Nasional

Pesan dan Nasihat Buya Zul Menjelang Liburan Santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang IIBS

“Ada pesantren salafîyah, baju koko, peci putih, jangan remehkan mereka. Barangkali mereka-lah yang shalatnya khusu’! Ada pesantren tahfîzul Qur’ân, jangan remehkan mereka, yang terus-menerus membaca al-Qur’an. Mereka tidak main HP, tidak nonton TV. Tetapi, mungkin dari lisan-lisan dan zikir mereka-lah yang menyelamatkan Indonesia!”_Dr. KH. Lalu Zulkifli Muhadli,BA.SH.MM


Nasihat Tasyakuran Berakhirnya Ujian Awal Tahun

Kegiatan belajar mengajar awal tahun 2025 di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang telah dilaksanakan. Hal ini ditandai dengan acara Tasyakuran atas berakhirnya ujian awal tahun di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Dr. KH. Lalu. Zulkifli Muhadli, BA. SH. MM, atau biasa dipanggil Buya Zul, dalam acara Tasyakuran ujian awal tahun menyampaikan terima kasih kepada segenap panitia ujian, guru-guru dan kelas 6 akhir KMI yang terlibat secara langsung menyukseskan agenda Pondok.

Turut hadir dalam acara ini Pimpinan Pondok Buya Amir Ma’ruf Husein, S.Pd.I.MM. Pengasuhan KMI Ust. Jajang Haris Andi, SE.M.Pd. Direktur KMI Dr. Ust. Muhammad Mufti Imam Suyanto, S.PdI.MP. Wakil Direktur KMI Ust. Ari Ashari, M.Pd. Ketua Majelis Dewan Guru KMI Ust. Iwan Harwansyah, B.PSc.M.Si. Wakil Ketua Ust. Muhammad Nasrullah, SE. Sy.

Acara berlangsung hikmad. Guru dan para santri larut dalam nuansa gemuruh syukur. Acara tersebut berlangsung di gedung Al-Hambra Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang.  

Ada 3 (tiga) cara orang yang bersukur pesan Buya Zul: Pertama bersyukur kepada Allah Swt karena telah selesai melaksanakan ujian dan bisa menjawab soal. Kedua ada yang bersyukur karena ujian telah selesai, tapi baginya ujian itu biasa-biasa saja.

Ketiga ada yang bersyukur kepada Allah dan sadar bahwa dia harus mempersiapakan diri, setiap hari untuk belajar, walaupun bukan di hari ujian berlangsung. Inilah ciri santri atau santriah yang akan sukses di dalam hidupnya.

Jenis santri ketiga ini adalah santri yang mempunyai tekad sungguh-sungguh untuk terus belajar setiap waktu. Dia selalu berusaha, berniat ingin belajar satiap hari. Bahkan dia sudah mempersiapkan diri untuk belajar ketika nanti dia pulang dari liburan kembali ke Pondok.

Kategori santri ketiga ini yang paham, pentingnya belajar menuntut ilmu. Dia tidak menunggu harus belajar ketika datang masa ujian. Dia sadar harus mempersiapakan ujian dari saat ini. Dia terus bertekad belajar dengan sungguh-sungguh, belajar untuk mencari ridhâ Allah Swt.

Pesan dan Nasehat Sebelum Liburan

Di dalam acara pesan nasihat sebelum liburan santri-santriah Buaya Zul menyinggung beberapa isu terkait yang marak diperbincangkan di media sosial. Kasus liputan dan tanyangan TV Nasional tentang pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Buya Zul menyinggung wartawan media yang meliput berita dan aktivitas santri di pondok Pesantren. Namun anehnya, yang ditayangkan sangat bertolak belakang dengan kegiatan santri di pesantren umumnya.

“Kenapa yang ditampilkan yang negative? Padahal banyak kegiatan positif yang dilakukan santri di Pesantren. Memang sampai saat ini masih ada pihak yang seolah ingin memarginalkan eksistensi Pesantren, masih ada orang yang terlihat anti dengan Pesantrean.! Ungkap Buya Zul.

“Terdapat 42 ribu Pesantren yang ada di Indonesia. Dan itu telah diakui eksistensinya melalui UU No 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Dan pondok Pesantren kita salah satunya. Adanya Pesantren dengan niat lî iqâmiddîn, lî i’lâikalimâtillâh dan ingin mencapai ridhâ Allah Swt.

“Tidak mungkin setiap pondok Pesantren diseragamkan. Karena dipengaruhi tempat, budaya masyarakat dan lainnya. Pondok pesantren punya ciri dan ke khas-an masing-masing. Ada pondok salaf, yang biasanya mengkaji kitab kuning. Ada Pondok Modern dengan dîrâsah islamîyâh-nya dan kurikulum untuk mengintegrasikan Ilmu umum dan ilmu agama.

“Ada pesantren salafîyah, baju koko, peci putih, jangan remehkan mereka. Barangkali mereka-lah yang shalatnya khusu’! Ada pesantren tahfîzul Qur’ân, jangan remehkan mereka, yang terus-menerus membaca al-Qur’an. Mereka tidak main HP, tidak nonton TV. Tetapi, mungkin dari lisan-lisan dan zikir mereka-lah yang menyelamatkan Indonesia!”

Setelah menyinggung tentang isu Pesantren, Buya Zul kemudian melanjutkan dengan penjelasan adâb, etika, akhlaq, sopan-santun, ketika santri nanti libur di rumah dan bermasyarakat. Adab bertamu, mengetuk pintu yang punya rumah, harus mengucapkan salam, dan di posisi mana tamu seharusnya duduk.

Adab berjalan dengan orangtua, tidak boleh berdiri di depan orangtua, berjalan disamping dan tidak boleh terlalu ke belakang. Kemudian adâb makan, tidak boleh mengambil makanan yang jauh dari tempat ia duduk. “Jika di depan piring-mu ikan teri, ya itulah rezeki-mu. Jangan melangkahi, atau berdiri mengambil ayam panggang diujung meja. Ikan teri yang kau makan di depan-mu itulah rezeki-mu, mungkin itu adalah takdir-mu. Disambut gelak tawa para guru dan santri-santriah.

“Cara menjaga nama baik Pesantren adalah, kita tunjukan akhlaq yang baik, kita punya wawasan keilmuan, tidak perlu pamer”. Tegas Buya Zul

Pesan dan nasihat menjelang perpulangan juga disampaikan oleh Direktur KMI, Ust. Dr. Muhammad Mufti Imam Suyanto, S.PdI. MP. Beliau memberikan nasehat terkait dengan interaksi santri melalui media sosial.

“Pasti semua santri-santriah ini mempunyai Facebokk, Instagram, Tik-Tok dan sebagaianya. Jangan sampai memposting sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat oleh orang lain. Apalagi sampai memposting video joget-joget, seperti para konten creator yang ingin terkenal!” Pesan Direkut KMI

Ketua Majelis Dewan Guru KMI Ust. Iwan Harwansyah, B.PSc.M.Si juga menyinggung tentang makna libura bagi santri adalah pembuktian disiplin, akhlaq dan sopan-santun. “Masa liburan adalah pembuktian santri untuk praktik adab, akhlaq dan sopan-santun dan disiplin santri. Jangan sampai merepotkan orangtua.

“Di kening kalian itu tertulis nama Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang. Tegas Ust. Iwan Harwansyah, alumni S1 International Islamic University (IIUM) Kuala Lumpur Malaysia itu.

Tidak ketinggalan juga, Pengasuhan Santri KMI menyampaikan nasihat terkait liburan santri. Beliau menyorot ibadah santri ketika liburan. “Santri jangan sampai lupa mendirikan shalat berjama’ah. Di rumah juga harus mengaji, jangan sedikit-sedikit main HP, nonton Youtube dan lainnya.

“Santri harus berpegang teguh dengan ibadah, syariah dan adâb di tengah-tengah masyarakat. Jangan sampai memalukan almamater pondok kalian!” Teraang Ust. Jajang Haris Andi, SE. M.Pd, selaku Pengasuhan KMI.

Kegiatan tasyakuran dan pesan nasihat ditutp dengan do’a. Sebagai informasi, santri-santriah Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang, akan berlibur dari tanggal 18-26 Oktober, 2025.

Wallahu’alâm bish shawââb

Postingan terkait

Refleksi: Hari Jadi Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Ke-22

Sofian Hadi

Tentang Keadilan Sosial Yang Terluka

Sofian Hadi

Ramadhan Sehat: Panduan Sahur & Berbuka Agar Tubuh Tetap Bugar

Sofian Hadi

Mengulik 3 Dimensi Spiritual Dzulhijjah: Arafah, Nahar (Qurban) dan Tasyriq

M. Syarif Hidayatullah

Nasihat Ibadah dan Akhlaq Grand Syekh Al-Azhar: Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb

Sofian Hadi

Momentum Tahun Baru Masehi: Refleksi Muhasabah dan Tazkirah Agar Menjadi Pribadi Lebih Baik

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page