“Hamka boleh dibilang otodidak, pejuang brilliant dengan suara dan jangkauan unik sebagai penulis. Dia berpikir secara terbuka dan tulisannya dibaca secara luas. Jendela ke dunia luar bukan bahasa Belanda, melainkan bahasa Arab yang dipelajarinya sejak kecil atas perintah tegas ayahnya.”_ James R. Rush dalam Hamka’s Great History: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia
Nama Hamka tentunya sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Tokoh dengan nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini telah membuka cakrawala ilmu pengetahuan yang mampu menyedot perhatian para intelektual Indonesia sekaligus memengaruhi para pemikir dan peneliti Barat.
Adalah James Robert Rush seorang peneliti berkebangsaan Amerika yang tersihir oleh kemasyhuran tokoh Hamka. Rush kemudian mencoba mengambil tantangan melakukan penelitian untuk menggali pemikiran, keilmuan, kesusateraan dan pengaruh Hamka di masyarakat Indonesia. Tidak dengan tendensi subjektif, Rush mencoba meneliti Hamka dari beberapa rujukan objektif.
Menurut pengakuannya, Rush tertarik meneliti pemikiran Hamka setelah mengetahui keluasan keilmuan Hamka yang tidak hanya menggema lewat karya sastranya, namun juga tulisan. Gagasan Hamka sukses mencerahkan masyarakat melalui tulisan isu-isu kontemporer wacana keagamaan, aqîdah, tasawauf, filsafat hingga tafsir al-Qur’an.
Mendefinisikan Hamka, sama dengan membaca ensiklopedi pengetahuan yang dibalut dengan aqidah (agama). Pemikiran Hamka melampaui gagasan lokal yang mampu mengurai benang keilmuan secara global. Maka tidak salah kalau Ahmad Syafii Maarif memberi pengakuan; “Hamka adalah sketsa perjalanan waktu yang tetap memukau, menantang dan mengilham kita semua” (baca, hal xviii).
Bagi Rush sang peneliti, sosok Hamka tidak hanya piawai dalam menulis, namun pidato dan ceramahnya mampu memberikan pencerahan bagi pendengarnya. Banyak tokoh atau figure seperti Hamka, namun pada sudut pandang Rush Hamka adalah berbeda. Ketegasan, kecerdasan, keluasan keilmuan Hamka menjadikannya pribadi yang outstanding.
Rush bertemu Hamka tahun 1971-1972. Saat itu Hamka memberikan kuliah tentang pelajaran Bahasa Indonesi di kelas Pascasarjana. Rush melihat Hamka berbeda dari tokoh lainnya. Sebab, dalam pikiran dan gagasannya selalu menginspirasi dan menghidupkan Indonesia.
“Semakin saya menceburkan diri dalam kumpulan karya Hamka entah itu, cerpen, anekdot, kolom konsultasi, sejarah, teologi dan al-Qur’an. Saya memahami Hamka menulis untuk sebuah tujuan besar.” Begitulah pengakuan Rush. (baca, hal.xxiii)
Tidak bisa dipungkiri, ide dan gagsan Hamka yang luas tidak pernah lepas dari tujuan besarnya. Tujuan besar itulah yang kemudian disebut visi Islam Hamka untuk Indonesia modern. Visi Islam inilah yang tidak bisa dipisahkan dari hidup Hamka. Harapan besar untuk Indonesia menjadikan Hamka membuang rasa letih dan payahnya.
Hamka rela menahan kepayahan, keterpurukan, penjarahan bahkan penyiksaan demi sebuah ide dan gagasan besar untuk Indonesia. Jatuh bangun, nikmat sengasara, tidak dijadikan alasan untuk larut dan surut dari visi besar tersebut. Jiwa dan raga Hamka diberikan semata-mata untuk Islam, untuk perjuangan negara yang dicintainya Indonesia.
Rush tidak memungkiri, bagi seorang Barat sepertinya, saat mempelajari tokoh Asia Tenggara, Rush tidak ingin terjebak dalam bayang pemikiran kolonial. Rush mencoba keluar dari sudut pandang jajahan imperium lama. Karena jika Rush terbawa dengan ideologi “isme” nya pasti penelitian ini akan menjadi ‘sampah’ bagi pembaca.
Tujuan dari penelitian Rush tetap pada komitmen awal, yakni melacak pemikiran Hamka yang kokoh dengan corak Islam-nya. Walaupun Hamka datang dan lahir di rahim sebuah desa, namun pikiran, gagasan, ide, dan visi hidupnya menghidupkan jiwa insan perkotaan. Pemikiran Hamka porsinya lebih besar untuk negaranya, Indonesia. Menyelamatkan visi Islam untuk Indonesia adalah kewajiban mutlak yang harus dilakukan.
Hamka, menulis selepas shalat subuh. Mengetik sendiri. Mengulang membaca naskah yang akan dikirim ke media atau percetakan. Dalam setiap goresan tulisannya, Hamka, sealalu menggambarkan Islam sebagai kekuatan besar yang telah membantu setiap individu masyarakat Indonesia. Islam adalah agama yang menentang penjajahan. Hanya Islam-lah yang mampu mendatangkan kemerdekaan dari penjajahan manapun.
Rush menulis buku ini dcngan ketebalan 322 halaman. Menyaring 6 tema besar yang terangkum dalam; 1). Pedoman Masyarakat. 2). Ayah dan Anak. 3) Hamka-San dan Bung Haji. 4). Islam untuk Indonesia. 5). Perang Budaya. 6. Orde Baru. Semua tema yang dipilih Rush memberikan penjabaran kisah hidup Hamka yang berbeda-beda.
Hamka adalah sosok istimewa. Visi besarnya di mana suatu saat Indonesia walaupun dalam banyang-banyang negara modern harus tersinari, dikelilingi oleh nilai-nilai dan ajaran Islam.
Demikian pandangan James R. Rush dalam Adicerita Hamka. Masih banyak penulis yang berbicara tentang Hamka, belum lagi para peneliti muda yang mengurai lebih dalam, tentang pengaruh Hamka dalam skripsi maupun jurnal akadamis di kampus-kampus Indonesia.
Bicara Hamka adalah bicara ilmu, sastra, baca-tulis, keluarga dan yang penting adalah tentang ketangguhan sebuah prinsip.
Wallahua’lam bish shawââb