Khutbah

Khutbah: Menghargai Perbedaan Demi Keberkahan Ramadhan

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ،

أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام

وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه

اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Sidang Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah.

Ramadhan tahun ini menyapa kita dengan dua ketukan waktu yang berbeda. Ada yang bermula sejak 18 Februari, namun tak sedikit yang mengawalinya sejak kamis kemarin. Di balik perbedaan ini, terpancar kemuliaan ukhuwah yang menyatukan hati kita di bawah naungan langit Indonesia, terkhusus di tanah Pariri Lema Bariri, Kabupaten Sumbawa Barat.

Sungguh, keragaman ini bukanlah sekat pemisah, melainkan untaian tasbih kearifan dan kekayaan khazanah keilmuan yang terus kita jaga dengan penuh cinta, sebagai bukti bahwa dalam perbedaan cara, kita tetap sujud mengharap ridha Ilahi yang sama.

Menentukan garis mula ibadah puasa adalah sebuah perjalanan spiritual dalam membaca isyarat alam. Melalui Ru’yatul hilal bi fi’ly, mata dan hati bersatu dalam kekhusyukan untuk menyaksikan lahirnya bulan sabit baru yang mungil di ujung langit. Tradisi suci melihat penampakan hilal secara langsung ini adalah wujud cinta yang bersumber dari wahyu Ilahi dalam Surah Al-Baqarah ayat 189.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji,’ …” (QS. Al-Baqarah : 189)

Hadirin… Ibadah puasa juga dapat dijemput melalui metode Hisab Wujudul Hilal, sebuah seni membaca tanda-tanda Tuhan melalui perhitungan yang presisi. Di sini, kehadiran hilal diakui bukan hanya melalui apa yang tertangkap oleh netra, melainkan melalui kepastian wujud yang memenuhi beberapa syarat tertentu.

Disamping itu ada pula metode Metode KHGT dengan satu matla’ global dengan kriteria tersendiri. Model perhitungan ini disandarkan pada firman Allah SWT dalam surah Yasin ayat 39-40 sebagai berikut :

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin : 39-40)

Sidang Jama’ah Jumat Yang dirahmati Allah

Manakala fajar Ramadhan menyapa dengan rupa yang berbeda antara ketetapan pemimpin dan ijtihad para pecinta ilmu, janganlah kiranya perbedaan itu menjadi sekat yang memisahkan ukhuwah kita. Sebab, di atas setiap sajadah, keduanya bersimpuh pada sumber cahaya yang sama: kalam Ilahi yang suci dan hikmah para ulama yang terpercaya.

Maka, tugas kita yang paling utama adalah menjaga agar beningnya hati tidak ternoda oleh kabut kesombongan, atau merasa diri sebagai pemilik tunggal kebenaran. Jangan sampai lidah yang basah karena zikir, justru menjadi tajam karena merendahkan mereka yang berbeda langkah. Na’udzubillahi min dzalik

Janganlah kiranya bulan yang langitnya berhias ampunan ini berlalu begitu saja, meninggalkan kita dalam kehampaan tanpa sempat mereguk manisnya keberkahan. Alangkah meruginya jiwa yang ikut membasuh diri dalam telaga Ramadhan, namun hanya pulang membawa perihnya lapar dan keringnya dahaga di tenggorokan.

Sungguh, kita tak ingin menjadi musafir yang kelelahan namun tak sampai ke tujuan, termasuk dalam golongan yang pernah diperingatkan oleh lisan suci Rasulullah ﷺ melalui sabdanya yang menggetarkan jiwa

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani).

Sidang Jama’ah jumat yang dirahmati Allah

Islam adalah telaga kedamaian, sebuah risalah Rahmatan lil ’Alamin yang mengharamkan perpecahan dan memuliakan ukhuwah di atas segalanya. Tak ada ruang bagi kebencian dalam sucinya syariat, karena iman sejatinya dibangun di atas landasan cinta dan persaudaraan yang kokoh. Sebagaimana cahaya yang menuntun semesta, Allah SWT telah menegaskan hakikat kasih sayang ini dalam Surah Al-Anbiya 107

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia”

Kaum muslimn yang dirahmati Allah

Di bawah naungan langit Ramadhan yang mulia, marilah kita meluaskan samudera kesabaran dan menjaga benteng hati dari bisikan kelam yang memecah belah. Peluklah setiap perbedaan dengan indahnya saling memaafkan, karena dalam ketulusan memaafkan, iman kita menemukan kesempurnaannya dan takwa mencapai puncaknya. Sebagaimana cahaya bimbingan Ilahi yang terpancar dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat : 10)

Sidang Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah

Semoga Allah Yang Maha Pengasih senantiasa menghiasi setiap hela nafas kita dengan keberkahan, memanjangkan usia dalam naungan ridha-Nya, serta memberikan kesehatan yang prima untuk merajut ibadah di bulan suci ini.

Kiranya Dia membasuh hati kita dengan kesejukan ikhlas, agar setiap sujud dan amal kita melahirkan pribadi yang tak hanya dekat dengan Arasy-Nya secara spiritual (ruhiyyah), namun juga menjadi pancaran kasih bagi sesama melalui kesalehan sosial di tengah masyarakat. Semoga Ramadhan ini menempa kita menjadi insan yang bertakwa seutuhnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِه المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ

 اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Ditulis oleh: Ustadz. Fathurrahman Tulus, S.Sos.I

Ketua PD IPARI KSB, Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Taliwang.


Postingan terkait

Melegalkan Miras Atas Nama Pariwisata Di Kabupaten Fitrah, Haruskah?

Sofian Hadi

Khutbah Jum’at “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”

Sofian Hadi

Khutbah: Masuk Syurga Bersama Rasulullah Saw

Sofian Hadi

Khutbah: Ramadhan, Maksimalkan Potensi Kebaikan Bukan Kemaksiatan

Sofian Hadi

Khutbah Jum’at: Penyakit yang Melanda Umat Muslim Saat Ini

Sofian Hadi

Khutbah: Mengetahui Keutamaan Dan Kemuliaan Hari Jum’at

Sofian Hadi

Tinggalkan Komentar

You cannot copy content of this page