HikmahIlmu

Menyelami Samudra Silaturahim dalam Cahaya Al-Qur’an dan Hadits 🤝

Ada satu jalinan yang jika kita sambung, Allah pun menyambung kasih sayang-Nya kepada kita. Dan ada satu hubungan yang jika kita putuskan, maka terputus pula keberkahan hidup yang tak terkira. Ia adalah silaturahim, sebuah istilah yang begitu akrab di telinga, namun kadang begitu berat untuk dijalankan.

Sebab menjaga hubungan dengan orang lain, terutama yang pernah melukai, membutuhkan kelapangan jiwa yang tidak semua orang memilikinya. Namun, jika kita mau menyelami lautan petunjuk Ilahi, kita akan temukan bahwa silaturahim bukan sekadar ajaran moral, melainkan fondasi utama bagi tegaknya keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Allah SWT, dalam firman-Nya yang agung, memerintahkan kita untuk bertakwa kepada-Nya, dan dalam satu tarikan nafas yang sama, memerintahkan kita untuk menyambung hubungan silaturahim. Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama makhluk tidak dapat dipisahkan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai manusia!Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahim). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna wal-ar-ḥām dalam ayat ini adalah perintah untuk menyambung tali kekeluargaan. Allah mengingatkan kita bahwa kita semua berasal dari satu nenek moyang yang sama, Adam dan Hawa.

Karenanya, memutuskan hubungan dengan saudara sendiri, apalagi yang masih memiliki ikatan darah, sejatinya adalah memutuskan jalinan yang Allah sendiri perintahkan untuk disambung. Lebih dari itu, Allah mengawasi setiap usaha kita, apakah kita berusaha memelihara ikatan itu atau justru merusaknya.

Ayat ini juga mengajarkan sebuah etika luhur dalam bertutur. Di sebagian masyarakat Arab, ketika mereka saling meminta, mereka mengucapkan, “Aku memohon kepada Allah, kemudian aku memohon kepadamu demi hubungan kekerabatan.” Maka Allah mengajarkan bahwa permohonan dengan wasilah hubungan kekerabatan adalah sesuatu yang agung. Jika manusia saja dihormati dengan cara itu, lalu bagaimana mungkin kita sendiri yang mengabaikan hubungan tersebut?

Allah kemudian menegaskan kembali tentang siapa saja yang berhak mendapatkan jaminan dari-Nya. Dalam Surat ar-Ra’d, Allah menjelaskan tentang orang-orang yang memenuhi janji dengan Allah dan tidak merusak perjanjian, lalu Dia sebutkan satu sifat utama mereka:

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan,dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21)

Para mufasir, termasuk Imam Al-Qurthubi, menyebutkan bahwa makna mā amarallāhu bihī an yūṣala mencakup banyak hal: iman kepada para Nabi, hubungan dengan Allah melalui ibadah, dan yang paling utama adalah hubungan silaturahim.

Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang beriman sejati adalah mereka yang selalu berusaha menjalin dan menyambung apa yang Allah perintahkan, meskipun itu berat. Mereka takut jika hubungan itu putus, maka akan ada hisab yang buruk menanti. Ini adalah peringatan sekaligus motivasi agar kita tidak pernah lelah untuk menjadi penghubung, bukan pemutus.

Allah bahkan mengaitkan keberkahan rezeki dan umur dengan jalinan silaturahim. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman melalui sabda Rasulullah ﷺ:

الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ اللَّهُ: مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

“Rahim(kekerabatan) itu berasal dari Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Maka Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang menyambungmu, niscaya Aku akan menyambungnya (dengan rahmat-Ku). Dan barangsiapa yang memutuskanmu, niscaya Aku akan memutuskannya (dari rahmat-Ku).’(HR. Bukhari)

Subhanallah, dalam hadits ini Allah menyebut rahim sebagai sesuatu yang “bergantung” kepada nama-Nya, Ar-Rahman. Ini menunjukkan kemuliaan yang luar biasa. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna “syijnah” adalah hubungan kekerabatan yang terjalin karena berasal dari satu asal, dan ia memiliki keterkaitan khusus dengan sifat kasih sayang Allah.

Siapa yang menyambungnya, Allah akan menyambungnya dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Siapa yang memutuskannya, Allah akan memutuskan berbagai kebaikan darinya. Maka, silaturahim bukan hanya urusan adat, ia adalah urusan langit yang dampaknya nyata dalam kehidupan.

Rasulullah ﷺ, sebagai penjelas Al-Qur’an, memberikan detail yang begitu indah tentang keutamaan silaturahim. Beliau bersabda dalam sebuah hadits yang sangat populer:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sering kita dengar, namun kadang kita lupa bahwa “dipanjangkan umurnya” bisa dimaknai dengan keberkahan waktu, sehingga waktu yang singkat terasa cukup untuk berbuat banyak kebaikan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna yunsa’a lahū fī aṡarihī adalah diberkahi dalam usianya, serta ditolong untuk memanfaatkan umurnya dalam ketaatan, menjaga hubungan baik dengan keluarga, dan dampak baiknya akan dikenang setelah ia tiada. Silaturahim ternyata tidak hanya memberi manfaat material seperti rezeki, tetapi juga manfaat spiritual yang abadi.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan betapa agungnya kedudukan orang yang menyambung silaturahim di hadapan Allah. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ، حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ، قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ: هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعَةِ. قَالَ: نَعَمْ، أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَاكِ لَكِ

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk.Setelah selesai, bangkitlah rahim (hubungan kekerabatan) seraya berkata: ‘Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan (hubungan).’ Allah berfirman: ‘Ya, tidakkah engkau rela bahwa Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusammu?’ Rahim menjawab: ‘Ya, aku rela.’ Allah berfirman: ‘Itulah hakmu.’(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggambarkan sebuah dialog yang agung antara Allah dan rahim. Rahim memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Ia menjadi saksi bagi mereka yang menjaganya dan penuntut bagi mereka yang memutuskannya. Ini adalah peringatan keras bahwa memutus silaturahim bukan sekadar dosa sosial, tetapi dosa yang menarik murka Allah secara langsung.

Bahkan, Rasulullah ﷺ dengan tegas menyatakan bahwa pelaku pemutus silaturahim tidak akan masuk surga. Ini adalah peringatan yang sangat keras. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Jubair bin Muth’im, beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahim.”

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah ancaman bagi orang yang memutus silaturahim tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Ini menunjukkan bahwa dosa memutus hubungan kekerabatan termasuk dosa besar yang dapat menghalangi seseorang dari surga, atau setidaknya menghalanginya masuk surga bersama orang-orang yang pertama kali masuk, atau ancaman ini akan terealisasi jika ia menghalalkannya. Intinya, ini adalah dosa yang sangat serius.

Maka, apa definisi silaturahim itu sendiri? Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat, aku selalu menyambung mereka, namun mereka justru memutuskan aku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap sabar kepada mereka, namun mereka bersikap bodoh kepadaku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika engkau benar seperti yang engkau katakan,maka seolah-olah engkau menaburkan debu panas ke wajah mereka (mereka yang memutuskanmu). Dan senantiasa Allah akan membantumu mengalahkan mereka selama engkau berada di atas kebenaran.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi mereka yang terus berusaha menyambung silaturahim meskipun diputus. Allah akan menjadi penolongnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa silaturahim yang hakiki bukanlah hubungan timbal balik, melainkan ketika seseorang tetap menyambung meskipun diputus. Karena jika hubungan itu baik dari dua arah, itu baru dinamakan balasan, bukan silaturahim. Puncak silaturahim adalah ketika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.

Di zaman yang serba cepat ini, silaturahim seringkali tereduksi menjadi sekadar ucapan “selamat hari raya” setahun sekali atau sekadar like di media sosial. Padahal esensinya jauh lebih dalam. Silaturahim adalah tentang hadir, tentang memberi perhatian, tentang menanyakan kabar, tentang memaafkan kesalahan, dan tentang menjadi alasan seseorang merasa tidak sendiri di dunia ini. Ia adalah tentang mengulurkan tangan meskipun pernah digigit, dan membuka pintu meskipun pernah ditutup.

Kita mungkin pernah mengalami betapa pahitnya ketika hubungan dengan saudara sendiri terputus. Rumah yang tadinya ramai menjadi sunyi. Meja makan yang tadinya penuh tawa menjadi kosong. Dan di lubuk hati yang paling dalam, ada ruang yang terus menganga, menunggu kata damai. Islam datang untuk mengisi ruang itu dengan kasih sayang yang tak bertepi. Ia mengajarkan kita bahwa memaafkan dan menyambung kembali bukanlah kelemahan, melainkan keberanian yang hanya dimiliki oleh mereka yang yakin akan janji Allah.

Cobalah tengok sejenak buku catatan hati kita. Adakah nama-nama yang sengaja kita hapus karena sakit hati? Adakah panggilan telepon yang tak lagi kita angkat karena ego? Adakah rumah orang tua yang mulai jarang kita kunjungi karena kesibukan yang tak ada habisnya?

Ingatlah, Allah menyebut rahim sebagai sesuatu yang bergantung kepada nama-Nya. Saat kita menyambungnya, kita tengah menggenggam benang kasih Allah. Dan selama benang itu tak putus, maka selama itu pula rahmat dan keberkahan akan mengalir dalam kehidupan kita.

Maka, mari kita jemput kembali benang-benang kasih yang mungkin telah lama terlepas. Sebab sejatinya, silaturahim adalah napas kehidupan yang membuat dunia ini masih layak untuk dihuni, dan surga menjadi sesuatu yang layak untuk diharapkan.

Wallahu a’lambish shawaab

Postingan terkait

Hikmah dari Alam: Belajar Ketangguhan dari Pohon

Sofian Hadi

Kiai Amal dan Kami

Sofian Hadi

Nilai Peradaban Islam yang di Rampas

Sofian Hadi

Tiga Munajad Rasulullah Saw

Sofian Hadi

Kontemplasi: Sebuah Refleksi Tadabbur Diri

Sofian Hadi

Malam yang Dirindukan: Antara Rahasia Ilahi dan Tanda-Tanda Alam 

M. Syarif Hidayatullah

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page