Ilmu

Pesan Al-Qur’an: Pengetahuan adalah Ciri Khas Kaum Muslim. Mengkritisi Realitas Paradoks

Kritik keras datang dari Dr. Mustafa Mahmoud terhadap realitas keadaan Muslimin saat ini. Kritik tersebut utamanya diarahkan kepada bangsa Arab. Hal ini dituangkan dalam tema khusus dibukunya Al-Qur’ân Muhâwalah lî fahm ‘Ashrî; (Understanding the Qur’ân; A Contemporary Approach).[1]

Sebuah realitas yang lazim, kaum Muslim saat ini sedang mengalami degaradasi pengetahuan. Padahal, manusia berilmu, berpengetahuan adalah ciri khas masyarakat Muslim. Kaum Muslim dahulunya adalah kaum terpelajar dan terdidik. Terpelajar dan terdidik karena ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh para orang tua, guru-guru serta para ulama’.

Setiap Muslim pada masa itu, selalu di doktrin harus menjadi manusia terbaik. Terbaik ilmu dan akhlaknya. Terbaik pengetahuan dan adabnya. Tentunya, menjadi catatan sejarah, sebelum kemajuan dan dominasi Barat (Eropa), kaum Muslim terlebih dahulu adalah manusia-manusia cerdas, baik secara intelektual maupun spiritual.

Sumbangsih kaum Muslim terhadap kemajuan peradaban dunia tidak bisa dinafikan. Bangsa Eropa berhutang banyak atas beberapa teori ilmu pengetahuan dari kaum Muslim. Akan tetapi, saat ini kaum Muslim terpuruk, tertinggal dalam kebodohan dan kelesuan.

Hal ini menjadi sorotan tajam Dr. Mustafa Mahmoud, ketika membahas tafsîr al-Qur’ânSurat at-Taubâh ayat 105. “Katakanlah! Bekerjalah maka Tuhan akan melihat pekerjaanmu”.

Tiap kali Tuhan menyebutkan kaum mukmin, keimanan mereka dijadikan pendorong atau diasosiasikan dengan bekerja. “Mereka yang beriman dan bekerja dengan baik” merupakan frasa yang sangat umum dalam al-Qur’ân.

Pengulangan kombinasi kata “Iman dan Amal” dimaksudkan agar meningglkan pesan bahwa “tidak ada iman yang benar kecuali disertai dengan amal”. Amal atau perbuatanlah yang merealisasikan niat. Perbuatan adalah bukti nyata dari ketaatan karena kaimanan kepada Tuhan.

Karenanya, menurut Dr. Mahmoud, tidak ada Mukmin yang bodoh, yang ada adalah Mukmin yang cerdas dan berpengetahuan. Namun, kebalikannya saat ini banyak kebodohan menempel, menggrogoti tubuh suci kaum Muslim. Hal ini mendakan, bahwa mereka telah melalikan perintah Allah yang terkandung dalam kalam-Nya yaitu, (al-Qur’ân).

Fenomena ini, menciptakan sebuah problema baru, tentang sebuah penafian terhadap sebuah perintah yang di berikan Allah, namun kaum Muslim tidak mengindahkan perintah untuk beriman dan beramal (bekerja).

Padahal, dengan jelas dan konsisten Allah memerintahkan kita untuk bekerja. Namun ebagian kaum Muslim tidak menjalankan perintah tersebut.

Sebagian mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di kafe-kafe, di tempat karauke, angkringan, nongkrong, bermain, tanpa sedikitpun beban keimanan dalam hati mereka.

Kemudian, Dr. Mahmoud menyinggung tentang majunya orang-orang Eropa karena mereka bekerja dan belajar. Mereka menunjukkan keniginan dan kemauna besar untuk belajar dan bekerja. Sampai-sampai merka rela tidak tidur (begadang) karena ketekunan mereka dalam belajar dan bekerja.

Bukankan kita kaum Muslim yang seharusnya demikian? Bukankan kaum Muslim yang punya Iman dan ketaatan yang harus tekun belajar dan bekerja?

Bukankah kita orang Muslim yang lebih cerdas, terdidik, terpelajar seharusnya rela rela menghabiskan waktu demi ilmu pengetahuan? Sebuah realitas peradoks. Namun itulah yang terjadi sesungguhnya saat ini.

Apabila dibandingkan bangsa Eropa saat ini dengan bangsa Arab, bangsa Eropa lebih tekun, rajin, dan komitmen serta menunjukkan kemauan besar untuk mau belajar dan bekerja. Sebeliknya, bangsa Arab dan masyarakatnya, tenggelam dalam kebodohan dan kemalasan. Tenggelam dalam kemalasan yang hina.

Pesan yang disampaikan oleh Dr. Mustafa Mahmoud, menjadi pemantik bagi kaum Muslim untuk kembali kepada dan mengamalkan isinya. Bukan sekedar untuk dibaca tanpa diamalkan dan dipraktikkan.

Mengenai kemajuan yang dialami bangsa Eropa dibandingkan dengan kaum Muslim, khususnya masyarakat Arab adalah keniscayaan yang sangat memilukan kaum Muslimin.

Semoga Allah menyinari, hati, pikiran dan tindakan kita dengan cahaya petunjukkn-Nya yaitu al-Qur’an. Dan semoga Allah selalu menautkan jiwa dan akal kita untuk selalu taat dalam keimanan, taat dalam belajar mencari ilmu pengetahuan agar kita selalu dekat dengan-Nya. Amiin.

Wallhu’alâm bish showââb


[1] Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Judul: Ketika Baca Al-Qur’an Begitu Mencerdaskan: Dialog Menantang Akal dan Mneyentuh Hati Atas Tema-Tema Terpenting Kehidupan Kita. Diterbitkan oleh Qalam. PT Serambi Semesta. Jakarta, 2016. Lihat Tema Pengetahuan dan Tindakan. Halaman, 153.

Postingan terkait

Fiqih Kurban : Larangan Menjual Kulit Dan Menjadikannya Upah Jagal

Penjelasan Ulama Tentang Aurat Wanita Di Hadapan Mahramnya

Lalu Wawan Febriyanto

Gaya Bahasa Dalam Al-Qur’an Tidak Akan Pernah Salah

Sofian Hadi

Tasyriq: Hari-Hari Menjemur Jiwa di Bawah Sinar Keabadian Tauhid 🌻

M. Syarif Hidayatullah

Harmoni: Antara Ilmu dan Zikir

Sofian Hadi

Sang Pencari Cahaya: Merenung Logika Langit Bersama Nabi Ibrahim

M. Syarif Hidayatullah

1 komentar

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page