMM yang Harus Dijaga

Fiqri Rabuna

Jangan Sampai Puasamu Sia-Sia! Hindari 7 Kesalahan Ini

Sofian Hadi

Bupati Sumbawa Barat Membuka Rapat Kordinasi Antar Daerah (RAKORDA) MUI ke-14 Provinsi NTB: KSB Sebagai Tuan Rumah

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page